CAMAR DAN DOMBA

Angin pantai bertiup dingin. Pada sebuah bangku kayu kosong di sisi kanan, di bibir tebing, dengan pemandangan seberang. Laut-bukit-awan-langit, rumah-rumah putih, dua kapal kecil yang tengah melaju, serta Loch Sligachan dan Loch Ainort.

Matahari tersembunyi di balik dinding tebing di kiri jalan, hanya memendarkan bulatan cahaya putihnya. Kawanan burung camar beterbangan kesana-sini, membentangkan sayap lebar dalam kibasan angin, bersuara nyaring, sahut-menyahut. Mungkin semacam ritual, berjemur pagi, atau mencari makan, atau kumpul keluarga.

Sementara puluhan domba yang tengah merumput atau hanya sekadar terbaring beristirahat, tampak tidak terganggu. Tersebar berkelompok-kelompok, di sisi kanan kiri jalan, dan di atas bukit rumput. Sebagian awas memandangiku, terus hingga aku hilang di balik jalanan aspal kasar, berbelok pulang. Sebagian lainnya tak acuh.

(“I want to sing like the birds sing, not worrying about who hears or what they think.” ~ Rumi)

Read More

NOW AND THEN

Aku siap dalam kostum lari. Sepatu, celana, kaos, dan selapis kaos tangan panjang lainnya di luar, serta topi kupluk. Namun aku tidak berniat untuk berlari. Aku memutuskan hanya ingin berjalan, perlahan dan menikmati, sepanjang lima kilometer ke arah timur, ke Steinkiste, menyusur bukit naik turun searah garis pantai pulau, Isle of Raasay.

Rumah-rumah penduduk dusun bertembok putih-abu dan beratap hitam, berjarak antar satu dan lainnya, tampak lengang. Tidak tampak penghuninya, tidak juga ada yang aku temui sepanjang jalan. Hanya kelinci-kelinci yang muncul dan kemudian menghilang kembali ke balik rerumputan.

Pohon-pohon cemara berdiri kokoh, menjulang langit. Anggrek-anggrek ungu tumbuh bebas di tepi jalan, di sisi tebing, berbaur dengan hamparan bunga-bunga kecil kuning sejenis globeflower yang tumbuh liar.

(Waktu usiaku sekitar 8 tahun, tanteku yang seorang biarawati, setiap kali berkunjung ke rumah kampungku, selalu membawakanku oleh-oleh gambar-gambar postcard rumah, dusun dan pemandangan semacam ini. “Wherever you are, and whatever you do, be in love.” ~ Rumi)

Read More

JENDELA DAN MATAHARI

Jendela besar itu terpasang di depan teras, di tengah-tengah bangunan dua lantai mirip kastil, menggusur dua pintu kayu berat ke sisi kiri dan kanannya. List kayu membelah jendela menjadi sembilan kotak kaca, dengan hiasan setengah lingkaran kaca di atasnya; sebuah setengah lingkaran kecil lainnya dan empat list kayu membentuk sinar matahari.

Pukul 07:00. Suhu 12 derajat celcius. Aku berdiri di balik jendela. Menyapu perlahan pandanganku.

Jalan kecil berkerikil hitam, hamparan luas rumput hijau pendek rapih, laut biru yang tenang, bukit-bukit hijau dataran tinggi Isle of Skye, sedikit diselimuti awan putih, dan langit biru yang terbentang luas dan tinggi.

Sebatang pohon kecil di sisi kiri dan sebatang lainnya tanpa daun di sisi kanan, dan feri kecil putih -yang kemarin sore mengantarku menyeberang- tersandar di dermaga.

(Terima kasih kepada jendela, dan kepada matahari yang telah memberi warna-warna indah ini. “To praise the sun is to praise your own eyes.” ~ Rumi)

Read More