“Ping sudah berpulang
Senin, 24.7.2023
Pk. 03.10 WIB”
Ada rasa menyesal, gak bisa ketemu di saat-saat terakhir. Pun sebelumnya sudah diwanti-wanti oleh Yenny dan Athong beberapa hari sebelumnya, bahwa mungkin gak akan sempat lihat Ping lagi…
(Gua hanya bisa titip salam peluk, seerat pelukan terakhir kami di reuni November 2022.)
Tapi baiklah, gua memang ketinggalan hari-hari sakaratul maut Ping, gua mau mengenang saja saat-saat indah bersamanya, puluhan tahun lalu, tahun-tahun lalu, bulan-bulan lalu.
Kenangan berkesan pertama mungkin waktu minjem mobil bokapnya, Taft Merah, buat ke pesta ulang tahun di daerah Kelapa Gading. TengCai adalah aktor utama, sang supir, dan pas perjalanan pulang, menjelang tengah malam, persis di kawasan bunderan Lapangan Banteng, mobil terbalik. Untungnya supir dan penumpang depan belakang seluruhnya gak ada yang luka berarti. Mobil bisa dibalikkan, dan bisa berjalan kembali. Lebih untungnya lagi, besoknya waktu rame-rame menghadap bokapnya buat pertanggungjawaban, tidak ada kemarahan -dan tidak perlu ada ganti perbaiki- sama sekali. Thanks God, bocah-bocah SMA mana ada duitnya kalau harus ganti perbaiki.
Malah rumah Ping di Jalan Betet itu akhirnya menjadi “markas” tempat berkumpul. Sepulang sekolah, masih dalam pakaian seragam, putih-abu atau batik Ricci, sering kali nongkrong di sana, di ruang TV lantai 2 atau di dak atas lantai 3, tempat jemuran. Belajar bersama? Bah, lebih sering main kang lo ciu, atau sekadar ngumpul, bergitar dan bernyanyi lagu-lagu Seventies dan Eighties. Pas juga sekalian, jaman bikin gank-gank-an semasa SMA, melahirkan gank “Desdemona” -nama yang dicomot Athong dari tokoh dalam cerita Othello-nya Shakespeare, tapi logo di kaos sablonan pakai gambar macam Firaun yang kayaknya sih gak nyambung- dengan markas ya kira-kira di rumah Ping itu.
“Markas” lainnya yang sering didatangin adalah villa KenDja, punyanya keluarga Syarifudin, keluarga TengCai. Hampir setiap ada libur sedikit panjang -masa itu belum ada istilah cuti bersama- “piknik mewah” kami adalah satu atau dua malam di Puncak. Seperti biasa, perlengkapan wajib adalah gitar, dan kartu remi. Bernyanyi dan bermain kartu sampai larut malam, dan jiwa emak-emak Ping -anak sulung dari lima bersaudari, cewek semuanya, Yenny Devi Lenny Fenny- sudah terlihat, menemani kami para lelaki pebegadang, ikut bernyanyi atau sekadar duduk menonton kami bermain kartu. Dan terutama, memasakkan kami indomie, saat kami merengek. Plus paginya, biasanya sebelum pulang ke Jakarta, menyiapkan makan dan sayur wajib, kuah daun katuk. (Makanya ASI kami rata-rata bagus, walaupun lelaki asli.)
Jiwa emak-emak -sebagian temen berlanjut memanggilnya “emak” hingga saat terakhir- juga membuat Ping berjasa besar mengumpulkan anak-anak seangkatan dalam satu group WA besar (sejauh ini group WA terheboh gua, sehari bisa ada ratusan hingga ribuan chat, dari urusan makanan sampai mesin perang, dari konten yang termalaikat sampai konten yang teriblis). Ngumpulin teman-teman makan pagi siang malam, atau jalan-jalan keluar kota, yang gua praktis selalu absen, cuma ngintip lewat group WA atau japrian Ping. Di tengah sakitnya -CA- masih turut mengkoordinir reuni akbar seangkatan (27 November 2022 adalah reuni terakhir kami, dan reuni terakhir Ping). Juga kumpul-kumpul “anytime” di SunDise-nya KoCia, tempat kami masih bisa nongkrong, ngobrol ngarol-ngidul, bernyanyi dan menari. Tempat terakhir gua ketemu Ping, 27 Mei 2023, tempat Ping tampak bahagia, bernyanyi dan menari…
Liverpool, Hujan
Minggu, 23 Juli 2023, 09:10PM
NH