SURAT UNTUK ANAKKU (20)

Benarkah kita bahagia karena jabatan naik, karena rumah baru, karena kekasih pujaan? Karena benda-benda itu? Perhatikan mereka yang tetap tidak bahagia, regardless apapun yang telah dipersembahkan dunia. Dan perhatikan pula mereka yang selalu (relatif) bahagia, apapun yang silih berganti menimpanya.

Read More

SURAT UNTUK ANAKKU (19)

Bumi tidak pernah bersalah. Ibu-Bumi tidak pernah marah. Mother-Earth tidak pernah menghukum. Juga hari-hari ini, ketika wabah membawa kematian tiada henti di seluruh penjuru bumi. Bumi tetap bumi yang sama, yang mengasihi, yang apa adanya, yang mengalir di jalur airnya. Kecantikan ketampanan kepintaran kitalah yang telah membutakan, keegoisan ketidakpedulian kesombongan kitalah yang telah menciptakan; bencana demi bencana.

Read More

SURAT UNTUK ANAKKU (17)

“Hari ini, Kobe mati dua kali.” Aku lantas membayangkan, Kobe tengah memeluk erat-erat Gianna “Gigi”, putri 13 tahunnya, di dalam kepanikan helikopter yang tengah berputar menukik ke bawah. Dalam hitungan detik. Apakah yang ada di kepala Kobe? Kalimat apakah yang diucapkannya untuk menenangkan Gigi? Bagaimanakah perasaan Kobe? Tidakkah dia putus asa? Tidakkah Kobe telah “mati” terlebih dahulu, pasrah tidak dapat melakukan apapun, untuk putri kesayangannya dalam dekapannya, menatap kematian bersama?

Read More