RINDUKAH KAU, RODRIQUEZ?

Piccadilly Garden. Deretan puluhan air mancur di lingkaran bulat tengahnya yang menyembur naik turun dari lantai, yang sebentar kemudian reda tiarap, memberi waktu kepada seorang anak berlari riang melintas, sebelum air memancur kembali. Kepada seorang remaja di kursi rodanya yang tertawa lepas didorong temannya, dalam sorot mata seorang ibu yang menatap lurus, menggenggam tangan anak remajanya yang down syndrome, yang duduk terpana di sebelahnya. Yang memberikan kesempatan kepada para pengunjungnya untuk saling memperhatikan dan memandang dari seberang ke seberang, sebelum dikaburkan kembali oleh semburan air dan waktu.

Read More

AKU MEMILIH MENANGIS

“There are some realities that you can only see through eyes that have been cleansed by tears.” ~ Pope Francis Air mataku menitik. Mulutku gemetar menggigit roti tawar beroles mentega dan gula pasir yang disodorkan Ayah. Kemarahan tadi perlahan telah berubah menjadi tangisan. Ayah menatapku lembut, lalu berucap. “Hari ini kau kalah, mungkin besok kau…

Read More

LABA-LABA

Botak plontos bergincu merah dengan hanya ada tugas dan hukuman. Tugas dan hukuman. (“Gambar alat vital kalian!” Pedelah untuk urusan satu ini, lengkap dengan ukiran dan gradasinya, alhasil kok malah mendapat hukuman berat? Berguling di lantai dan dipepet menumpuk rapat di sudut ruang. “Memangnya mata, kuping, mulut bukan alat vital?!” Rasanya sampai sekarang pun kalau saya diberi tugas yang sama, percayalah, saya masih akan tetap keukeuh.)

Read More