“Pak, besok bisa minta waktu ketemu? Sebentar kok, limabelas menit saja?”

Heh! Suara di seberang terdengar renyah. Hmm…

“Urusan apa ya, mBak?”

“Mau menawarkan produk.”

“Mbak, kamu jual produk apa?”

“Kontrak berjangka emas…”

Saya sudah sangat mengurangi menjawab panggilan HP dengan sederet nomor. Tidak tercatat di contact, artinya. Tapi siang itu, perjalanan dari Tomang ke SCBD sedikit tersendat. Lantunan lagu dari radio juga terdengar asing. Bolehlah coba dijawab, walaupun siap dengan tawaran-tawaran. Dan ternyata benar kan? (Jangan takut, saya pakai handsfree, patuh kok, tidak menyetir sambil telephonean, setelah sempat berapa bulan lalu diberhentikan Pak Pulisi. Maafkan Pak, takkan ulangi lagi.)

Teman saya pernah menasehati untuk berlaku ramah terhadap nomornomor tak dikenal itu, mereka kan juga cari makan. Setuju! Tadi itu ramah kok. Walau kadang keramahan itu belum tuntas, dan telephone di seberang sudah dimatikan. Hiks, ramah itu menyakitkan, Kawan.

“Mbak, saya kerja di Bursa Efek Indonesia lho.” (Ups! Maafkan meminjam nama mentereng ini. Mohon izin.) Tapi hasilnya sungguh luar biasa, di luar perkiraan. Si mBak dengan sopan nan ramah mundur teratur, seolaholah kasta satu ketemu kasta lain. Seolaholah ya. Awas gak boleh marah ya, cubit nih kalau marah. Percakapan berakhir happy ending, saling bersalam selamat siang. Cakep!

Lumayan, saya menemukan jawaban ampuh untuk setiap tawaran serupa di masa yang akan datang. Tampaknya. Jalanan masih tersendat, musik radio masih tidak jelas. Saya berpikir lagi, besokbesok kalau ada tawaran KTA (kredit tanpa agunan), saya akan menjawab begini, “Duh mBak, terimakasih tawarannya. Tapi saya tuh investor lho, yang punya dana menganggur. Jadi pastinya gak butuh KTA. Ya kan?”

Hanya berjarak limabelas menit kemudian, HP saya kembali bergetar.

“Siang Pak, saya Ajeng….”

Dan percakapan sama seperti di atas, boleh dicopas kalau mau.

(Déjà vu, (aku/ˌseɪʒɑː ˈvuː/; Perancis pronunciation: [de.ʒa.vy])  dari bahasa Perancis, secara harfiah “pernah dilihat”, adalah fenomena merasakan sensasi kuat bahwa suatu peristiwa atau pengalaman yang saat ini sedang dialami sudah pernah dialami di masa lalu.)

“Jeng, tadi kamu yang telephone juga?”

“Lho, bukan Pak, mungkin yang lain.”

“Oh ok Jeng.”

“Baik Pak, terimakasih. Selamat siang.”

Bah! Jalanan masih tersendat. Musik radio pun tetap tidak jelas.

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.