“Laba-laba kadang membawa kita ke masa lalu, kadang juga ke hal-hal baru.”

Pintu kayu bercat coklat selebar 60 sentimeter itu berderit pelan. Pemandangan pertamaku langsung tertuju ke sarang laba-laba yang menghiasi hampir seluruh sudut tembok dan langit-langit ruangan lantai tiga itu, termasuk yang terkoyak akibat dorongan pintu. Lampu halogen di plafon kunyalakan, satu hidup satu mati. Deretan tujuh halogen yang bergantung melintang di bawahnya pun mati seluruhnya.

Empat lemari kayu di sisi kanan berisi deretan buku-buku cetak yang digunakan ketika kuliah dulu, plus beberapa diktat fotocopy buku cetak. Di atas salah satu lemari, terpajang foto wisudaku, diapit kedua orang tuaku. (Satu-satunya foto wisuda anak mereka di antara kami tujuh bersaudara.) Dan dalam pigura keemasan yang lebih besar, tampak ekspresi berteriak khasku, ketika rafting mengarungi Sungai Cisadane, dulu.

Sebuah kursi kain berwarna coklat muda yang kotor penuh debu. Dua kipas angin, entah masih menyala atau tidak, terletak di bawah jendela kecil yang menghadap ke genteng rumah tetangga. Dan di sudut kiri, terletak sebuah lemari tertutup rapat. Walaupun sudah tahunan tidak membuka lemari yang satu ini, aku tahu persis apa isinya. Album foto-foto jaman dulu. Aku melangkah, membungkuk dan memutar anak kuncinya. Bersiap kembali ke masa lalu.

***

“Pull, Ci…!”, aku berteriak sambil memandang temanku di bawah. Selanjutnya aku terjun bebas. Tidak bebas persisnya, karena seutas tali karmantel masih terikat erat di pinggangku, ditahan temanku di bawah sana. Satu bantingan menghantam ke tebing Kelapa Nunggal, Cibinong dan selanjutnya menyisakan tubuhku tergantung, hanya berjarak satu meter dari tanah. Entah berapa tinggi aku terjatuh, yang pasti akan berakibat fatal tanpa jarak satu meter itu. Pengalaman pertama memanjat tebing, langsung mendapatkan “hadiah” mencekam begitu. Dan satu sisi kaki yang terpincang-pincang akibat hantaman tadi. Tugas berat menanti, meyakinkan orang rumah bahwa “everything is ok”, tanpa harus bercerita detail. Aman. Tidak ada masalah berarti dengan orang rumah, dan dengan kaki. Dan terutama dengan isi kepala. Tidak ada trauma.

Dua tahu berselang, MEGA (Mahasiswa Ekonomi Gemar Alam), organisasi pecinta alam fakultas kami, melakukan Ekspedisi Marathon Panjat Tebing MEGA, memanjat beberapa tebing di Jawa Barat, Tengah, Timur, dan diakhiri di Pulau Bali, tebing Uluwatu, sebelah pura yang terkenal itu. Menjadi bagian dari ekspedisi, merasakan genggaman ke batu-batu kokoh tebing, jatuh (lagi) yang menyisakan bulu-bulu tali menempel di jari-jari tangan teman yang menahannya, memandang bebas puluhan meter vertikal ke bawah dengan hanya seutas tali terikat ke pinggang (sekali waktu, hanya terkait dengan point yang entah pemanjat mana yang telah memasangnya, don’t try this at home). Naik kereta api barang, naik bis AKAP, naik omprengan, singgah dari satu kota ke kota lainnya, berharap sangu dari kenalan-kenalan salah satu petinggi kampus. Menembus malam dari kaki tebing ke Danau Jatiluhur, mengarungi waduk, demi bisa tidur nyenyak tanpa “gangguan”, juga di kaki tebing-tebing lainnya, yang “penghuninya” hobby bermain melempar batu-batu ke atas genteng, di tengah malam. Termasuk, terakhir, saling beradu pandang dengan kawanan kera Uluwatu (yang ternyata sudah nakal sejak dulu), satu species menjaga makanan, species lainnya bersiap merebut.

***

“Hei kamu, ambil meja itu!” Senang juga rasanya, pagi-pagi buta sudah dimintain tolong, di hari pertama masa orientasi kampus – nama halus untuk perploncoan – disuruh seorang senior mengangkat meja. Meletakkannya di ujung lapangan, dan sang senior duduk di atasnya. Meja itu ternyata digunakan untuk “gerbang” para mahasiswa baru masuk ke halaman kampus, merangkak di bawahnya. Dan aku mendapat kehormatan, diperintahkan menjadi “tamu” pertamanya. (Tiba-tiba aku begitu merindukan umpatan Kapten Haddock.)

Botak plontos bergincu merah dengan hanya ada tugas dan hukuman. Tugas dan hukuman. (“Gambar alat vital kalian!” Pedelah untuk urusan satu ini, lengkap dengan ukiran dan gradasinya, alhasil kok malah mendapat hukuman berat? Berguling di lantai dan dipepet menumpuk rapat di sudut ruang. “Memangnya mata, kuping, mulut bukan alat vital?!” Rasanya sampai sekarang pun kalau saya diberi tugas yang sama, percayalah, saya masih akan tetap keukeuh.)

Namun di balik penderitaan selalu ada berkah. Diperhatikan seorang seniorita, ditunjuk menjadi team advance untuk perkemaham mahasiswa baru, setelah masa orientasi itu, mendekatkanku dengan klub pecinta alam yang menangani camping massal itu. Mengikuti pendidikan dasarnya yang berseri, berminggu-minggu, di Gunung Salak dan Situ Lembang, untuk selanjutnya menjadi bagian darinya, di alam dan di kampus, hampir sepanjang masa kuliah empat tahunku. Dan aku selalu percaya, itulah salah satu penggalan terbaik hidupku, itulah yang membentukku, seorang aku saat ini.

***

“Yung…!” Aku meraih dan menarik tangan temanku, setelah sebelumnya sebuah tinjuku menghantam kepala seseorang hingga terjerembab. Kami melompat ke atas undakan tangga, di depan gedung megah di tengah kampus kami. Mungkin ini satu-satunya perkelahian massal yang pernah kualami di kampus, antar fakultas. Berdua kami di atas, di depan puluhan mahasiswa lawan yang ragu untuk menyerbu. Teriakan dan mungkin ekspresi kami cukup untuk menahan mereka.

Tetapi penampilan juga tampaknya menyelamatkan kami. Rambut panjang sepunggung, khas anak pecinta alam, jelas memberikan isyarat tertentu. Anak-anak yang ketika mendaki gunung, memanjat tebing, mengarungi sungai, menelusuri gua, begitu perkasa namun sekaligus pasrah dan berserah kepada kekuatan alam yang maha besar. Hanya takluk kepada alam (ingat, bukan sebaliknya, menaklukkan alam), dan hanya itu. Tidak kepada yang lainnya. Siapapun. Termasuk kepada puluhan lawannya yang tertahan di bawah undakan tangga, hingga akhirnya dibubarkan.

Menjelang akhir kuliah dan bersiap memasuki dunia kerja, aku memotong pendek dan rapih rambutku. Hanya sehari setelah berpenampilan beda, aku melintas jembatan penyeberangan di depan kampusku di Grogol. Malam sekitar pukul delapan. Ibarat Samson yang perkasa dalam rambut gondrongnya dan menjadi lemah setelah dikhianati dan dicukur oleh kekasihnya Delilah, aku tak berdaya ketika dua orang penodong dengan senjata tajamnya menaklukkanku (aku masih ingat gelang kesayanganku yang direnggut.) Hitungan menit kembali ke lokasi dengan teman-teman, beserta kapak dan golok tidak menghasilkan apapun. Gone. Beruntunglah mereka. Beruntunglah kami.

***

Kaosku telah basah kuyup oleh keringat di ruang panas itu. Aku perlu segera turun dan mengganti kaos. Tetapi aku akan kembali. Masih beberapa tumpukan foto dan album yang belum kubuka. Sekali waktu menyenangkan juga kembali ke masa lalu. Dan menjalin kembali cerita satu per satu, dalam ingatan yang sudah mulai terkoyak. Seperti laba-laba yang telaten menjaring kembali sarangnya, setiap kali dikoyak…

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.