You don’t choose your passion, it chooses you

Carmine Gallo

“Investor-Pengemis” 1 Lot Saham IPO

Mari berhitung. Kalau harga sebuah saham IPO di seratus perak, berarti kita akan mengeluarkan uang Rp10.000 untuk mendapatkan 1 lot saham. Kalau harganya dua ratus lima puluh perak, kita akan mengeluarkan Rp25.000. Kalau lima ratus perak, berarti Rp50.000. Dan seterusnya.

Kalau dapatnya puluhan atau ratusan atau ribuan lot? Tinggal dikalikan saja. Tapi, nyatanya dan biasanya dan sudah jadi rahasia umum, kalau dapatnya tidak lebih banyak dari jumlah jari-jari di tangan. Itu pun kalau “beruntung”. Kalau apes, ya 1 lot itu tadi, walaupun sudah pesan berlot-lot di awal masa penawaran. Ya begitulah, nasib investor ritel.

Kalau harganya saat listing kemudian naik ARA (auto reject atas) beberapa kali hingga naik 2 kali lipat, berarti kita sudah untung Rp10.000 atau Rp25.000 atau Rp50.000. Kalau naik 3 kali lipat atau 5 kali lipat, silakan hitung sendiri. Terdengar menarik? Mungkin. (Don’t get me wrong, gua gak memandang rendah arti duit segitu.)

Sementara di seberang sana, si perusahaan newbie itu dan underwriter-nya bersukacita. Banyaknya “peminat” sungguh meringankan luar biasa langkah awalnya menghimpun jumlah investor seperti disyaratkan oleh peraturan, minimal 500 pihak. “Memberi cuan” kepada 500 pihak, dikalikan -misalnya- angka di awal kita tadi, dapatlah angka Rp5 juta hingga Rp25 juta untuk 1 kali ARA. Kalau ARA 3 dan 5 kali, mudah saja menghitungnya. Sebuah angka persentase teramat kecil, kalau dibandingkan dengan puluhan atau ratusan miliar yang diraup dari hasil IPO.

Mengejar-ngejar, mengais-ngais, mengemis-ngemis saham IPO, hanya untuk pada akhirnya “dihadiahi” 1 lot? Semoga kita tetap bangga dengan predikat kita sebagai “investor”, tanpa embel-embel “pengemis”. Salam!

Read More

“Kepada Semesta, Kami Bercerita”

Kami, BliRudi dan aku. Sesekali waktu kami masih ber-contact, atau bertemu, walaupun untuk yang terakhir itu sangatlah jarang. Juga walaupun sebenarnya aku sering terbang ke Bali, minimal sebulan sekali. Tetapi perjalanan dinas tetaplah perjalanan dinas. Pesawat pagi, mengejar meeting reguler bulanan siang hari di Denpasar sekitar 2 hingga 3 jam, lalu bergegas kembali ke bandara -yang lalu lintasnya horror dan unpredictable- untuk terbang kembali ke Jakarta. Kami tidak sempat untuk bertemu, untuk nongkrong ngopi atau ngebir sejenak, atau duduk menunggu matahari tenggelam.

Tetapi mungkin juga memang sudah tidak banyak lagi tersedia cerita. Di buku itu kami berdua sudah cukup bercerita. BliRudi melalui jepretan kameranya, dan aku melalui rangkaian kata demi kata. Perjalanan panjang dan lelah buku “Hope and Freedom” sudah lebih dari “setengah jalan”. Tersisa hanya beberapa ratus buku, yang tersimpan berdebu dua tahun di sudut rumahku, sementara BliRudi masih sangat rajin “menjajakan” buku tentang ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) tersebut, sembari menyuarakan “para terpasung dan terbelenggu” yang tidak terperhatikan dan seolah dianggap tak pernah ada.

“Semesta tahu waktu terbaik untuk segalanya.”

Aku berpikir, barangkali kami -dan buku itu- sedang terseok di tengah jalan. Hanya mampu menunggu tumpukan itu menipis perlahan, satu demi satu buku. Yang hasil penjualannya dipakai untuk merawat dan membantu menghidupi para ODGJ. Ya, ODGJ yang sokongan dananya semakin menipis, yang harapan di-manusiawikan-nya semakin menipis, yang batasan hidup dan ajalnya semakin menipis.

Lalu seorang psikolog datang, membeli sisa ratusan buku itu, sekaligus. Bukan warga Bali atau Indonesia -daerah dan negara asal para ODGJ, daerah dan negara yang konon katanya ramah dan dermawan- melainkan seorang dari negeri nun jauh di sana, Belanda. Sebagai bentuk donasinya, dan terutama perhatiannya, untuk menyebarkan kisah nestapa para ODGJ yang tidak banyak berubah, pun hingga saat ini.

“Semesta akan membawamu ke mana-mana.”

Tumpukan buku menghilang, namun tidak dengan kisah sedih bertahun-tahun para ODGJ beserta keluarganya. Dan cerita tidak lantas berakhir. Lembaran baru dibuka. Photo-book “Hope and Freedom” diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, dan dicetak ribuan eksemplar. Yang akan tersebar ke lebih banyak tempat; tidak Bali, tidak Indonesia, namun Belanda, dan Eropa, dan belahan dunia lainnya. Menggapai lebih banyak orang, membuka lebih banyak mata, menggerakkan lebih banyak hati, mengisi lebih banyak ruang, menguak lebih banyak harapan.

“Karena semesta tercipta dari cerita-cerita.”

Read More

Oktober 2025

Aku telah menempuh 81 kilometer, sejak mulai berlari dari Lapangan Berdikari, Mbay-Nagekeo. Aku telah dipanggang 3 matahari Nusa Tenggara Timur, sejak start pukul 3 kemarin sore. Aku bahkan telah “menyerah” di KM3, mengganti lariku dengan kombinasi berjalan dan berlari, sambil mendaki dan terus mendaki ribuan meter elevasi-gain menuju Bajawa. Aku yang tak mampu melawan beratnya kelopak mata, terkapar 20 menit tengah malam, di atas deretan empat kursi, di ruangan SDK Nageoga-Boawae, KM53. Aku yang masih terus melangkah dengan badan terhuyung dan mata tertutup, tidur tanpa mimpi. Aku yang mengarungi malam panjang menuju subuh, memanggil matahari pagi, menantikan sinar ramahnya mengusir gelap dan hangat lembutnya menggantikan dingin. Aku telah berusaha menjaga agar tetap sadar dan awas, menjaga kondisi dan stamina, menjaga mental dan semangat, menjaga kaki dan kepala, menempuh jarak dan menembus waktu, memasuki “the unknown zone” di depan sana dan di dalam sini, di balik tubuh ini.

Read More

Ultra (Trail) Man

Baru setengah perjalanan, sekitar kilometer 7, aku berhenti melangkah, berusaha menahan erangan sakit. Otot kedua pahaku menarik kencang, kram. Ingin duduk di tanah, hanya saja single-track tidak menyisakan ruang untuk itu, sementara beberapa peserta lain tidak jauh di belakang, terus bergerak maju. Jadilah berdiri, mematung, sambil -pura-pura- menikmati pemandangan, membiarkan peserta lain melewatiku. Bagusnya tidak ada yang bertanya, jadi tidak perlu berbohong.

Read More