You make me feel like a sticky pistil
Leaning into her stamen
You make me feel like Mr. Sunshine himself
You make me feel like splendor in the grass where we’re rolling
Damn skippy baby
You make me feel like the Amazon’s running between my thighs.

(Tidakkah tragis nasib sang malaikat yang menanggalkan jubah kekekalannya demi cintanya kepada si manusia, yang justru meninggal dunia akibat kecelakaan sepeda di puncak kebahagiaannya?)

Paula Cole sempurna mengantar saya ke finish, angka 155K, persis 1 bulan sejak 9 Mei ketika virtual RunToCare dimulai.


Selama dua bulan, sejak awal Maret ketika Pemerintah mengumumkan pasien pertama covid-19, saya tidak berlari sama sekali. Tidak lalu lari di dalam rumah, keliling ruang tamu dan dapur atau di pekarangan yang luasnya tak seberapa, juga tidak di atas treadmill. Maklumin kalau otak kolot saya setelannya masih kalau lari ya harus outdoor. Tidak lari di luar rumah, tanpa alasan lain apapun, kecuali patuh. Siapa tahu dapat tanda jasa mungil dari Gugus dalam usaha mencegah meluasnya sang virus.

Bagaimana rasanya tidak lari selama itu? Kangen, mudah ditebak. Hari-hari serasa datar, tapi tidak dengan bentuk perut. Sesekali meraba perut, mulai kecubitkah? Takut-takut berdiri di atas timbangan, memicingkan mata mengintip angkanya, cilukbaaa.

Awal Mei, setelah diingatkan teman untuk mendaftar virtual RuntoCare 155K, akhirnya dengan tigaperempat hati mendaftar juga. Maklum, virtual run (lari semaunya sendiri, kapan kek, dimana kek, berapa kilo kek, setelahnya setor ke apps, sampai terkumpul total K-nya, jatah waktu 3 bulan) pertama saya. Baiklah, anggap saja motivatasi (dan pelipur lara karena lari sesungguhnya Larantuka-Maumere batal, tahun ini) untuk mulai mengikat tali sepatu lari lagi pagi-pagi. Masih dalam suasana waspada wabah, wajib dibekap masker, cukup sekitaran rumah.

Pukul enam, pagi belum sempurna, matahari sudah terbit tapi entah di mana, datar sembunyi di antara rumah-rumah, saya beranjak. Komplek (tidak persis komplek sebenarnya, sebutlah pemukiman) sunyi dengan sedikit cuitan burung, saya memulai langkah pertama. Duh kangennya, anak kecil yang mendapat lollipop. Seratus meter lurus ketemu jalan raya, putar balik kembali, belok ke kanan, seratus meter ketemu pagar tinggi, belok kanan, seratus limapuluh meter ketemu portal, berbalik. Sebuah jalan kecil dijajal, seratus meter ketemu portal, balik lagi, ke titik start. Selanjutnya bolak balik, itu saja menunya. Tigapuluh menit, cukup sudah. Ngos-ngosan. Senang. Surak-surak dalam hati.

Menjadi rutinitas baru hampir setiap pagi berikutnya, dengan pilihan menu tambahan, empat puluh lima menit. Bertemu penghuni yang menyapu daun-daun rontok dan menyiram tanaman, juga yang rajin mencuci mobil. Seorang wanita yang saban pagi memberi makan kucing-kucing liar di depan rumahnya. Wanita lainnya yang membawa dua ekor anjing keliling jalan pagi, biasanya menaikkan heart rate saya. (Oh, inikah namanya cinta? Guk!)

Seiring pelonggaran, mulai mencoba keluar pemukiman, menuju pasar djaya, merambah pemukiman tetangga, menyusur jalan sana jalan sini. Berpapasan dengan satu dua pelari lain dan pejalan kaki, pedagang sayur dan makemak penggemarnya, pedagang bubur nasi uduk lontong sayur, awas terhadap motor dan mobil yang melintas, menghindar dari tikus-tikus tewas di aspal. Menu harian, berulang-ulang, empat puluh lima hingga enam puluh menit.

Selanjutnya, melipir lebih jauh, ke jalan besar, mendaki jalan layang, menapak trotoar nyaman sepanjang gedung parlemen, tvri, stasiun kereta, manggala wanabakti. Rombongan pesepeda melaju kencang, pasukan orange membersihkan jalan, buibuk starling menggelar terpal duduk, supir-supir hijau ojol nongkrong, penumpang-penumpang kereta pagi seliweran.


Virtual run menjadi pilihan menarik. Lucu-lucuan (multiple-run, lari jauh yang bisa dicicil lama), dapat medali cakep (bayar), opsi dapat jersey (bayar lagi), tapi memberikan kita kebebasan waktu dan tempat untuk berlari. Lebih dari itu, membangkitkan semangat berlari. Sebuah new normal. Paling tidak buat saya. Paula selesai bernyanyi, saya selesai 155K, dan tiba-tiba saya merasa butuh pemicu berikutnya.

Things may never go back to normal. You may need to create a new normal. And that’s ok.

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.