If a poet falls in love with you, you can never die.

“Kamu boleh membukanya nanti kalau sudah di jalan.” Dalam angkot malam yang melaju dari selatan Jakarta ke arah kediamanku di utara, aku sumringah membaca kalimat itu. Tulisan tangan Ocha, di atas sepotong kartu warna biru langit, kumasukkan kembali ke dalam amplop kecil yang diberikan kepadaku di pintu pagar rumah kontrakannya tadi. Demikianlah, hari itu, 11 Januari, kami sepakat jadikan sebagai hari kasih kami.


Kami sekantor, lokasi di pusat Jakarta, beda lantai, Ocha di HRD, aku di divisi audit. Dia lulusan luar, aku lokal. Dia tinggal di selatan Jakarta, aku di utara. Sore-sore selepas jam kantor, biasanya kami habiskan dengan makan malam bersama, sesekali nonton di bioskop, mengantarnya ke rumah, sebelum aku kembali menempuh jalanan malam ibukota bersama angkot-angkot merah rute tak resmi.

Dia seorang penulis puisi, dan kadang cerita pendek. Beberapa dimuat di koran dan majalah, yang redaksinya saban bulan menagih, tetapi lebih banyak yang disimpan di buku puisinya.

“Kenapa yang ini tidak dikirim juga?”
“Yang ini bukan untuk konsumsi publik, khusus untuk aku saja. Dan kamu.”
“Kirimlah. Biar tambah banyak penggemarnya.”
“Heh, tidak. Kamu saja penggemarku, lebih dari cukup.”
“Buat apa ditulis kalau tidak untuk dipublikasikan, dibaca orang.”
“Kamu tidak mengerti.”
“Tidak.”
“Tidak semua hal cocok untuk semua orang, untuk diketahui semua orang. Kan katanya setiap manusia punya beberapa topeng, ada yang untuk orang lain, ada yang untuk orang terdekatnya, dan ada yang untuk diri sendiri. Semua ada bagiannya masing-masing, peran masing-masing.”
“Hmm.”
“Walaupun kadang ada pengambilalihan.”
“Maksudnya?”
“Misalnya, ada peran otak yang kadang harus diambilalih oleh hati, ada peran mulut yang kadang harus diambilalih oleh tangan.”

Aku menyukai setiap tulisannya, selalu ada kata atau kalimat yang tiba-tiba mampu meledakkan atau melelehkan. Entah darimana dan bagaimana dia bisa mendapatkan ide-ide tulisan itu, dan merangkainya. Dia jarang mau bercerita, memintaku mencari saja di antara barisan huruf-huruf itu. Membaca puisi adalah menemukan sisi lain sang penulis yang tak pernah diucapkan, katanya satu waktu.

“Ini semua pengalaman pribadi?”
“Ini semua pengalaman batin.”
“Sebenarnya berapa banyak sih pacar kamu sebelum aku?”
“Heh, pertanyaan ulangan. Sudah berapa kali kamu tanyakan?”
“Aku serius.”
“Pikiranku dan daya khayalku jauh lebih luas dan lebih dalam dari pengalaman hidupku yang secuil ini.”
“Pengkhayal.”
“Penjelajah.”
“Tuh kan.
“Penjelajah maya.”
“Tukang ngelamun.”
“Indahnya otak.”

Hubungan kami dan pasang surutnya, mungkin juga seperti pasangan manapun di atas bumi ini, kami jalani lebih dari satu setengah tahun. Semua dapat kami lalui, baik-baik saja, hingga satu pagi di meja kantorku tergeletak sepucuk surat dari HRD. Bertanda tangan dia, manajer HRD, jabatan Ocha, yang memberitahukan keputusan PHK massal perusahaan akibat krisis ekonomi. Aku di antaranya.

“Dan kamu tidak pernah bilang kepadaku sebelumnya?”
“Aku tidak mampu.”
“Apa maksudmu tidak mampu?”
“Maafkan aku”, matanya basah.
“Aku menunggu.”
Dia diam.
“Mungkin penulis adalah semacam orang-orang goa yang hanya mampu memahat dinding persembunyiannya, tanpa suara, lantas berharap dimengerti, begitu?”
Airmatanya jatuh.
“Atau orang-orang dengan mulut terkunci yang hanya mampu berkomunikasi lewat tulisan, lewat puisi, lewat cerpen, dan surat PHK macam itu.”
Dia menangis.


“Bukalah nanti kalau sudah di jalan.” Aku melepas amplop kecil yang disodorkan saat kami berpisah tadi, tulisan tangan Ocha di atas sepotong kartu warna putih. Dalam angkot malam yang melaju, di antara remang lampu-lampu bercahaya kuning jalanan, aku terpaku membaca kalimat itu.

There’s nothing more dangerous than a writer whose feelings have been hurt.

*kutipan-kutipan diambil dari berbagai sumber

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.