You don’t choose your passion, it chooses you

Carmine Gallo

Lombok Bangkit (3/3) – Heading Into The Unknown

Sementara aku masih terbaring. Belum banyak kemajuan berarti. Fisioterapis, Tita dan Reki bergantian membantu, dengan es batu, kompresan, pijatan dan tekukan. Setiap kali aku mengerang, Tita akan berkata, “Ekspresif ya, Om.” (Belakangan aku baru tahu kalau maksudnya, “Galak sekali, Om.) Lexi menghampiri, memberi isyarat waktu sekitar 15 menit lagi untuk meninggalkan check point, pukul 14:30 beranjak menuju garis finish.

Read More

Lombok Bangkit (2/3) – Do You Wanna See Me Crawl?

Sesekali aku harus mencari bidang tanah datar -dan rindang- di pinggir jalan aspal, untuk berhenti. Berdiri sejenak. Tidak mampu melangkah, hanya berharap dapat mengendurkan sedikit otot-otot paha dan betis yang terus mengeras. Lalu melanjutkan langkah dengan postur semakin membungkuk, kepala tertunduk dalam. Petugas fisio yang melintas, sempat menepi untuk memastikan kondisi baik-baik saja. Mungkin aku akan butuh bantuan mereka nanti di check point depan. Atau mungkin juga tidak. Aku sangat jarang atau nyaris tidak pernah berurusan serius dengan fisioterapis di setiap kegiatan lari jauh.

Read More

INVESTULATOR

Berkembangnya waktu, akibat peran media massa juga sih, satu istilah saja -lebih simple- yang umumnya digunakan, “investor”, untuk setiap pelaku; pokoknya yang jual dan yang beli tanpa peduli alasannya, produknya, dan pakai duitnya siapa. Di pasar saham dan crypto misalnya, yang kita dengar adalah jumlah investor sudah sekian juta orang, dan bukannya jumlah spekulator, atau misalnya ada seminar investasi pasti cuan, bukannya seminar spekulasi tanpa tekor. Tentu saja, dibanding kata “spekulasi dan spekulator”, “investasi dan investor” terdengar lebih keren, cool, tidak memalukan mertua dan jauh dari cibiran tetangga.

Read More

Lombok Bangkit (1/3) – Azura

Azura mungkin tidak mengerti apa yang sedang dilakukan empat Laskar Pelari ini, Adita, Carla, Erry, dan Nicky, ditemani Januar, Bliagus, Etha, dan Romi, berlari sejauh 60K, dari Tanjung ke Bayan, Lombok Utara. Azura belum mengerti berapa besar angka donasi miliaran rupiah yang telah dikumpulkan, yang digagas perkumpulan IOA melalui charity run Lombok Bangkit untuk pelatihan guru-guru di sana. Azura kecil mungkin juga tidak mengerti apa yang telah terjadi dengan keluarga dan kediamannya, tiga tahun lalu, Agustus 2018, ketika gempa bumi beruntun, ratusan kali, telah memakan korban ratusan jiwa, meluluhlantakkan ribuan rumah di kabupaten termuda di pulau Lombok, yang baru berusia tiga belas tahun itu.

Read More