MINANG GEOPARKRUN-2021

Ketidaknyamanan, atau kegagalan, atau kesedihan, atau apapun namanya itu, yang kita alami, sehari-hari, selalu ada hal setimpal yang baik dan positif di waktu dan di tempat yang lain, dengan atau tanpa kita sadari, dengan atau tanpa kita setujui. Semesta selalu punya caranya sendiri, misterinya sendiri, dan kita terlalu kerdil untuk memahaminya. Memangnya, who do we think we are?

Read More

GILA

Kalau kamu mengatakan aku gila, aku tak peduli, toh aku gila
(“Padahal kita sama-sama manusia, from flesh and blood, bernyawa dan berjiwa, hanya saja pada dimensi yang berbeda.”)

Kalau kamu marah karena aku gila, aku tak peduli, toh aku gila
(“Marahmu hanya untuk menutupi sejuta rasa bersalahmu, karena kamu dan duniamulah yang menyebabkanku gila.”)

Kalau kamu menjauhi aku karena gila, aku tak peduli, toh aku gila
(“Ada atau tiadanya kamu tak berbeda untuku, dan kalau buatmu juga begitu, lantas apa bedanya kita?”)

Kalau kamu malu karena aku gila, aku tak peduli, toh aku gila
(“Malu adalah bentuk kesombongan primitif manusiawimu, dan memasungku adalah persembunyian terkeji kelemahanmu.”)

Kalau kamu mengabaikan aku karena gila, aku tak peduli, toh aku gila
(“Tetapi bukannya kamu jauh lebih gila, karena telah mengabaikan aku, orang gila?”)

Read More

Lombok Bangkit (3/3) – Heading Into The Unknown

Sementara aku masih terbaring. Belum banyak kemajuan berarti. Fisioterapis, Tita dan Reki bergantian membantu, dengan es batu, kompresan, pijatan dan tekukan. Setiap kali aku mengerang, Tita akan berkata, “Ekspresif ya, Om.” (Belakangan aku baru tahu kalau maksudnya, “Galak sekali, Om.) Lexi menghampiri, memberi isyarat waktu sekitar 15 menit lagi untuk meninggalkan check point, pukul 14:30 beranjak menuju garis finish.

Read More

Lombok Bangkit (2/3) – Do You Wanna See Me Crawl?

Sesekali aku harus mencari bidang tanah datar -dan rindang- di pinggir jalan aspal, untuk berhenti. Berdiri sejenak. Tidak mampu melangkah, hanya berharap dapat mengendurkan sedikit otot-otot paha dan betis yang terus mengeras. Lalu melanjutkan langkah dengan postur semakin membungkuk, kepala tertunduk dalam. Petugas fisio yang melintas, sempat menepi untuk memastikan kondisi baik-baik saja. Mungkin aku akan butuh bantuan mereka nanti di check point depan. Atau mungkin juga tidak. Aku sangat jarang atau nyaris tidak pernah berurusan serius dengan fisioterapis di setiap kegiatan lari jauh.

Read More