Aku merinding. Terpesona gambar di layar telpon genggam. Mendongakkan kepala, menyapu kembali potongan pemandangan hidup di depan mata. Biru cerah langit berhias potongan awan putih berpadu harmonis dengan danau tenang biru berkilap tersembunyi di antara pepohonan cemara hijau menjulang tinggi. Saatnya melepaskan semua kepenatan, meletakkan sejenak pikiran, membiarkan indra dan rasa berpesta.

Tidak sampai satu jam sejak mulai berlari dalam rangka Ekshibisi Danau Lut Tawar, Takengon – Aceh Tengah, dari start di pelataran Park Side Hotel, dengan rencana 51K mengitari danau, mata mulai dimanja. Danau di ketinggian 1.100 mdpl dalam nuansa pagi, dengan kabut tipis di kejauhan, seolah selimut putih. Langit pukul tujuh di ujung barat Indonesia berwarna kelabu, matahari masih mengendap, seolah bersiap menyeruak dan menghangatkan suhu yang masih empat belas derajat Celcius. Sebuah sampan dan nelayannya terpaku diam di permukaan danau yang tenang. Sebuah lukisan. Aku tidak tahan untuk tidak meraih telpon genggam dari tas pinggang. (Terhitung jari petualangan lari yang mampu memaksaku rela mengeluarkan telpon genggam; lalu menggenggamnya hampir sepanjang jalan, mengambil gambar sana sini.)

Bunga-bunga warna warni tumbuh subur dan liar di semak pinggir aspal dua lajur. Di antara warna merah, putih, kuning, ungu, hijau di sisi kiri jalan, dengan latar belakang danau, barisan bukit memanjang, dan bentangan langit. Montreux! Kita tidak perlu terbang jauh belasan jam ke kawasan danau di Swiss itu, tidak perlu menghabiskan puluhan juta rupiah untuk mendapatkan gambar dan ketenangan yang sama; cukup mendarat langsung di Bandara Rembele – Takengon, atau menempuh jalan darat tujuh jam dari Banda Aceh sambil menikmati liukan Dataran Tinggi Gayo.

Di Danau Lut Tawar, kita akan menemukan pemandangan “cangkul padang”, bagan-bagan rakit bambu penangkapan ikan depik yang tersebar di beberapa sudut. Depik adalah ikan berbentuk kecil memanjang, menyerupai ikan teri, salah satu ikan khas yang terdapat di perairan itu. Pak Shabela Abubakar, Bupati Aceh Tengah, yang menjamu kami makan malam dua hari sebelumnya, menuturkan khasiat ikan endemik yang disajikan goreng kering itu; kepalanya ampuh untuk mencegah flu, tetapi hati-hati dengan isi perutnya, kolesterol tinggi.

Hari itu, Sabtu 13 Maret 2021, matahari bersinar ramah di balik awan, berteman angin sejuk yang terus berhembus nyaman sepanjang 30K, sebelum para pelari -berasal dari Takengon, Meulaboh, Banda Aceh, Jakarta, Bogor, Semarang, dan Solo- beristirahat dan makan siang bersama. Setelah pagi hingga siang, mencium harum bunga kopi di pekarangan rumah warga, melintasi masjid-masjid aneka warna dan kubah di antara pemukiman penduduk, dengan hamparan sawah yang masih hijau di kanan kiri. Menempuh aspal naik turun yang runable, terkadang dengan hiasan tebing batu tinggi di sisi kanan, lembu-lembu di pinggir jalan yang memandang heran, kuda-kuda yang lebih memilih fokus sarapan paginya, dan anjing-anjing yang tidak hobby menggonggong dan menakut-nakuti.

Selesai menyantap mie Aceh atau nasi goreng, menyeruput kopi sanger (saling ngerti, “kasih tambahlah susunya sedikit, Bang, mengertilah, kondisi susah ini”, begitu hikayat asal usul nama ‘sanger’ yang pernah kudengar) rombongan kembali bergerak, senyamannya, untuk menuntaskan sisa 21K keliling danau, kembali menuju penginapan. Matahari mulai lebih galak, tetapi tetap terbantu tiupan angin sejuk, yang kadang untuk menikmatinya, kita perlu merentangkan lebar-lebar kedua tangan, sembari mengangkat sedikit dagu. Di sisi kiri selalu tersaji permukaan danau yang tenang, ampuh dilirik ketika paha dan tungkai kaki mulai terasa kencang. Plus hiburan dari anak-anak di pinggir jalan yang berseru, “Bang, Bang…”, dan ketika si runner menengok, mereka berdendang riang, “Bang-un tidur kuterus mandi…” (Asyem, jewer!)

Sementara anak-anak harapan masa depan bangsa yang tidak nakal, berseragam kuning, putra berpeci hitam dan putri berjilbab putih berkumpul di halaman sekolah, bertepuk tangan dan bersorak yel-yel “se-mang-ngat-semangat!” seraya mengangkat tangan dan melambai tinggi, dengan komando ibu dan bapak guru. Di tengah pandemi saat ini, dimana teman-teman seusianya di daerah lain, dan di belahan dunia lain, masih saja “mendekam terpenjara” di balik bilik-bilik tembok rumah masing-masing, anak-anak ini sedang menikmati sebuah kemewahan.

“Kemewahan” bisa hadir dalam berbagai bentuknya. Runventure adalah sebuah kemewahan dalam salah satu rupa lain. Bukan dalam pengertian fasilitas luar biasa sebelum dan sesudah lelarian, tentu saja, namun dalam cerita petualangan lari selama berjam-jam, menempuh puluhan kilometer. Seperti disampaikan oleh seorang pelari-hardcore kemarin saat lari, sembari mengunyah tempe tipis goreng renyah hangat yang dijajakan warung warga, dikelilingi sawah berlatar bukit hijau di satu sisi dan danau biru di sisi lainnya, di sepoi hembusan angin sejuk yang memainkan anak-anak rambut dan matahari yang teduh bersahabat, di bawah langit biru cerah dan awan-awan putih, “Kalau tau lari bisa kayak gini, nyesel juga gua selama ini ikut-ikutan race.”

Runventure membawa kita ke petualangan baru, yang kadang bukan hal baru. Runventure melambatkan waktu, yang sering sia-sia kita pacu. Runventure mengasah kembali indra-rasa, yang kita lupa kita punya.

Photo by: @jerdoet dan NH

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.