ULTRA

ULTRA

Mereka menyebutnya matahari
Yang memanggang kepala kami
Yang mengisap keringat kami
Yang melepuhkan telapak kaki kami.
Kami menyebutnya ultra

Mereka menyebutnya jarak
Yang mempertanyakan nyali kami
Yang menguji arah langkah kami
Yang memaksa tunduk ego kami.
Kami menyebutnya ultra

Mereka menyebutnya malam
Yang gelapnya menerawangkan kami
Yang dinginnya menenggelamkan kami
Yang heningnya membungkam kami.
Kami menyebutnya ultra

Mereka menyebutnya mental
Yang mengada dan tiadakan kepala kami
Yang meremas-mengempas dada kami
Yang mengejawantah dalam tarikan napas kami.
Kami menyebutnya ultra

Mereka menyebutnya batas
Yang menyatukan kekuatan dan kelemahan kami
Yang mengaburkan nyata dan halusinasi kami
Yang mencairkan air mata di ujung tawa kami.
Kami menyebutnya ultra

Ring of Lawu, 25 Juli 2026

Read More

WELIRANG

Tidak ada pilihan. Harus terus bergerak. Dari titik start di Kaliandra Resort, Pasuruan menuju Check Point (CP) 1 di Pondok Welirang. Sepuluh kilometer pertama dengan “elevasi-gain” 1.600 meter. CP sekaligus “horror” COP (cut-off point) yang harus ditempuh dalam waktu maksimal 5,5 jam, atau risiko “di-out-kan” kalau tidak bisa memenuhi waktu itu. Huft! Di jalur awal -jalur makadam, jalanan dengan batu pecah- berusaha melewati -dan juga tentunya dilewati- pelari-pelari (sebenarnya lebih tepat pejalan atau pendaki). Eh, don’t get me wrong, aku juga berjalan. Manalah mungkin -kecuali para pelari elit yang sudah melesat sejak awal- berlari di antara ratusan peserta, di jalanan bebatuan tidak rata, dan terutama mendaki. Hanya dan terus mendaki. Di antara deru langkah dan deru napas. Huft! Setelah jalur makadam, memasuki jalan setapak single track, dengan pandangan lepas ke sisi kanan lampu-lampu kota dan desa jauh di bawah sana. Tetap berusaha menjaga posisi, terus mengekor antrian, sambil mencuri napas saat antrian melambat. Melipir sejenak ke pinggir hanya akan berarti bersiap dilewati barisan antrian mengular di belakang, dan bakal tercecer, lalu horror COP kembali menghantui. Gak deh. Huft!

Read More

Oktober 2025

Aku telah menempuh 81 kilometer, sejak mulai berlari dari Lapangan Berdikari, Mbay-Nagekeo. Aku telah dipanggang 3 matahari Nusa Tenggara Timur, sejak start pukul 3 kemarin sore. Aku bahkan telah “menyerah” di KM3, mengganti lariku dengan kombinasi berjalan dan berlari, sambil mendaki dan terus mendaki ribuan meter elevasi-gain menuju Bajawa. Aku yang tak mampu melawan beratnya kelopak mata, terkapar 20 menit tengah malam, di atas deretan empat kursi, di ruangan SDK Nageoga-Boawae, KM53. Aku yang masih terus melangkah dengan badan terhuyung dan mata tertutup, tidur tanpa mimpi. Aku yang mengarungi malam panjang menuju subuh, memanggil matahari pagi, menantikan sinar ramahnya mengusir gelap dan hangat lembutnya menggantikan dingin. Aku telah berusaha menjaga agar tetap sadar dan awas, menjaga kondisi dan stamina, menjaga mental dan semangat, menjaga kaki dan kepala, menempuh jarak dan menembus waktu, memasuki “the unknown zone” di depan sana dan di dalam sini, di balik tubuh ini.

Read More