Anakku,

Tadi pagi Kamu bangun lebih pagi, ke toilet lebih cepat, berangkat lebih awal, supaya tidak terlambat lagi ke sekolah. Pesanmu tadi malam, kalau terlambat seperti kemarin, bisa jadi kamu tidak dimasukkan team di class meetingmu. Ya ya, terlambat kemarin memang menjengkelkan. Macet terhenti dan merambat keong ratusan meter, hanya karena disumbat oleh sepeda-sepeda motor yang melawan arus. (Aku tak mau lagi membicarakan ini, sungguh. Kemarin waktu lewat “sumbatan motormotor” itupun, Aku tak mau menengok. Marah, sedih, frustrasi, semua campur aduk di dada. Temanku mengatakan, bersabarlah, butuh satu generasi untuk memusnahkan manusia-manusia dan perilakunya itu. Baiklah, sabar. Sabar.)

“We shouldn’t try to change people, we should change the world in which people live”, kata Bucky Fuller. Ya sudah, sambil menunggu mereka musnah punah, kita berubah menjadi manusia pagi saja ya. #thanosmanathanos

Tadi pagi, semua seolah berjalan baik. Mobil kita melaju lancar di jalan genap ganjil yang baru saja dimulai jamnya. Berputar balik, melaju dan masuk ke jalan kemarin (dan seharihari kita) yang menghambat kita.

“Sakit!” Aku menggerutu. Lihatlah barisan tumpukan mobil dan motor yang sudah menghadang di depan kita. Cek google-map-mu, Nak, kita dalam masalah lagikah? Tidak Yah, ujung macetnya tidak di sumbatan motormotor pelawan arus di dekat jembatan itu. Ini lebih pendek.

Sebuah mesin, entah mesin apa, yang pasti untuk perbaikan jalan aspal yang tengah digaruk, terparkir di satu lajur jalan. Diam tak bergerak, tanpa penghuni. Menutup satu lajur, menyisakan satu lainnya untuk diperebutkan oleh mobil dan sepeda motor. Ribuan. Ya Nak, ribuan mengantri, Aku tidak hiperbola.

Sebuah keteledoran kecil (haruskah diajarkan?), sebuah ketidakpedulian kecil (mestikah dibiarkan?), sebuah keegoisan kecil (perlukah diingatkan?). Mengakibatkan anakanak sekolah yang terlambat, orangorang kantoran yang kesiangan, “puasa yang terganggu”, bensin yang terbakar sia-sia, pemandangan pagi yang menyakitkan mata dan hati. Dan coba bayangkan efek selanjutnya. Gelap. Suram. Menyedihkan.

(Ketika selesai mengantarmu, kembali ke rumah, mesin itu masih teronggok di tempat yang sama. Ribuan kendaraan mobil dan sepeda motor masih mengantri dan berebut satu lajur yang ada. Aku memandang miris antrian yang bahkan jauh lebih panjang. Jauh jauh lebih panjang, Nak.)

But, wait. Kalau sebuah keteledoran kecil, sebuah ketidakpedulian kecil, sebuah keegoisan kecil, dapat membawa efek berantai demikian buruk dan besar, tidakkah sebuah senyum kecil, sebuah keramahan kecil, sebuah kemurahanhati kecil, juga seharusnya dapat membawa efek berantai baik dan besar?

Salam senyum kecil,

Ayah

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.