Cemara-cemara menjulang tinggi, berbaris rapih memanjang jauh, berkilo-kilo dari ujung satu ke ujung lainnya, seolah memagari hamparan pasir putih krem yang kotor oleh sampah. Dua belas remaja lelaki bermain “gala” (“galasin”) di atas pasir yang diberi tanda garis, dengan tiang-tiang dari dahan kecil tertancap, berlari bergocek berguling. Tak jauh, dua remaja putri berhijab hitam, berbaju merah dan hitam, tengah berendam sembari bermain ombak. Belasan tukik (anak penyu) mulai dilepaskan, ditaruh perlahan di atas pasir, merayap berhenti merayap berhenti merayap, lambat namun pasti menuju laut. (Adakah laut memanggilnya?) Gelombang mengalun perlahan, mengantar ombak tipisnya ke pantai, menjemput anak-anaknya satu per satu, membawanya pergi, pada Samudera Hindia. Sore lewat pukul 6, langit terang masih menggantung di Nisero, pesisir barat Aceh, Kamis 10 Februari 2022.


Sebuah perbincangan ringan beberapa bulan sebelumnya, di pojokan meja kayu busuk berwarna hijau, di sekitaran Senayan Jakarta, setelah usai lelarian Minggu pagi, sembari mengunyah Mie Ayam Gaul dan menghirup segelas es jeruk manis. Topiknya, haul Teuku Umar yang selalu diperingati warga Aceh dengan (lomba) long march 43K, dari lokasi tertembaknya suami Cut Nyak Dien itu di Meulaboh, hingga ke makamnya di atas Gunung Rayeuk Tameh. Kenapa tidak kita -pelari- ikut ambil bagian juga dengan berlari 43K? Dan kalaulah tahun 2022 menandai 123 tahun wafatnya Teuku Umar, kenapa tidak kita tambahkan juga angka 80K? Genap sudah 123K, 80K untuk hari pertama 11 Februari 2022 dan 43K untuk keesokan harinya, bersamaan dengan acara long march.


“Singoh benguoh tanjoë ta djéb kupi di Meulabôh atawa Lôn akan sjahid” (“Besok kita akan minum kopi di keude Meulaboh atau saya akan syahid di perang suci”).

Kalimat legendaris dan misterius dari Teuku Umar saat berjalan ke Meulaboh 123 tahun lalu, tercetak di punggung kaos pelari. Kaos yang basah kuyup oleh keringat. Sejak start di depan tugu Nisero-Quaestie, sebuah tugu sederhana berbentuk kapal, di pinggir laut, lokasi penanda awal perlawanan Teuku Umar kepada Belanda, matahari tinggi sudah langsung “menghukum” para pelari. Pukul 9 pagi kurang 4 menit, atau sekitar tiga jam meleset dari jadwal awal. Dan selanjutnya adalah kisah tubuh-tubuh panas jalanan yang terkuras cepat staminanya, cair ke aspal. Jalanan ke arah Meulaboh, aspal mulus datar lurus panjang dengan belokan-belokan kecil yang hanya untuk menyuguhkan kembali pemandangan serupa, perlahan menguapkan mental pelari ke udara.

Istirahat, sholat Jumat, makan siang. Dan selanjutnya, kembali menapaki aspal mulus datar lurus panjang. Hawa kering panas tidak beranjak, langit biru bersih terang, awan tipis tak berdaya menghalangi. Pohon rindang satu dua adalah tempat berteduh dan bersyukur. Langkah-langkah panjang berganti menjadi langkah-langkah kecil yang diseret lemah. Sementara di atas sana, matahari setia menanti pelari, seperti laut yang setia menanti tukik.

If happiness wasn’t in comfort, was it somehow to be found in being uncomfortable? Was there some need for those of us with no suffering in our lives, to find some?
Because it made us appreciate our homes and our comforts more?
Or did suffering a little somehow make us stronger, more fulfilled human beings?

Adharanand Finn – The Rise of The Ultra Runners


Cerita lari adalah cerita tentang persahabatan yang menguatkan, tentang kebahagiaan yang dibagikan, tentang perjalanan yang diulang-ulang.

Cerita sama kembali, ketika memulai hari kedua, pagi pukul 7 dari tepi pantai Suak Ujong Kalak, Meulaboh, di depan tugu Kupiah Meuketop -topi adat khas Aceh yang melekat dengan sosok Teuku Umar- di antara rombongan-rombongan long march yang tengah bersiap, hingga pukul 4 sore ketika mencapai peristirahatan terakhir (yang sebelumnya pada masa perjuangan berpindah berkali-kali) Sang Tjohan Pahlawan, lereng bertingkat-tingkat yang rimbun dalam tenang belantara.

Cerita lari, cerita lari jauh, adalah cerita tentang panas (dan hujan), tentang siang (dan malam), tentang keringat (dan air mata).

Cerita lari, cerita lari ultra, adalah cerita tentang petualangan dan ketagihan, cerita tentang pencarian dan penderitaan, cerita tentang ambisi dan mimpi.

Then, I dreamt I was a “tukik”.

Have you heard of Master Zhuang’s paradox? ‘I dreamt I was a butterfly (versiku: tukik). Now I’ve woken up and I no longer know if I’m a person who dreamed he’s a butterfly (tukik) or if I’m a butterfly (tukik) who’s dreaming it’s a person.’

NH

Credit 📸: NH & @rsaphotoworks

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.