GILA

Kalau kamu mengatakan aku gila, aku tak peduli, toh aku gila
(“Padahal kita sama-sama manusia, from flesh and blood, bernyawa dan berjiwa, hanya saja pada dimensi yang berbeda.”)

Kalau kamu marah karena aku gila, aku tak peduli, toh aku gila
(“Marahmu hanya untuk menutupi sejuta rasa bersalahmu, karena kamu dan duniamulah yang menyebabkanku gila.”)

Kalau kamu menjauhi aku karena gila, aku tak peduli, toh aku gila
(“Ada atau tiadanya kamu tak berbeda untuku, dan kalau buatmu juga begitu, lantas apa bedanya kita?”)

Kalau kamu malu karena aku gila, aku tak peduli, toh aku gila
(“Malu adalah bentuk kesombongan primitif manusiawimu, dan memasungku adalah persembunyian terkeji kelemahanmu.”)

Kalau kamu mengabaikan aku karena gila, aku tak peduli, toh aku gila
(“Tetapi bukannya kamu jauh lebih gila, karena telah mengabaikan aku, orang gila?”)

Read More

Lombok Bangkit (2/3) – Do You Wanna See Me Crawl?

Sesekali aku harus mencari bidang tanah datar -dan rindang- di pinggir jalan aspal, untuk berhenti. Berdiri sejenak. Tidak mampu melangkah, hanya berharap dapat mengendurkan sedikit otot-otot paha dan betis yang terus mengeras. Lalu melanjutkan langkah dengan postur semakin membungkuk, kepala tertunduk dalam. Petugas fisio yang melintas, sempat menepi untuk memastikan kondisi baik-baik saja. Mungkin aku akan butuh bantuan mereka nanti di check point depan. Atau mungkin juga tidak. Aku sangat jarang atau nyaris tidak pernah berurusan serius dengan fisioterapis di setiap kegiatan lari jauh.

Read More

Lombok Bangkit (1/3) – Azura

Azura mungkin tidak mengerti apa yang sedang dilakukan empat Laskar Pelari ini, Adita, Carla, Erry, dan Nicky, ditemani Januar, Bliagus, Etha, dan Romi, berlari sejauh 60K, dari Tanjung ke Bayan, Lombok Utara. Azura belum mengerti berapa besar angka donasi miliaran rupiah yang telah dikumpulkan, yang digagas perkumpulan IOA melalui charity run Lombok Bangkit untuk pelatihan guru-guru di sana. Azura kecil mungkin juga tidak mengerti apa yang telah terjadi dengan keluarga dan kediamannya, tiga tahun lalu, Agustus 2018, ketika gempa bumi beruntun, ratusan kali, telah memakan korban ratusan jiwa, meluluhlantakkan ribuan rumah di kabupaten termuda di pulau Lombok, yang baru berusia tiga belas tahun itu.

Read More