API UNGGUN 24082020, EMPAT EMPATI

Saya suka istilah mentor saya, Dr. Tito Sulistio, “Negara harus hadir!” Di setiap provinsi -dalam hal investasi dan pasar modal- OJK dan BEI harus hadir, physically. (Kalau saya kepala daerah yang daerahnya tidak “dihadiri”, saya akan sangat tersinggung, kecuali itu adalah sinyal bahwa daerah saya direlakan merdeka.) Atau kalau masih berhitung angka-angka, otoritas harusnya sadar bahwa kebodohan dan tipu-tipuan itu jauh lebih besar biayanya, dibanding sekadar bayar sewa gedung, bayar listrik, dan gaji beberapa gelintir manusia. Rian dan Nasir baru saja mengajarkan kita bagaimana agar setidaknya 10% penduduk Indonesia menjadi investor pasar modal. Datangilah warga, “rumah demi rumah”. Seperti mereka, berempatilah.

Read More

MY NAME IS DY, GREE-DY

Kenapa orang berinvestasi di penny stocks? Karena ingin cepat kaya? Ketidaksabaran. Berinvestasi dan membeli saham beberapa juta rupiah, lantas bermimpi menjadi miliarder dalam hitungan hari atau minggu, cukup untuk membeli sepeda ratusan juta keluaran terbaru, plus membayar hutang di warung BuYem di gang sebelah yang belum dilunasi sejak dua bulan lalu. (Beberapa saham recehan memang sengaja dirancang dengan gaya gravitasi besar, tapi kita kan bukan laron?)

Read More

INTUISI MILENIAL

Peraih hadiah Nobel, Daniel Kahneman, dalam bukunya “Thinking, Fast and Slow”, membagi pemikiran manusia menjadi sistem 1 “berpikir cepat” dan sistem 2 “berpikir lambat”. Sistem 1 bersifat intuisi, kita terlahir dalam keadaan siap – mengenali benda, takut laba-laba, dan menghindari kerugian. Sedangkan sistem 2 adalah operasi sengaja yang membutuhkan perhatian – berjalan lebih cepat dari biasa, menjaga kelakuan dalam situasi sosial, mengisi surat laporan pajak.

Read More