SURAT UNTUK ANAKKU (22)

Awal bulan ini seorang pemuda tunet pemijat berbagi cerita denganku. Baginya, hidup hanya ada gelap dan terang, siang dan malam. Ya, hanya itu, Nak. Namun hidup tidak terpaku di dua sisi itu. Di balik gelap dan terang itu, dia punya banyak cerita. Tentang rambutnya yang dibiarkan gondrong terikat rapih dan tentang otot-otot kekar kaku yang disentuhnya. Tentang tempat tinggal sekaligus tempat prakteknya yang melompong dari perabot-perabot, yang berguncang setiap kali bus dan truk besar melintas kencang, di Jalur Pantura, di Kota Kendal, Jawa Tengah. Juga cerita tentang kampung halamannya, rindangnya pohon, kicauan burung, sejuknya angin perbukitan yang tiupannya menggoyang pelan jembatan gantung yang sering dilaluinya.

Read More

TEUKU UMAR 123

Cemara-cemara menjulang tinggi, berbaris rapih memanjang jauh, berkilo-kilo dari ujung satu ke ujung lainnya, seolah memagari hamparan pasir putih krem yang kotor oleh sampah. Dua belas remaja lelaki bermain “gala” (“galasin”) di atas pasir yang diberi tanda garis, dengan tiang-tiang dari dahan kecil tertancap, berlari bergocek berguling. Tak jauh, dua remaja putri berhijab hitam, berbaju merah dan hitam, tengah berendam sembari bermain ombak. Belasan tukik (anak penyu) mulai dilepaskan, ditaruh perlahan di atas pasir, merayap berhenti merayap berhenti merayap, lambat namun pasti menuju laut. (Adakah laut memanggilnya?) Gelombang mengalun perlahan, mengantar ombak tipisnya ke pantai, menjemput anak-anaknya satu per satu, membawanya pergi, pada Samudera Hindia. Sore lewat pukul 6, langit terang masih menggantung di Nisero, pesisir barat Aceh, Kamis 10 Februari 2022.

Read More

RUNVENTURE: BARON DANAU TONDANO

“Pelan-pelan saja,” Oma di jalan tersenyum menyapa. Baik Oma, terima kasih. Ya ya, tidak ada yang perlu digegas, tidak ada yang perlu diburu-burui. Sejauh-jauhnya, selelah-lelahnya, perjalanan toh akan membawa kembali ke titik awal. Nikmati saja langit dan bumi, heaven and earth. Nikmati juga basahnya keringat, letihnya kaki, tarikan-hembusan dalam napas. Berlarilah, dan berjalanlah. (“We are all tired, but are carrying on by strength, aren’t we?”)

Read More

KEPADA PARA PENJELAJAH TIMUR

Kepada para penjelajah hati,
Ketika lelah menjajakan kebaikan, kamu tak pernah sendirian

Kepada para penjelajah malam,
Ketika bulan dan bintang ada untukmu, kamu hanya butuh gelap

Kepada para penjelajah rasa,
Ketika tubuh banjir berpeluh, kamu selalu rindu sekaan

Kepada para penjelajah siang,
Ketika matahari memaksamu tertunduk, kamu dan ibu bumi menyatu

Kepada para penjelajah jalan,
Ketika jarak nan jauh menyeretmu, kamu hanya butuh hening

Kepada para penjelajah ruang,
Ketika panas terik mengurungmu, kamu tak pernah sebebas itu

Kepada para penjelajah waktu,
Ketika setiap detik adalah berkah, kamu adalah keabadian

(tentang perjalanan ke pulau lembata menjejakkan kaki menempuh jarak lari seratus kilometer di jalan debu bebatuan dan aspal hitam di antara obor dan tarian diantar tatapan ramah mama-bapa sapaan riang pemuda-remaja sorakan ramai ana-ana mengarungi kelam gelap malam di bawah cahaya bulan tersisa setengah dan gugusan acak bintang-bintang menyusur panjang garis pantai yang ombaknya membisu dan anginnya terdiam ditemani marshall yang setia dan sahabat di pemberhentian yang selalu siaga menyambut sepi pagi buta kota dipecah bising motor bersuara dijemput matahari siang yang apinya menjilat isi kepala pada rute lurus memanggang dan tanjakan melelahkan berteman kucuran keringat dan penat memabukkan menuju senjakala magis yang jatuh perlahan seraya mengantarkan air bersih untuk anak-anak negeri yang tak letih menanti)

Jelajah Timur – Lembata, 26-27 November 2021

Read More