“Cairan obat kami mempengaruhi posterior cortical hot zone, salah satu bagian otak manusia, hingga mampu mengarahkan mimpi seseorang. Ingat ketika Anda berbaring? Anda diminta membayangkan hendak menjadi apa, atau hendak melakukan apa. Ya, itu saja. Saya harap Anda sudah mengalaminya pada dua kunjungan Anda sebelumnya.”

Pria itu berhenti sejenak, memandang Fei. Sedikit salah tingkah, Fei menggeser duduk, menegakkan punggungnya, mengangguk kecil.

“Great! Anda bisa memprogram mimpi apa saja sesuai keinginan Anda, bahkan Anda bisa membayangkan menjadi seorang Ronaldo atau Hitler sekalipun.”

Pria tadi tersenyum, seolah baru saja berhasil memenangkan pertempuran yang berat sebelah, sambil meletakkan kacamata tanpa frame-nya di atas meja.

“Sedangkan orang-orang yang Anda temui di mimpi Anda, sepenuhnya ditentukan oleh pikiran bawah sadar Anda. Pikiran di luar kendali sadar Anda, sama seperti misalnya pada saat Anda jatuh cinta. Walaupun kami meyakini bahwa pikiran bawah sadar adalah sesuatu yang pernah kita program, satu saat dahulu.”

Pria berjas biru tua yang menyelipkan uang kertas di kantong sweaternya, tidakkah familiar? Fei berpikir sejenak, apakah itu Adhi, atasan di kantornya? Dia tidak berhasil mengingat apa yang dibisikkannya. Lalu perempuan itu, perempuan dengan sepasang bola mata yang hitam dominan? Fei mengernyitkan dahinya. Tetapi pria di seberangnya sudah melanjutkan lagi.

“Pikiran bawah sadar yang tidak rasional dan tidak logis. Tidak membedakan realitas dan imajinasi. Tidak memahami konsep waktu, dulu sekarang atau masa depan. Namun pintar dan memahami kita, fokus kita. Begitu Pak Fei, semoga menjawab. Atau ada yang masih ingin ditanyakan lagi?”

Fei terpaku, pikirannya berputar-putar, masih berusaha mencerna kata demi kata dari pria itu.

“Terimakasih Pak. Cukup itu saja.”

Fei berdiri, menyodorkan tangannya, tangan yang selalu berkeringat. Jabatan erat dirasakannya dari dokter di hadapannya.

***

Ini kunjungan ketiga, tetapi kali ini Fei hanya meminta waktu untuk berbicara dengan dokter di klinik itu. Wanita berseragam memakai istilah konsultasi, dan Fei menolak kesal, karena dia tidak merasa sakit ataupun terganggu kejiwaannya. Dia hanya mau bertanya dengan salah satu dokter di klinik. Ya, mereka memakai istilah klinik. Entah tepat atau tidak, Fei tidak terlalu memperdulikannya. Buat dia, itu tidak penting. Padahal tadi dia mempermasalahkan istilah bertanya dan konsultasi.

Fei lebih fokus dengan perempuan yang hadir di kedua mimpinya di ruang bangunan itu. Walaupun tadi dia tidak menceritakan sama sekali isi mimpinya. Dia ingin mencari tahu sendiri. Lebih tepatnya, sebenarnya dia malu untuk mengungkapkan mimpi itu kepada siapapun, juga ke dokter klinik itu.

Malam dengan bulan sabit pudar, tanpa taburan bintang. Fei melangkah keluar gedung dengan wajah datar, apa yang bisa diharapkan dari sebuah malam di kota-kota yang penuh polusi, seperti halnya Jakarta. Hanya mengandalkan cahaya-cahaya buatan manusia dari papan-papan reklame raksasa dan gedung-gedung tinggi yang menjulang ke langit. Sudah lama Fei tidak melihat bintang, yang dahulu selalu dinikmatinya paling tidak dua tiga bulan sekali di atas gunung. Sekarang, sejak dua tahun terakhir, sejak lututnya yang retak, dan -dia menyadari ini- terutama sejak Adhi memberinya lebih banyak pekerjaan. Fei tidak menolak, tidak pernah menolak. Bukan tipenya memilih-milih pekerjaan, dan baginya adalah sebuah pengabdian. Bukan kepada Adhi, sang manajer, tetapi kepada perusahaan yang dalam dua tahun terakhir ini memang terus melakukan ekspansi bisnis. Sebagai seorang supervisor bagian akuntansi dan pajak, Fei saat ini menangani empat anak perusahaan sekaligus. Mengandalkan tujuh tahun pengalaman kerjanya di group perusahaan tersebut, sejak lulus dari salah satu perguruan tinggi di Jakarta.

Menenggelamkan kesehariannya di kantor hingga larut, terkadang termasuk hari Sabtu saat seharusnya libur. Sudah tidak berlari, berenangpun tidak rutin setiap minggu. Berenang hanya menunjukkan kelemahan dan kekalahannya, termasuk kepada nasihat dokter. Dunianya hanya kantor dan apartment tipe studionya di kawasan selatan Jakarta, dan jalur MRT yang belakangan ini selalu dinaikinya. Dan di MRT itulah Fei pertama kali membaca iklan di dinding dalam gerbong, yang menawarkan pengalaman untuk dapat menentukan mimpi. Memprogram mimpi. Banyak hal di kepalanya yang ingin dia wujudkan, pun hanya sekedar dalam bentuk sebuah mimpi. Menarik.

Raung gesekan roda-roda baja dan rel MRT terdengar, semakin mendekat. Tidak banyak pengantri di larut malam begini dan juga tidak banyak penumpang yang bergegas keluar gerbong. Fei meletakkan pantatnya, di sebelah bangku untuk disabilitas yang dibiarkan kosong, memandang beberapa orang yang masih lalu lalang di luar gerbong. Seorang perempuan melintas. Fei mengenalinya, perempuan dengan sepasang bola mata yang hitam dominan. Pintu MRT sudah menutup rapat. Kereta bergerak.

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.