Anakku,

Apa kabarmu? Sudah mulai mencairkah salju di belahan bumi sana? Aku dengar kamu kangen soto? Ya ya, enam bulan hidup tanpa soto memang seperti musim dingin tanpa salju. Ini kutitipkan pesan, kalau ada yang tanya asalmu.

NEGERI SOTO

Kenalkan, aku manusia dari negeri soto

Katakan padaku, bagaimana rasanya hidupmu tanpa mengenal soto?

Perfect?!

Argh, kamu belum mengenal soto rupanya

Bersabar ya Nak, semua akan soto pada waktunya.

Aku sedang dalam perjalanan pulang dari Bandung. (Tak ada hubungan dengan soto.) Naik kereta api nyaman, dibanding dua minggu lalu, dengan travel yang sungguh menyiksa. Macet toll dan kaki tertekuk selama lima jam. Lalu lintas toll Cikampek waktu itu mengingatkanku, duapuluh tahun lalu masa bekerja di kawasan industri di Cikarang, toll tersebut adalah jalurku setiap pagi dan sore. Kadang lancar, kadang macet, kadang berhenti, parkir. Setahun seperti itu.

Dan lalu aku teringat satu kejadian.

Pagi itu, seperti biasa, keluar pintu toll Cikarang, di pertigaan aku berbelok ke kiri ke arah pabrik. Melewati jalan aspal bergelombang dengan kiri kanan jalanan terparkir truk-truk besar. Di depan, sebuah truk besar tengah mundur, keluar dari parkirannya, mulai menutupi jalan. Aku menekan klakson mobil kijang yang kukemudikan. Truk tetap mundur, dan aku menekan lebih lama. Truk tetap mundur, dan aku menekan lebih lama lagi. Hingga akhirnya kami berdua samasama berhenti. Stop. Aku lalu melaju perlahan sambil membuka kaca jendela kiriku, memandang tajam ke supir truk, mengangkat jari telunjuk, mengarahkan ke telinga dan mengetuk-ngetuknya. Sang supir tidak kalah tajamnya memandangku, mengangkat jari telunjuknya juga, mengarahkan ke pelipisnya dan mengetuk-ngetuknya juga. Aku melaju. Tetapi merasa ada sesuatu yang salah. Jleb!

Ya, begitulah aku. Atau, begitulah kita. Selalu ingin didengar. Dan selalu ingin diperhatikan. Namun tidak pernah berpikir. Dan tidak pernah mempedulikan orang lain. Jleb banget kan!

Sudah, itu saja surat sekali ini. Tidak mau banyak menulis untuk dibaca (didengar), mau lebih banyak berpikir saja, menyimak quote Yang Mulia Dalai Lama yang indah ini. “When you talk, you are only repeating what you know. When you listen, you learn something new.”

Sambil membayangkan on the way home dari Gambir nanti, mampir dulu di soto tangkar dan sate kuah kegemaranmu itu. Ups!

Bye,

Ayah

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.