Semua yang Terkasih,
Satu dekade dulu, saat menjadi bagian dari kampanye “Yuk Nabung Saham”, saya bersemangat mengajak masyarakat -seluruh lapisan masyarakat, apapun profesinya- untuk menjadi investor saham. Menyisihkan uangnya, untuk ditabungkan dalam bentuk saham -menjadi pemilik perusahaan publik- demi “mengamankan” uangnya, mendapatkan dividen, seraya berharap kenaikan “nilai perusahaan” dan harga sahamnya, agar setidaknya uang-uang yang dihasilkan jerih payah dari hari ke hari, bulan ke bulan, tidak tergerus inflasi, tidak menurun daya belinya. Bermimpi menjadi kaya? Tidak perlu. Cukup punya “tabungan” nyaman masa depan, sembari melek investasi agar terhindar dari investasi-investasi bodong. Cuma berharap menjadi sedikit lebih sejahtera saja, tidak berlebihan. Seluruh rakyat negeri ini berhak untuk itu.
Tidak pernah terlintas sekalipun bahwa api semangat dan mimpi sederhana itu akan direnggut satu saat. Dan ternyata itu terjadi, hari-hari ini. Menyaksikan investasi pada saham-saham perusahaan yang selama ini layak menjadi tumpuan tabungan uang sekolah dan kuliah anak, atau tumpuan memasuki hari tua dengan tenang, menguap perlahan. Semangat dan mimpi yang -hari-hari ini- tidak hanya tidak didukung, tetapi seolah malah ditelantarkan; menyisakan masyarakat investor yang kebingungan dengan apa yang sedang terjadi, yang kehilangan arah ke mana harus bersuara, yang mengais-ngais mengumpulkan sisa investasinya yang terus terbakar. Yang meratap karena kehilangan mimpi untuk bisa menjadi lebih sejahtera.
Semua yang Terkasih,
Benih investasi kita pernah dan telah mampu dengan tegar melewati badai besar pandemi. Namun benih -sebaik apapun itu- tak akan mampu bertumbuh di saat tanah mendadak menjadi tandus. Sebaliknya, justru mengering dan membusuk. Karenanya, sementara waktu, berhentilah menabur benih di tanah yang tidak mendukung untuk tumbuh, di tanah yang menolak mimpi kita untuk menjadi sejahtera. Simpan baik-baik dulu saja benih-benih kita, mimpi-mimpi kita.
Semua yang Terkasih,
Kekecewaan kalian adalah kekecewaan saya.
Kemarahan kalian adalah kemarahan saya.
Tangisan kalian adalah tangisan saya.
Saya mengira negara ini selamanya akan baik-baik saja, mendukung kita, melindungi kita. Karenanya saya mengajak kalian menjadi investor saham. Saya salah. Saya mohon maaf.
Nicky Hogan
Direktur Bursa Efek Indonesia 2015-2018
CEO emitennews.com