Saya duduk di sofa, kantor sebuah bank, menyimak serius kalimat demi kalimat hampir tanpa putus dari lawan bicara saya. Tidak satu, tetapi tiga orang. Lengkap dengan coretan-coretan dan formulir isian yang siap disodorkan ke saya untuk ditandatangani. Walaupun ada keraguan di pihak mereka (“Bapak kan mantan di BEI” beberapa kali terucap), namun tampaknya semangat tinggi menjual produk telah mengalahkan keraguan itu. (Dan membutakan kebutuhan sesungguhnya dari seorang konsumen.)

Produk apa? Setorkan sekian USD di tahun pertama hingga tahun kedelapan, untuk diinvestasikan di pasar global. Manfaat dicover asuransi jiwa bernilai tinggi, benefit cash back dan bonus sekian-sekian, plus potensi kenaikan investasi. “Kalau Bapak mau pikirkan dulu, kapan saya hubungi kembali? Minggu depan?”

Tidak. Nope. Dua Nope! Saya tidak tahu intonasi suara saya seperti apa saat itu. Dua alasan saya, Masmas. Pertama, USD saya hanya paspasan untuk bayar tahun pertama, artinya tahun-tahun selanjutnya saya harus konversi IDR kesayangan saya ke USD “hanya” untuk alasan itu? Nope! (Bendera MerahPutih mendadak muncul di kening saya). Kedua, Masmas tampaknya kurang rajin mempelajari pasar modal Indonesia (dan membuka blog NH). Di planet ini, saya terlalu optimis dengan negara yang namanya Indonesia. Dan pasar sahamnya. Jadi, investasi di luar negeri? Nope! (Logo IDX mendadak muncul di kedua pipi saya.)

You were meeting the wrong person.

***

Saya menjadi lapar setelah perbincangan tadi. Bukan karena memeras otak, tapi karena jam makan siang sudah lewat banyak, jam 2 lebih. Menuju parkir mobil di basemen, menaruh dokumen, melihat food court (kantin tepatnya) persis di depan mata. Yuklah!

Juice alpukat seharga sepuluh ribu. (Yang selalu mengeluarkan bunyi “sruuppp” ketika sedotan mencari sisasisa jus yang masih melekat di gelas.) Dan gadogado, plus nasi setengah. (“Pedas ya mBak.” Salah pesan ternyata, seharusnya “Pedas banget banget ya mBak.”) Tapi gak papa, tetap ludes, hanya menyisakan piring anyaman dan kertas coklat untuk alas makanan tadi.

“Tujuhbelas ribu.” Saya mengeluarkan uang selembar sepuluh ribu dan dua lembar lima ribuan, menyerahkan ke mBak GadoGado. Tidak ada kembalian tampaknya, mBak GG menyodorkan kembali lembaran lima ribu ke saya. Sambil tersenyum, matanya seolah mengatakan, “It’s ok”. Membalas senyumnya, saya memandang mBak Gege, mata saya menjawab, “It’s ok juga”. Saya berbalik dan berjalan menuju mobil.

You were meeting the right person.

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.