Aku tidak mengerti apapun di balik semua ini. Segala kemewahan dalam genggaman. Seiring dengan bencana yang datang silih berganti. Kalau semuanya karena benda kecil ini, kalau hanya karena sebuah biji dari pohon ini, aku akan melepaskannya. Jari-jariku gemetar terbuka, biji itu jatuh di antara batu dan tanah, di samping pohon dewandaru di balik pagar besi.


Lima tahun lalu…

Malam baru jatuh, mengusir cahaya senja merangkak pergi. Langit kuning jingga menghitam dan awan yang menggelap. Angin dingin mengalir menabrak hidung, telinga, dan bulu tengkukku. Kurasakan dingin meraba leher belakangku. Menarik napas dalam satu tarikan panjang dan menghembuskannya perlahan. Tidak tenang. Aku membakar sebatang rokok, menyedot dan menghembuskan seperti barusan, hanya saja kali ini melalui mulut. Tubuhku bergetar ringan. Aku tidak berpikir itu akibat dingin. Aku lebih merasa akibat suasana tempat ini. Atau tepatnya nama tempat ini. Nama yang telah lama kudengar. Konon, orang-orang datang hanya dengan satu permintaan, pesugihan. Aku tidak. Aku hanya ingin berkunjung, hanya ingin tahu saja rupa tempat ini. Lain tidak. Sungguh. Seorang teman kantor berbaik hati mengantarku, tamunya dari pusat, setelah selesai rapat di kantor cabang seharian.

Berjalan menapak paving-block menanjak berundak-undak setiap dua meter. Lampu menghias warung dan bangunan padat di kanan kiri. Mencium wangi kembang putih, merah, kuning yang harum di antara tiupan angin malam. Harum khas kembang bukan untuk di atas meja, biasanya di rumah duka atau di samping nisan. Juga bau dupa, yang asap putihnya berlalu cepat di antara gelap dan angin. Ada rasa gentar, tetapi kaki tetap perlu terus melangkah ke atas. Sebuah makam, tujuannya. Tidak jauh, hitungan menit saja telah tampak, dalam keremangan dan pagar besi setinggi dada yang telah terkunci. Sepi, tak tampak pengunjung lain. Kecuali seorang lelaki tengah baya, bertopi koboi seolah menyembunyikan wajahnya yang samar, memandang curiga, dengan sorot aneh dari matanya yang merah. Untungnya dia segera berlalu, meninggalkan komplek kecil itu dalam hening. Memang aku tidak mengharapkan keramaian, tidak mengejar waktu bukanya yang hanya sampai sore. Seperti kukatakan tadi, hanya sekadar ingin tahu. Aku tidak ingin banyak bicara, ataupun bertanya, lebih baik melihat-lihat saja. Juga pada sebatang pohon yang tidak terlalu tinggi, dalam kawalan pagar besi tipis, dan sepotong papan kayu kecil dengan tulisan larangan mengganggu sang pohon, dewandaru.

Seorang lelaki yang sedari tadi mengawasi bersama seorang lainnya, tiba-tiba mendekat dan berteriak pelan, “Pak, barusan jatuh dari pohon. Saya melihatnya, baru saja jatuh. Bapak sungguh sungguh beruntung.” Apa? Aku? Beruntung? Kenapa? Dia segera jongkok, memungut sesuatu, seperti sebuah biji buah, warna cokelat, kecil seukuran kacang hijau. Matanya memandang takjub, nada suaranya tak kalah takjub, “Pinjam uang kertasnya, Pak.” Apa lagi ini? Aku kikuk. Merogoh dompet dan kusodorkan juga uang lima ribuan, dalam kebingungan. Dengan telaten, dia membungkus biji itu, sebuah lipatan origami yang rapih, dan menyodorkan kembali kepadaku. “Sekarang kita ke warung bawah, Pak, saya antar untuk membeli sesajen, untuk sembahyang.”

Aku memandangnya, tak percaya, kejutan demi kejutan yang terus berlanjut. Temannya mendekat, membantu meyakinkanku. Aku hanya sanggup mendengar sepintas, ada kembang, dupa, dan ayam hitam. Dalam keraguan dan kebingungan, temanku menyentuh lenganku, memberi isyarat untuk abaikan saja, dan mengajak berjalan menuruni kembali tangga. Keduanya mengiringi beberapa langkah di belakang kami, masih dengan ajakannya untuk mampir ke warung membeli perlengkapan sembahyang, menuntaskan ritual biji yang jatuh tadi. Aku terus melangkah, tidak berminat lagi menengok kiri kanan. Harum kembang tiba-tiba terasa lebih tajam, bau dupa seolah berhembus dari dunia lain. Aku mempercepat langkah, meninggalkan kedua lelaki yang akhirnya menghentikan kejarannya.

Sebelum naik ke mobil, aku berpaling ke temanku, “Mesti diapakan ini?”, sambil memperlihatkan lipatan uang dengan tonjolan biji di dalamnya. Sekilas temanku tersenyum, “Simpan saja, Pak. Siapa tahu benar bisa jadi pesugihan.”

Raungan ambulance terdengar sayup ketika mobil kami mulai bergerak keluar dari area parkir. Berbelok kiri ke jalan raya, kendaraan kami merambat. Suara sirine telah hilang, tampak kerumunan di depan, dan sebuah mobil Innova ringsek yang terbalik. Aku merendahkan kaca, “Kecelakaan, Mas?” Seorang di atas motor berboncengan mengiyakan, “Kecelakaan tunggal, Mas, ngebut nabrak pohon, korban meninggal di tempat.” Aku menaikkan kembali jendela, memperhatikan pecahan kaca yang berkeping-keping, darah segar yang masih berceceran di aspal, dan sebuah topi yang tergeletak. Topi koboi. Rasanya aku mengenalinya.


Lima tahun lalu, sembilan puluh tiga menit sebelumnya…

Pria paruh baya, dari balik topi koboi coklat tuanya, mengamati lima pengunjung yang masih bertahan. Ada yang melipat tangan, ada yang menengadahkan tangan, ada yang hanya berdiri tegak mematung. Tampaknya semua tengah berdoa atau apapun istilahnya, entah sedang memohon apa. Mungkin harta, mungkin jodoh, mungkin anak, mungkin jabatan, mungkin sekadar selamat. Pria itu mengambil jarak di pinggir, menunggu satu per satu mereka meninggalkan komplek, menuruni anak tangga. Matahari mulai tenggelam, lampu-lampu mulai dinyalakan, namun tidak cukup terang, hanya menghasilkan remang, memancarkan kemuraman. Dia merogoh saku kiri jaket jeansnya, mengeluarkan selembar uang kertas seribuan kusam yang terlipat, membukanya hati-hati dan mengambil isinya. Sebuah biji buah pohon dewandaru.

Enam tahun lalu, pertama kali dia datang ke komplek ini. Iseng-iseng, namun juga menaruh harapan. Siapa tahu memang benar kata-kata orang, dia bisa mendapatkan sesuatu di sini, atau meraih sesuatu sekembali dari sini. Jabatan. Dia bosan menjadi bawahan di instansinya, bertahun-tahun, biji semangka yang dilepeh, keset sepatu berlumpur atasannya. Dia jera, dia mengutuk, dia dendam. Dan di depan pohon itu, dia ingin berdoa. Tetapi bagaimana caranya? Mencampuradukkan kepercayaan satu dengan yang lain? Keraguan masih menggerayanginya, ketika dia menyadari ada yang bergerak. Seorang lelaki bergegas menghampiri, jongkok di depannya, meraih dari balik pagar sebuah biji di atas tanah. Pria bertopi koboi itu memperhatikannya membungkus benda kecil itu dengan uang kertas seribuan, yang kemudian diserahkan kepadanya. Sedikit perbincangan dan mereka berjalan mengarah ke warung, membeli bahan sembahyang, paket lengkap, termasuk kurban seekor ayam jantan hitam.

Setelahnya, setiap tahun, dia kembali untuk melakukan ritual yang sama, dengan bobot lebih mahal tentunya, seiring dengan kenaikan melesat pangkatnya di kantor, seiring lancarnya aliran uang -sah maupun tidak- ke rekening banknya, seiring seolah wanita tak ada habis-habisnya disodorkan. Namun juga seiring dari tahun ke tahun, anggota keluarganya meninggal dunia, satu per satu. Ibunya, istrinya, sulung jagoannya. Karena sakit, karena terjatuh, karena kecelakaan. Hingga yang terakhir, ketika putri semata wayangnya meninggal tanpa sebab, seolah dia baru rela sadar, baru dipaksa mengakui, baru terjaga bangun dari tidur panjang. Sesuatu yang tidak wajar, di balik semua yang telah diperoleh. Pikiran yang mengganggunya, mimpi yang menghantuinya, yang membuatnya nyaris gila. Dia percaya dengan kemurahan segala rezeki yang diraihnya, tetapi dia juga dipaksa menelan satu demi satu kemalangan ini. Tumbal, benarkah?

Ayunan nasib yang awalnya seolah berpihak kepadanya, tapi tidak setelah waktu berjalan, jarum pendulum perlahan meninggalkannya, mencampakkannya, dan membunuh semua yang bernyawa miliknya. Tersisa dia, dan anjing husky-nya. Dan dia tidak mau salah satu di antaranya berada di urutan berikutnya. Dia merasa ada yang harus dilepaskan, dan dia merasa itu adalah benda yang bertahun-tahun selalu tersimpan di dompetnya.

Melangkah perlahan, dengan tangan erat tergenggam, dan sebuah biji dewandaru di dalamnya. Kakinya gemetar, tangannya gemetar, rahangnya kencang, kedutan berulang di kelopak atas matanya, dengan butir air yang menggenanginya. Jari-jarinya gemetar terbuka, biji itu jatuh di antara batu dan tanah, di samping pohon dewandaru di balik pagar besi.

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

2 replies on “DEWANDARU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.