#kenapasusahpatuh

Tulisan ini untuk kita, para pelari.

Ini bukan masalah program latihan. Ini bukan masalah takut gendut. Ini bukan masalah tidak melanggar apapun. Ini bukan masalah lari sendiri, yang penting physical-distancing. Ini bukan masalah menunjukkan “gua nih tetap lari”. Ini bukan masalah takut mati.

Ini masalah belajar dari rumah, bekerja dari rumah, ibadah saja harus di rumah. Ini masalah supir ojol yang terpaksa tetap harus keluar rumah demi makan sehari-hari. Ini masalah tenaga medis yang harus meninggalkan rumah dan taktahu apakah masih sempat kembali memeluk anaknya.

Ini masalah simpati.
Ini masalah empati.
Ini masalah patuh.

Kita bukan hanya pelari.
Kita juga manusia.

Read More

MONSTER YANG MENANGIS

Namun di saat itulah -ketika kita masih ingin meneruskan, ingin menyelesaikan, ingin menang- kita membutuhkan sosok lainnya. Monster. Monster kita. Dia tidak ada di kepala kita, dia bersembunyi di balik dada kita. Dan kita harus memanggilnya keluar (“Monster NH!”, atau ganti saja NH dengan namamu), untuk dia berperan mengambil alih tugas robot yang telah selesai, untuk meneruskan, untuk menyelesaikan, untuk menang. Untuk lari, untuk sepakbola, untuk pekerjaan, untuk keseharian, atau untuk apa saja. Positif, pun negatif.

Read More

KITA HANYA MENYAMPAIKAN…

Dan terutama, sekali lagi pengalaman “mengemis” donasi, pelajaran paling berharga darinya. Belajar untuk tidak perlu membawa perasaan. Tidak perlu tidak percaya dengan penolakan, tidak perlu marah dan sakit hati, tidak perlu sedih dan patah hati. Belajar melompat saja langsung ke tahapan akhir proses dalam menghadapi sebuah kenyataan; tahapan berserah, tahapan menerima kenyataan, apa adanya. Bukan urusan kita merespon. Itu urusan semesta, urusan Tuhan. “Kita hanya menyampaikan…”

Read More