“Tidak ada jalan pintas menuju kaya.” Kalau gak setuju, jangan diterusin bacanya.

Kita pinjam istilah “split-second syndrome”-nya Malcolm Gladwell, siapa tahu nyambung. Begini kira-kira. Kesalahan terlalu mudah dimaklumi sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari. Kenyataan pahit seolah sulit dihentikan dan dikendalikan, dianggap sudah terlalu biasa. “Korban investasi bodong, atau binomo, atau robot tralala, dan sejuta kutu busuk lainnya (ini pinjaman dari Kapten Haddock), lagi dan lagi.” Ampun dah!

Terus gini, ternyata pikiran bawah sadar tidak berbeda dengan pikiran sadar. Misal, “pengen cepet kaya!”, mereka kompakan. Berita baiknya, pada keduanya, kita bisa mengembangkan pola berpikir dan pola pengambilan keputusan yang cepat (dan benar), melalui pengalaman dan pelatihan.

Dimaklumi, kalau belum punya pengalaman, lantaran masih muda usianya (atau muda cara pikirnya padahal usia lolita – lolos 50 tahun), tapi pan ada disebut satu lagi tadi, pelatihan. Gak mesti selalu berbayar (kadang yang berbayar malah sesat, kadang lho). Pelatihan bisa dengan berlatih aja sendiri, banyak membaca, membaca, dan membaca.

(Konon, kuping diciptakan buat landasan cantelan kacamata dan obyek jeweran buguru, tapi kalau dipakai sebagai alat dengar ya gak papa juga, cuma mbok ya jangan buat dengerin gosip si A dapet sekian juta seminggu, si Z beli motor baru dari “kutu busuk” ono.)

Kalau bacanya baca postingan si ini si itu boleh? Atau nonton postingan si itu si ini? Sejatinya, jauh lebih banyak bacaan yang benar daripada yang jahat, dan sebaliknya jauh lebih banyak tontonan yang jahat daripada yang benar. Gak setuju? Terserah.

Apapun yang kita asup ke pikiran sadar akan disimpan di pikiran bawah sadar; daging ya daging, sampah ya sampah. Di kesempatan berikutnya, saat kita hendak mengambil keputusan (yang seringnya diburu-buruin), reaksi naluriah saat split-second syndrome beraksi, saat kedua pikiran kita itu kompak, yang nimbun sampah ya keluar sampah, alhasil sumpah serapah. Yang nimbun daging ya keluar daging, berakhir happy ending.

(Tuhan aja waktu menciptakan, satu satu, bertahap. Langit dan bumi dulu, terus darat dan laut, lalu tumbuhan dan binatang, barulah manusia, orang. Gak jreng jreng langsung semuanya, ada orangnya. Lha kita kok maunya enak langsung jadi “orang”, lewati dulu dong proses pra-orangnya.)

Baidewei, emang enak kaya mendadak, miskin tetiba cus langsung kaya? Bukannya enakan yang pelan tapi pasti?

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

4 replies on “SUKA BACA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.