SURAT UNTUK ANAKKU (13)

Sekali lagi Nak, kematian memang gelap dan kelam. Misterius. Rahasia semesta. Bisa terjadi kapan saja dimana saja siapa saja. Ayahmu ini -yang beberapa pesan masuk tadi mengingatkan sudah tidak muda lagi- tampaknya masih akan tetap terus berlari. Seperti pernah kukutip di sebuah tulisanku: “I know only two things. One, I will be dead someday; two, I am not dead now. The only question is what I shall do between those points.” I will keep on running. Aku akan terus berlari. Sebisaku. Semampuku. Sesukaku.

Read More

Surat Untuk Anakku (12)

Kalau sebuah keteledoran kecil, sebuah ketidakpedulian kecil, sebuah keegoisan kecil, dapat membawa efek berantai demikian buruk dan besar, tidakkah sebuah senyum kecil, sebuah keramahan kecil, sebuah kemurahanhati kecil, juga seharusnya dapat membawa efek berantai baik dan besar?

Read More

Surat Untuk Anakku (11)

People should train their minds so that they would not disturbed by whatever kinds of words they might hear, whatever kinds of acts they might see. They should train their minds and keep them broad as the earth, unlimited as the sky, deep as a big river and soft as a well-tanned leather.

Read More

Surat Untuk Anakku (10)

Aku selalu ingat salah satu mentor marketing panutanku. Setiap kali briefing teamnya, dia selalu mengingatkan dan menekankan bahwa dalam dunia pemasaran (dan bisnis), tidak ada yang namanya juara kedua. Either juara satu (baca: dapat order, dapat proyek), atau tidak sama sekali. Tidak berlaku medali perak atau perunggu karena nyaris dapat order atau proyek. Hal sama berlaku juga untuk, misalnya, urusan tender-tender yang hanya memilih satu pemenangnya. Sisanya? Yang kalah, gigit jari. Kejam kan?

Read More