Ultra (Trail) Man

Baru setengah perjalanan, sekitar kilometer 7, aku berhenti melangkah, berusaha menahan erangan sakit. Otot kedua pahaku menarik kencang, kram. Ingin duduk di tanah, hanya saja single-track tidak menyisakan ruang untuk itu, sementara beberapa peserta lain tidak jauh di belakang, terus bergerak maju. Jadilah berdiri, mematung, sambil -pura-pura- menikmati pemandangan, membiarkan peserta lain melewatiku. Bagusnya tidak ada yang bertanya, jadi tidak perlu berbohong.

Read More

Mataharimu dan Matahariku

Kalau di satu sore, di tanggal 24 Oktober 2025, terik matahari membakar aspal dan memanggangmu, yang dalam hitungan menit, keringat membasahi kepala dan kaosmu, membebani langkah-langkah awal kakimu, memaksa tersengal nafasmu dan sesak dadamu, sejak mulai berlari dari lapangan di Mbay-Nagekeo, dan kamu membenci matahari…

Ingatlah,

Kalau di setiap sore, di sepanjang tahun, di usia belasanku, matahari memanggangku, saat berjalan kaki di jalan bebatuan, membawa dua jeriken kosong lima liter, berjalan dua kilometer menuju tempat penampungan air hujan, mengisinya penuh, dan dengan lengan-lengan kecilku membawanya pulang, lalu kembali sekali lagi, aku membenci matahari lebih dari padamu.

Read More

CINCIN

Dua jam yang lalu, sekitar pukul 9:40 pagi, Jumat 25 Juli 2025, mobil yang kami tumpangi baru saja pecah ban kiri belakang. Mobil tak terkendali, menghantam tembok pemisah jalan toll di sisi kanan beberapa kali. Lalu menghantam badan truk besar pengangkut mobil di sisi kiri, yang sedang melaju dalam perjalanan dari Jakarta ke Jawa Timur membawa 6 mobil baru.

Read More

REMEMBERING GEDE

Tiba-tiba aku seolah disusup sosok berbeda. Entah dari mana datangnya. Mungkin sudah dimulai sejak aku menjajakkan kembali kaki di bibir puncak Gunung Gede, setelah mendaki sekitar empat jam dari Taman Cibodas. Pendakian Gede, untuk kesekian kali, ya aku tidak pernah menghitungnya, rasanya sudah puluhan kali. Argh, aku selalu mencintai Gunung Gede. Selalu. Kawah berasap belerang menganga lebar di bawah jurang yang dalam. Dinding tebing kokoh dan sunyi yang mengelilinginya. Panorama Gunung Pangrango yang menjulang cantik di seberang. Dan terutama, argh, lembah Alun-alun Surya Kencana. Padang edelweisnya. Harum rumputnya. Nyanyian kerikilnya. Tabir kabutnya. Pelukan dinginnya. Langit “milky way”-nya.

Read More