14 Oktober, pukul 21.23,

Rayan memegang tangan kanan Friya. Menggenggam erat dalam kedua tangannya. Dingin. Ketika akhirnya dokter rumah sakit itu meraih lengan Rayan dan menariknya perlahan menjauh, tumpah sudah airmatanya. Friya terbujur kaku. Sisa-sisa darah di rambut dan sebagian wajahnya masih merah membekas, walaupun tadi sudah dibersihkan petugas medis. Baju Friya tadi pagi tak tampak lagi putih bersih, bagian kerah dan bahunya telah berubah menjadi merah, menunjukkan banyaknya darah yang mengalir dari kepalanya.

Tidak ada yang tahu persis kejadiannya. Dokter hanya mampu menjelaskan, ketika ambulance tiba, Friya sudah dalam keadaan tidak sadar. Menurutnya, tenaga medis ambulance yang mengantar sempat bercerita bahwa mobil Friya terperangkap dalam kerumunan para pendemo yang mendadak rusuh, kaca belakang Honda Jazz-nya dipecahkan. Wanita itu diteriaki untuk keluar dari mobil. Mobilnya sendiri dibakar. Ketika Friya tengah menghindar menyelamatkan diri, massa telah kocar kacir, tembakan gas air mata, dan batu-batu besar yang beterbangan. Ada yang mengenai kepalanya. Wanita usia tigapuluhlima itu tumbang terjatuh dan terinjak, atau terinjak-injak malah. Itu cerita sang medis, entah benar entah tidak.

“Maafkan aku, Fri, bodohnya aku tidak sanggup melarangmu ke kantor, maafkan…,” Rayan terduduk lemah di lantai lorong kusam rumah sakit, menutup wajahnya yang basah. Di balik telapaknya, dia menyembunyikan nestapa, kepahitan yang harus ditelannya sendiri. Di balik jari-jarinya, dia menyembunyikan amarah, yang dia tidak tahu harus ditujukan kepada siapa.


Tiga setengah jam sebelumnya,

Dipa menyaksikan kaca mobil merah itu mulai dipecahkan satu per satu, kemudian digulingkan ramai-ramai. Seorang wanita dengan wajah panik dan ketakutan baru saja keluar dari mobil itu. Hanya dalam hitungan detik, api sudah mulai menjalar membakar mobil. Sementara wanita tadi berteriak menangis berlari menjauh.

Tiba-tiba saja teriakan terdengar begitu riuh. Pasukan huru-hara berlari mendekat, menembakkan gas air mata, menyerang massa pendemo yang lari tunggang langgang. Asap api dari mobil terbakar dan letusan gas air mata membumbung bercampur di udara. Sementara batu-batu besar dan kecil mulai beterbangan. Dipa merasakan matanya yang perih, kabur berair, berlari sebisa mungkin menyelamatkan diri. Beberapa orang saling bertabrakan, tersungkur dan terjatuh, atau karena terkena hujan batu. Dipa merasakan dia menginjak seseorang. Wanita. Ya, wanita pengendara mobil tadi. Sepintas, dia melihat wajahnya yang sesak kesakitan berlumur darah, dan Dipa merasa bekas jejak sepatunya ada di leher wanita malang itu, “Ya Allah…”


Dua belas jam sebelumnya,

Ra’im meniupkan asap rokoknya ke wajah pemuda yang masih terlelap itu. Sontak saja Dipa terbangun, ngedumel. Ra’im terbahak.

“Bangun Dip, kita sudah harus berkumpul jam 7 tepat di halaman pabrik.”

Dengan enggan, pemuda belia sembilan belas tahun itu bangkit dari ranjang besi yang berderit. Rumah petak kontrakannya hanya berkamar satu, dengan dua ranjang besi terpisah, masing-masing untuknya dan Ra’im, teman kontrakannya sekaligus seniornya di pabrik tempatnya bekerja. Sebuah dapur kecil, di depannya ruang makan sekaligus ruang tamu sekadarnya, dan sebuah kamar mandi, type serupa rumah sederhana di komplek perumahan itu. Tidak ada yang menarik dari rumah maupun komplek tersebut, kecuali hanya jaraknya saja yang tidak sampai satu setengah kilometer dari pabrik.

Dipa meraih handphone-nya di lantai yang masih tertancap, mencabut kabelnya dari tembok. Merapihkan kabel hitamnya sambil memperhatikan layar handphone. Sebuah pesan sejak subuh tadi, dari Azizah.

“Dip, kamu jadi ikut demo besar-besaran hari ini? Tidak usahlah ikut-ikutan. Nanti malah celaka, atau malah di-phk. Kami semua di panti selalu mendoakanmu, sejak kamu keluar panti awal tahun, sejak mendengarmu sudah dapat pekerjaan di pabrik sekarang. Kami semua bahagia mengetahui kamu sudah bisa mandiri dan menjadikanmu panutan bagi adik-adikmu di sini. Ya sudah sih, Dip. Jangan aneh-aneh.”

Dipa memejamkan matanya. Kepalanya berputar-putar, terasa ingin sekali menyampaikan pesan kembali ke Azizah. “Mau bagaimana lagi mBak, aku maunya juga tidak bergabung, tapi tidak mungkin juga kalau sudah diperintahkan, seolah wajib. Apalagi karena aku masih tergolong karyawan baru, malah akan berabe kalau mbalelo. Ra’is sudah wanti-wanti sejak tiga hari lalu, “Jangan cari perkara.” Kemarin juga sudah ada desas desus, untuk karyawan yang tidak ikut demo atau tetap bekerja, bakalan ada sweeping, dengan ancaman ini-itu. Mendengarnya saja sudah mual. Andai mBak Azizah mengerti.”

Dari luar kamar terdengar terikan Ra’im, “Diippp, mandi buruan…”


Duapuluh jam sebelumnya,

Azizah masih saja sering berkaca-kaca setiap kali membaca pesan ada transfer dana masuk. Padahal sudah hampir tujuh tahun dia bekerja, paruh waktu, sukarela membantu administrasi keuangan yayasan di kota kabupatennya. Yayasan anak yatim yang menugaskannya mengais sedekah dari para donatur, untuk kebutuhan bulanan dua puluh satu anak yatim di yayasan, kapasitas maksimal yang mampu ditampung. Yayasan hanya mungkin menerima anak yatim baru kalau ada anak yang telah lulus SMK dan diterima bekerja. Azizah selalu bangga ketika menyaksikan mereka satu per satu mulai mandiri, memberi ruang untuk adik-adiknya yang baru bergabung. Hanya saja, membayangkan tempat tinggal anak-anak itu yang sewanya akan berakhir awal tahun depan, membuatnya sulit tidur beberapa bulan belakangan. Apalagi saat kondisi krisis macam saat ini, jumlah donaturnya berkurang drastis, demikian pula jumlah donasinya.

“Terimakasih, Pak. Kami mengerti. Tidak apa-apa kalau bulan ini tidak sebesar biasanya. Kami tetap bersyukur. Pasti akan selalu bermanfaat untuk anak-anak, Pak.”
“Ya Ziz, sejak bulan April di kantor ada pengurangan gaji. Saya seharusnya tidak perlu cerita, hahaha. Juga kebetulan bulan ini ada keperluan keluarga. Saya memang tidak pernah memberitahu ke istri mengenai kiriman bulanan saya.”
“Aduh, padahal sudah berapa tahun Bapak menjadi donatur kami, empat, atau lima tahun kan ya Pak? Ternyata selama ini dirahasiakan dari Ibu. Bapak…”
“Biar saya dan Azizah saja yang tahu, hahaha.”
“Dan Allah, Pak. Kami terima ya, Pak. Semoga sedekah ini menjadi pembuka jalan kesehatan jasmani dan rohani buat Bapak sekeluarga. Dijauhkan dari musibah, pembuka jalan kebaikan, kelapangan rezeki, kebahagiaan, kesejahteraan dan keberkahan buat Bapak dan keluarga. Amin.”
“Amiinnn…”

Terkadang Azizah berusaha mengingat-ingat bagaimana awalnya hingga si bapak menjadi donatur yayasan. Mereka tidak pernah bertemu, pun hingga terakhir setelah lima tahun berjalan. Yang pasti, dia rutin membantu bulanan, dan terkadang di hari raya, akan ditambahkan lebih banyak sedekahnya. Satu kali, sempat juga ditanyakannya, bagaimana sampai Azizah mendapatkan nomor handphone-nya. Dalam ragu dan ketidakmengertiannya, Azizah hanya menjawab, “Anggap saja jalan Allah, Pak Rayan.”

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.