Bad news is good news.
Good news is no news.

Dalam sebuah video singkat, Charles Groenhuijsen, seorang penulis dan jurnalis senior, berbicara gamblang, mengkritik media yang beraliran “good news is no news”. Media yang seyogianya merupakan cermin untuk kita melihat dunia, telah dibuat berkabut, selalu menyajikan sisi negatif dari kehidupan dan dunia. Kita seharusnya bersikap optimis atas segala capaian umat manusia; berkurangnya kemiskinan, menurunnya kematian anak-anak, meningkatnya harapan hidup. Namun, jurnalisme menjelma laksana orang tua yang salah mengasuh anak-anaknya, yang selalu berteriak “salah dan salah”. Akan seperti apakah jadinya mereka? Sosok yang menderita, sosok yang selalu negatif, dan mungkin pula sosok pemarah. Begitulah media menyajikan wajah dunia, yang selalu tampak buruk, yang menyebabkan kita selalu melihat sisi-sisi negatif, ketakutan dan amarah dari dunia dan kehidupan.

I would go for the opposite. Amplify the good. Without forgetting the bad. People should realize that being pessimistic about the world is a choice, but optimistic is a choice as well. It gives more energy. And eventually, with that kind of energy, we can make a better world…

(Era digital ini, peran media bukan lagi hanya monopoli media massa seperti yang kita ketahui pada umumnya. Setiap kita telah juga mengambil alih peran itu, melalui media sosial, membuat tulisan, mengutip berita -terkadang mengeditnya- lantas menyebarkannya. Dan sebagian dari kita, sebagian besar dari kita, sama sekali tidak cukup bijaksana untuk memilah-milah. Dengan dahi tertulis “bad news is good news”, dengan bangga, dengan tergesa-gesa untuk menjadi yang pertama, memposting atau me-reposting apapun yang kita terima -ada kalanya bahkan tidak kita baca- terlebih cerita miring, hoax, dan segala sampah.)


Dear Para Pengajar dan Penulis Pasar Modal,

Mengajar atau menulis melulu segala hal buruk mengenai pasar modal dan bursa saham; bandar dan gorengan, konspirasi dan tipu-sana-sini, kejahatan kerah putih dan spekulasi, seolah mempertontonkan kemampuan kita yang serba terbatas, seolah jutaan saraf neuron di otak kita memang hanya dialiri listrik negatif, seolah “no news for good news” dan kita tidak lagi mampu menemukan hal-hal positif dari dunia yang kita andalkan ini. Dengan bangga dan pongah, kita terus menerus menabur kabut, mengirimkan pesan-pesan negatif, mengaburkan capaian-capaian. Kita tidak seharusnya membesarkan anak-anak kita dalam ketakutan, seperti juga kita tidak seharusnya membesarkan (masyarakat) investor kita dalam ketakutan.

Without forgetting the bad, let us amplify the good.

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.