TERUSLAH MENULIS

Aku jatuh cinta pada kata-kata, dan kerap mengingat kelebat bayangan masa kecilku berteman mainan tentara plastik kecil, bermain perang-perangan di sebidang tanah sempit di teras rumahku, sendirian. Karenanya aku menulis puisi dan fiksi. Kalau akhirnya aku juga menulis soal investasi saham, mungkin hanya karena sayang saja kalau isi kepala disimpan sendiri, mungkin ada gunanya kalau bisa dibaca orang. Kalaupun tidak berguna, paling tidak sudah membantu meringankan beban otak, mengosongkan sedikit ruang untuknya, agar bisa terus berputar. Juga menulis soal lelarian, adalah “me-time” lanjutan setelah lari panjang. Semacam pelengkap dan penyempurna, complement sekaligus supplement. Bertualang lari dengan otot, dan bertualang kata-kata dengan otak. Yang keduanya perlu melibatkan hati. Kalau tidak, lalu apa artinya lari buatmu?

Read More

CAMAR DAN DOMBA

Angin pantai bertiup dingin. Pada sebuah bangku kayu kosong di sisi kanan, di bibir tebing, dengan pemandangan seberang. Laut-bukit-awan-langit, rumah-rumah putih, dua kapal kecil yang tengah melaju, serta Loch Sligachan dan Loch Ainort.

Matahari tersembunyi di balik dinding tebing di kiri jalan, hanya memendarkan bulatan cahaya putihnya. Kawanan burung camar beterbangan kesana-sini, membentangkan sayap lebar dalam kibasan angin, bersuara nyaring, sahut-menyahut. Mungkin semacam ritual, berjemur pagi, atau mencari makan, atau kumpul keluarga.

Sementara puluhan domba yang tengah merumput atau hanya sekadar terbaring beristirahat, tampak tidak terganggu. Tersebar berkelompok-kelompok, di sisi kanan kiri jalan, dan di atas bukit rumput. Sebagian awas memandangiku, terus hingga aku hilang di balik jalanan aspal kasar, berbelok pulang. Sebagian lainnya tak acuh.

(“I want to sing like the birds sing, not worrying about who hears or what they think.” ~ Rumi)

Read More

NOW AND THEN

Aku siap dalam kostum lari. Sepatu, celana, kaos, dan selapis kaos tangan panjang lainnya di luar, serta topi kupluk. Namun aku tidak berniat untuk berlari. Aku memutuskan hanya ingin berjalan, perlahan dan menikmati, sepanjang lima kilometer ke arah timur, ke Steinkiste, menyusur bukit naik turun searah garis pantai pulau, Isle of Raasay.

Rumah-rumah penduduk dusun bertembok putih-abu dan beratap hitam, berjarak antar satu dan lainnya, tampak lengang. Tidak tampak penghuninya, tidak juga ada yang aku temui sepanjang jalan. Hanya kelinci-kelinci yang muncul dan kemudian menghilang kembali ke balik rerumputan.

Pohon-pohon cemara berdiri kokoh, menjulang langit. Anggrek-anggrek ungu tumbuh bebas di tepi jalan, di sisi tebing, berbaur dengan hamparan bunga-bunga kecil kuning sejenis globeflower yang tumbuh liar.

(Waktu usiaku sekitar 8 tahun, tanteku yang seorang biarawati, setiap kali berkunjung ke rumah kampungku, selalu membawakanku oleh-oleh gambar-gambar postcard rumah, dusun dan pemandangan semacam ini. “Wherever you are, and whatever you do, be in love.” ~ Rumi)

Read More