KEPADA PARA PENJELAJAH TIMUR

Kepada para penjelajah hati,
Ketika lelah menjajakan kebaikan, kamu tak pernah sendirian

Kepada para penjelajah malam,
Ketika bulan dan bintang ada untukmu, kamu hanya butuh gelap

Kepada para penjelajah rasa,
Ketika tubuh banjir berpeluh, kamu selalu rindu sekaan

Kepada para penjelajah siang,
Ketika matahari memaksamu tertunduk, kamu dan ibu bumi menyatu

Kepada para penjelajah jalan,
Ketika jarak nan jauh menyeretmu, kamu hanya butuh hening

Kepada para penjelajah ruang,
Ketika panas terik mengurungmu, kamu tak pernah sebebas itu

Kepada para penjelajah waktu,
Ketika setiap detik adalah berkah, kamu adalah keabadian

(tentang perjalanan ke pulau lembata menjejakkan kaki menempuh jarak lari seratus kilometer di jalan debu bebatuan dan aspal hitam di antara obor dan tarian diantar tatapan ramah mama-bapa sapaan riang pemuda-remaja sorakan ramai ana-ana mengarungi kelam gelap malam di bawah cahaya bulan tersisa setengah dan gugusan acak bintang-bintang menyusur panjang garis pantai yang ombaknya membisu dan anginnya terdiam ditemani marshall yang setia dan sahabat di pemberhentian yang selalu siaga menyambut sepi pagi buta kota dipecah bising motor bersuara dijemput matahari siang yang apinya menjilat isi kepala pada rute lurus memanggang dan tanjakan melelahkan berteman kucuran keringat dan penat memabukkan menuju senjakala magis yang jatuh perlahan seraya mengantarkan air bersih untuk anak-anak negeri yang tak letih menanti)

Jelajah Timur – Lembata, 26-27 November 2021

Read More

MINANG GEOPARKRUN-2021

Ketidaknyamanan, atau kegagalan, atau kesedihan, atau apapun namanya itu, yang kita alami, sehari-hari, selalu ada hal setimpal yang baik dan positif di waktu dan di tempat yang lain, dengan atau tanpa kita sadari, dengan atau tanpa kita setujui. Semesta selalu punya caranya sendiri, misterinya sendiri, dan kita terlalu kerdil untuk memahaminya. Memangnya, who do we think we are?

Read More

GILA

Kalau kamu mengatakan aku gila, aku tak peduli, toh aku gila
(“Padahal kita sama-sama manusia, from flesh and blood, bernyawa dan berjiwa, hanya saja pada dimensi yang berbeda.”)

Kalau kamu marah karena aku gila, aku tak peduli, toh aku gila
(“Marahmu hanya untuk menutupi sejuta rasa bersalahmu, karena kamu dan duniamulah yang menyebabkanku gila.”)

Kalau kamu menjauhi aku karena gila, aku tak peduli, toh aku gila
(“Ada atau tiadanya kamu tak berbeda untuku, dan kalau buatmu juga begitu, lantas apa bedanya kita?”)

Kalau kamu malu karena aku gila, aku tak peduli, toh aku gila
(“Malu adalah bentuk kesombongan primitif manusiawimu, dan memasungku adalah persembunyian terkeji kelemahanmu.”)

Kalau kamu mengabaikan aku karena gila, aku tak peduli, toh aku gila
(“Tetapi bukannya kamu jauh lebih gila, karena telah mengabaikan aku, orang gila?”)

Read More

Lombok Bangkit (3/3) – Heading Into The Unknown

Sementara aku masih terbaring. Belum banyak kemajuan berarti. Fisioterapis, Tita dan Reki bergantian membantu, dengan es batu, kompresan, pijatan dan tekukan. Setiap kali aku mengerang, Tita akan berkata, “Ekspresif ya, Om.” (Belakangan aku baru tahu kalau maksudnya, “Galak sekali, Om.) Lexi menghampiri, memberi isyarat waktu sekitar 15 menit lagi untuk meninggalkan check point, pukul 14:30 beranjak menuju garis finish.

Read More