Hidup adalah tawaran. Ketika akhir Februari 2020 diajak panitia Geopark Run series, untuk mengikuti lari eksebisi 50K di Belitong pada pertengahan April, terbayang akan sebuah petualangan baru. Melanjutkan seri eksebisi sebelumnya, Minang Geopark Run dua tahun lalu, saatnya kembali mengulang perjalanan lari jauh, menikmati lekuk keindahan alam, dan keseruan bercengkerama dengan sesama teman-teman pelari. Tetapi hanya dalam hitungan hari, awal Maret, Pemerintah mengumumkan kasus pertama virus corona-19 di Indonesia, yang terus bertambah dari hari ke hari, dari pulau ke pulau, hingga mencapai angka ratusan dan ribuan korban, dan rencana lari itu terpaksa harus disimpan.

Hidup adalah pilihan. Awal Oktober 2020, sebuah pesan dari panitia kembali masuk, rencana yang tertunda itu dihidupkan kembali, mengingat Belitong termasuk zona hijau covid-19, dan akan digelar di akhir bulan, Sabtu 31 Oktober. Namun, hari dan waktu yang bersamaan dengan acara webinar bertema investasi sebuah kampus di Kalimantan, yang sudah dikonfirmasi hanya beberapa hari sebelumnya. Tidak mungkin juga menggeser jadwal kedua acara yang sudah fixed, kampus maupun pemda. Kalaulah harus memilih, antara “ngamen” atau lari, kenapa tidak pilih “dan” saja, keduanya. Mencoba menawar ke panitia Geopark Run untuk izin absen lari 10K, di antara lintasan jarak 50K adalah sebuah alternatif. Dan semesta ternyata selalu beserta orang-orang yang maksa.

Let’s go Belitong!

Hidup adalah petualangan. Belitong (atau Belitung, atau dulunya Billiton), pulau kecil yang diapit Selat Gaspar dan Selat Karimata, adalah pesona alam tersendiri, ekor lempeng dari Asia Tenggara, pesona yang tidak kita temukan di daerah lain. Batu, ya, batu-batu granit ukuran raksasa ada di seluruh pulau, dan mengelilingi lepas pantai hingga ke tengah laut, dalam segala variasi bentuknya, garuda-kodok-bakpau-batukembar, atau lainnya, semaunya imajinasi kita. Dan tentu saja, khasnya, batu billitonite yang hitam pekat dan berurat, atau dikenal sebagai batu satam yang ukuran kecilnya ketika ditaruh di antara kuku-kuku jari akan berputar. Heh!

Di Tugu Batu Satam Square, ikon kota Tanjung Pandan, di titik kilometer nol, di sanalah petualangan lari Geopark Run seri ini dimulai. Dilepas oleh Bupati Belitong, yang malam sebelumnya menjamu para pelari makan bedulang, ala tradisional, dalam nampan besar bulat masing-masing untuk empat orang, dimana yang paling tua akan dilayani dan didahulukan. (Menjadi tua ada kalanya berguna.) Sembilan pelari undangan, bersama sekitar 30 pelari BORN (Belitong Runners) serta beberapa atlit lari lokal dan internasional memulai langkahnya, pukul 07.00 kurang.

Lima kilometer pertama adalah ke arah Danau Kaolin, sebuah danau berwarna biru muda dengan daratan berwarna putih di sekelilingnya, sebuah ceruk besar bekas galian kaolin yang dieksploitasi besar-besaran, sebuah danau saksi bisu sejarah kekayaan tambang Belitong.

Cuaca mendung menghalangi matahari, tetapi udara lembab menyebabkan keringat mulai mengucur deras. Rute lari di jalan aspal mulus yang sepi adalah sebuah kemewahan (penduduk Belitong hanya sekitar 200.000 jiwa), diselingi sebagian di antaranya rolling naik-turun adalah bumbu penyedap, pedes.

Dengan water station dan titik regrouping setiap 5K, target tengah perjalanan 25K adalah Bukit Peramun, pukul 11.00. Lokasi eko wisata yang terjaga bersih, bukit yang menyelamatkan Belitong dari ancaman krisis air ini, adalah hutan lindung alami dengan tanaman-tanaman berkhasiat obat (peramun, ramuan, nyambung toh?) dan pohon-pohonnya yang kalau malu ditanya namanya, cukup di-scan saja pada barcode yang tertempel.

(Kalau berkesempatan bermalam, malah bisa hunting lihat tarsius, pelili’an, primata kecil bermata bulat besar, yang setianya tidak tanggung-tanggung sama pasangannya, “You die, I die”, entah alami karena kesepian ditinggal mati ataupun karena bunuh diri. Duh! Hanya saja informasi terakhir dari sumber terpercaya, tarsius sekarang sudah mulai berkurang kadar setianya kepada pasangannya yang mati duluan. Entahlah, ini kabar baik atau kabar buruk…)

Rombongan berkesempatan wisata alam, plus makan siang kotak, dan pukul 13:00 melanjutkan kembali lelarian. Inilah jamnya saya berhenti dan menetap, melangsungkan webinar soal saham, mengudara, tersambung dengan lebih dari duaratus teman-teman investor dan calon investor di Kalimantan Selatan. Di antara jaringan telekomunikasi yang baik (ternyata, terimakasih operator!), di antara pohon-pohon hijau rindang, di antara bunyi nyaring serangga di atas pohon, waktu berjalan sempurna.

Saatnya bergegas menyusul teman-teman yang sudah tiba di KM 35, Mangrove Kuale Sijuk. (Bukan, bukan lari, bolehlah berkendara sikit; sambil mendengar cerita Bang Supir, yang pernah menginap di atas hamparan granit super raksasa Batu Baginde di Belitong Selatan, menatap lepas bebas indahnya lautan bintang-bintang. Tuhkan tuhkan, Abang argh!) Menjelang jalan masuk ke kawasan mangrove, di sisi kanan berdiri megah klenteng tertua di Belitong, sedang di sisi kiri terhampar kokoh dan indah sebuah jembatan, warna-warni, jembatan pelangi, di negeri Laskar Pelangi

“Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukkan dunia
Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya…”

Hidup adalah kejutan. Sejak lepas siang, mendung sudah berganti matahari, lembab sudah menjadi terik; bayangan tubuh berlari mulai tampak di aspal, kucuran keringat mulai mengalir membasahi sepatu, derap langkah kaki mulai terasa berat, helaan dan hembusan nafas mulai terdengar kencang. Tiba di KM 40, sekitar pukul 16:00, dan selanjutnya adalah berlari di aspal sepanjang garis pantai, menuju finish. Berjalan sambil mereguk es krim rasa cokelat dan vanila adalah sebuah kejutan manis. (Kalau Forrest Gump bilang, “Life is like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get”, boleh juga tampaknya disanding “Life is like a chocolate and vanilla ice cream, both are sweet”.) Menikmati pemandangan sore yang indah, matahari jauh di kiri yang sinarnya telah bersahabat, menerobos di antara pohon-pohon kelapa yang menjulang. Di sisi kanan, laut biru berombak tenang, warga bermain dan bersantai di atas pasir, kapal-kapal nelayan bergerak pelan, hamparan batu-batu besar yang berserakan, dan bertumpuk-tumpuk. Menempuh sisa sekitar 10K, perjalanan berakhir di pantai Tanjung Kelayang, pada sebuah potongan surga berpasir putih halus dengan deretan batu granit raksasa di semenanjung Belitong.

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

2 replies on “BELITONG GEOPARK RUN 2020 (COKELAT DAN VANILA)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.