TERLANJUR SAYANG

Investor yang membeli saham (dan reksa dana) dengan harapan uangnya tidak dikonsumtifkan (diboroskan), dan tidak tergerus inflasi (nilainya menurun), yang berinvestasi untuk simpanan bekal rencana nikah, punya bayi, anak sekolah dan kuliah, hingga keinginan pensiun tua makmur, plus mimpi indah financial freedom, jelas sudah, itulah “mengamankan aset”, mengubah bentuk aset uang anda yang rentan ke bentuk instrumen lain, untuk tujuan mengamankan. Kenaikan harga saham, plus dividen berkala, menjadi harapan agar mampu menaikkan (baca: mengamankan) nilai asetnya, untuk nantinya cukup menutupi semua kebutuhan keluarga dan kehidupan, serta mimpi masa depan di kemudian hari. (Syukur-syukur semesta berbaik hati, ada hasil lebih.) Itulah yang namanya investasi. Itulah pengertian mengamankan aset. Titik. Sederhana.

Read More

SIAPA BILANG GAMPANG…

“Berasap liatin saham”
*sapa suruh lu liatin
Hahaha buat jangka panjang, gak usah diliatin sih

“Pasien banyak komen. Untung suruh jual”
*dada gua tercabik-cabik
Gak usah denger banyak orang. Beli simpen aja dah

“Beli mesti jual la. Gak jual drop mateng la”
*la-la-la, lu lebih percaya gua yang sehat atau pasien lu yang sakit sih?
Beda aliran

“Invest ya”
*iye Kakak, iyeehhh…

Read More

MEMPERTANYAKAN NABUNG SAHAM

Nabung Saham bukanlah merupakan sebuah realitas objektif. Layaknya “dollar-cost-averaging”, kalau awalnya hanya merupakan sebuah realitas subjektif, kemudian bergerak melebar menjadi sebuah realitas intersubjektif. Karena tidak bersifat mutlak layaknya gravitasi, realitas non-objektif sangat tergantung kepada keyakinan masing-masing individu dan kelompok. Dan karenanya menjadi sah-sah saja kalau ada individu atau kelompok yang tidak setuju dan tidak menyukai kata-kata itu, atau tidak menganggapnya bermakna apa-apa.

Read More