137.000 38.000 18.000. Itu adalah tiga angka-angka berderet di layar HP yang diperlihatkan, pemasukan tiga hari terakhir, seorang pengemudi online. Kami bertemu di sebuah pom bensin, di sudut bagian isi angin, obrolan singkat. Saya tambah angin, dia menambal bocor ban mobilnya yang telah gundul. (Kadang bahkan angka-angka di layar kosong sama sekali. Boro-boro ada sisa untuk belanja keperluan rumah, untuk isi bensin pun nombok.)

Ini hanya salah satu sepotong kisah sedih, dan tentu saja masih banyak cerita serupa lainnya kita dengar, bahkan lebih mengenaskan. Wabah ini telah menyerang tidak hanya ke paru-paru, namun ke sendi-sendi penghidupan. Menggerus pemasukan harian dan bulanan, mengikis perlahan tabungan bulanan yang hanya tersisa hitungan jari, melumat habis apapun yang masih bisa digadaikan.


Hari-hari ini kemanusiaan kita tengah diuji; dalam skala yang lebih minor, adalah kepatuhan dan ketidaksombongan kita. Bela kemanusiaan kita tidaklah diminta ke medan pertempuran hidup dan mati, serahkan kepada para ahlinya di sana. Bela kemanusiaan kita hanyalah diminta patuh. Sesederhana itu. Tanggalkan apapun, ya apapun, karena tidak ada yang lebih penting dari kemanusiaan. Tidak ada. (Kalau sanak saudara kita yang manusia fana saja memaklumi kita untuk tidak berkunjung, masak Tuhan Yang Maha Pengasih kita tidak?)

Kesombongan adalah salah satu bagian dari tujuh dosa mematikan, akibat dari mementingkan-diri-sendiri, bentuk ketakutan akan wajah sesungguhnya. Dan mungkin seperti kata Al Pacino, menjadi dosa yang paling favorit di antara umat manusia. Padahal kesombongan tidak menghasilkan apapun dalam jangka panjang, kesiasiaan; sebaliknya -harihari ini- ketidaksombongan akan membantu banyak orang terselamatkan, dari paru-paru yang rusak dan dari sendi-sendi penghidupan yang tersendat.

Kita bisa membantu angka-angka di awal tulisan tadi menjadi lebih besar, lebih baik. Namun juga bisa menyebabkannya berkedip lemah dan perlahan mati. Pada akhirnya, bukankah setiap kita-kitalah yang berperan menyudahi krisis ini? Ya, asalkan tidak sombong. Dan baik hati.

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.