HALUSINASI

Tetapi bagaimana kalau kukatakan begini, yang terjadi sebenarnya adalah justru malah sebaliknya? Ya, sebaliknya! Ini bukan halusinasi! Yang terjadi adalah bahwa aku baru saja dibangunkan dari halusinasi egoku, halusinasi panjangku selama ini, halusinasi-tidak-takut-mati-nya seorang pelari ultra.

Read More

SURAT UNTUK ANAKKU (22)

Awal bulan ini seorang pemuda tunet pemijat berbagi cerita denganku. Baginya, hidup hanya ada gelap dan terang, siang dan malam. Ya, hanya itu, Nak. Namun hidup tidak terpaku di dua sisi itu. Di balik gelap dan terang itu, dia punya banyak cerita. Tentang rambutnya yang dibiarkan gondrong terikat rapih dan tentang otot-otot kekar kaku yang disentuhnya. Tentang tempat tinggal sekaligus tempat prakteknya yang melompong dari perabot-perabot, yang berguncang setiap kali bus dan truk besar melintas kencang, di Jalur Pantura, di Kota Kendal, Jawa Tengah. Juga cerita tentang kampung halamannya, rindangnya pohon, kicauan burung, sejuknya angin perbukitan yang tiupannya menggoyang pelan jembatan gantung yang sering dilaluinya.

Read More

TEUKU UMAR 123

Cemara-cemara menjulang tinggi, berbaris rapih memanjang jauh, berkilo-kilo dari ujung satu ke ujung lainnya, seolah memagari hamparan pasir putih krem yang kotor oleh sampah. Dua belas remaja lelaki bermain “gala” (“galasin”) di atas pasir yang diberi tanda garis, dengan tiang-tiang dari dahan kecil tertancap, berlari bergocek berguling. Tak jauh, dua remaja putri berhijab hitam, berbaju merah dan hitam, tengah berendam sembari bermain ombak. Belasan tukik (anak penyu) mulai dilepaskan, ditaruh perlahan di atas pasir, merayap berhenti merayap berhenti merayap, lambat namun pasti menuju laut. (Adakah laut memanggilnya?) Gelombang mengalun perlahan, mengantar ombak tipisnya ke pantai, menjemput anak-anaknya satu per satu, membawanya pergi, pada Samudera Hindia. Sore lewat pukul 6, langit terang masih menggantung di Nisero, pesisir barat Aceh, Kamis 10 Februari 2022.

Read More

RUNVENTURE: BARON DANAU TONDANO

“Pelan-pelan saja,” Oma di jalan tersenyum menyapa. Baik Oma, terima kasih. Ya ya, tidak ada yang perlu digegas, tidak ada yang perlu diburu-burui. Sejauh-jauhnya, selelah-lelahnya, perjalanan toh akan membawa kembali ke titik awal. Nikmati saja langit dan bumi, heaven and earth. Nikmati juga basahnya keringat, letihnya kaki, tarikan-hembusan dalam napas. Berlarilah, dan berjalanlah. (“We are all tired, but are carrying on by strength, aren’t we?”)

Read More