“Suami saya sudah sangat senang kalau saya sekadar membawanya ke Indomaret, membeli Chiki atau Chitato. Terkadang dia juga meminta dibelikan es krim di sana…”

Aku menyimak Bu Grab bertutur. Grabku pagi itu dikemudikan oleh seorang wanita, setengah baya, 54 tahun. Setiap subuh selesai sholat, dia menyiapkan handuk dan pakaian ganti untuk suaminya. Menaruh dan melipat kecil beberapa lembar uang puluhan ribu, menaruhnya di bawah mangkuk dan piring kosong, untuk bekal sang suami, untuk sarapan tukang bubur keliling atau membeli nasi uduk di tetangga sebelah rumah, serta makan siang makan malam. Dalam gelap, Bu Grab lalu melaju dengan Avanza berplat A dari kota Serang, dan sekitar pukul enam pagi biasanya sudah tiba di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Setiap hari, juga Sabtu Minggu, karena akhir pekan pesanan antar jemput justru lebih ramai.

Sudah tiga tahun rutinitas ini dia jalani. Awalnya masih banyak berkeliling di daerah Serang, namun persaingan yang tinggi telah mendesaknyanya untuk melintas propinsi, ke Jakarta. Tiga tahun sejak suaminya tak berdaya terkena stroke, yang telah menghentikan usaha kecil keluarganya, dan memaksanya menjalani kehidupan kerasnya hari-hari ini, dengan segala perannya. Menjelajah jalan-jalan lebar hingga gang-gang sempit, gedung megah bertingkat hingga pemukiman kumuh, sejak lalu lintas mulai lengang-ramai-macet-ramai-lengang kembali, hingga pukul 10 malam. (Sepotong jaket tebal berwarna abu tergantung di kursinya.)

“Terkadang sebelum pulang ke rumah, saya harus istirahat tidur dahulu di rest-area, di jok belakang, terkadang juga mandi dulu di sana. Saya tidak mau dalam kondisi sangat lelah ketika memasuki pintu rumah…”

Bersyukur cicilan mobil telah berhasil dilunasi dari jerih payahnya. Bersyukur anak tunggalnya sudah dewasa, sudah bekerja, di salah satu stasiun tv. Bu Grab tidak mau “mengganggu” anaknya, tidak mau tergantung kepada anaknya, membiarkan anaknya menabung untuk dirinya sendiri, menata jalan hidupnya. Hanya kalau sangat terpaksa saja, dia akan meminta tolong anaknya, mengganti ban mobilnya yang telah aus.

Seorang wanita, yang takut kalau tadinya aku menunggu lama; aku tak berhasil memandang utuh wajahnya. Hanya menangkap sisi kiri hijab hitamnya dan kacamata tebalnya. Namun nada suara dan ceritanya sudah cukup untuk menunjukkan jati dirinya. Bersyukurlah suaminya, memiliki seorang wanita penuh kasih.

“Saya hanya menabung pahala. Saya bukan malaikat, terkadang saya butuh istiqomah…”

Malaikatpun butuh istiqomah, Bu.

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

4 replies on “KASIH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.