Danau Tondano, Sulawesi Utara, 23 Januari 2022, 05.10 am.

Sekitar tiga puluh pelari mulai melangkahkan kaki. Langit hitam, hanya sedikit garis pendar dari cahaya matahari yang masih sembunyi, di antara bayang-bayang tanaman rumput tinggi di kanan kiri jalan. Dalam bayang gelap, berderap penuh percaya menapak aspal mulus dan rata. Tanpa takut tersandung jatuh. Tanpa senter. Sejenak pikiranku melompat ke satu malam, dua bulan lalu.

Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, 26 November 2021, tengah malam.

Aku mematikan senter di dahi. Langit di atas kepala betabur bintang-bintang dan bulan yang tersisa separuh. Sinarnya yang mencapai bumi cukup untuk memantulkan remang garis putus-putus pemisah tengah jalan. Paduan sempurna dengan aspal mulus dan rata, untuk mengayunkan kaki melaju “terbang” turun. Mata menelan satu demi satu barisan garis putih, telinga menangkap hanya keheningan, membiarkan banyak rasa bergolak di balik dada. Larut. Dalam gelap, dalam sunyi, dalam kesendirian. Kontemplasi.

“I wanted secrets whispered at midnight, and road trips without a map.”

KEMBALI KE TITIK AWAL

Waroenk Wale Walanda, sebuah “waroenk” dengan penginapan 6 villa indah dan kolam-kolam teratai ungunya yang mekar di antara jalan jembatan kayu di atas air, dan pesona pemandangan 4 gunung yang mengelilingi Danau Tondano, menjadi titik awal.

Baron Danau Tondano. Ide berlari-bertualang, runventure (“suka ajah berlari di tempat-tempat yang belum pernah dilariin”) berempat bersama Akbar-Anne-Carla, Mengelilingi Danau Tondano, hanyalah sebuah ide sederhana (sesederhana gerakan berlari, cukup mengayunkan tangan dan kaki, sebuah naluri purba homo sapiens). Lantas, nyatanya teman-teman Minahasa Runners, Mareno Runners, dan Sulut Pacer Team sungguh berbaik hati, antusias menyambut, membantu, dan mendampingi. (Makaseh jo!)

Mengelilingi garis aspal tepi danau, lintasan sepanjang 46K. Penuh sepanjang jarak itu, atau boleh juga kalau ada yang hanya mau menempuh 5K, 10K, 21K, atau berapapun, se-happy-nya saja, se-rela-nya saja. Berlari. Juga berjalan.

Kalau tiga hari berturut-turut sebelumnya diinfokan hujan deras, nyaris badai, pagi itu -hingga siang selesai lelarian- langit luar biasa bersahabat, sebuah bentuk kemewahan, untuk pelari. Angin dingin danau, sembilan belas derajat celcius, bertiup perlahan mengiringi langkah-langkah awal. Cakrawala memulai semburat magis-jingganya di atas danau di sisi kiri jalan. Gumpalan-gumpalan awan menyeruak menghalangi matahari, memantulkan warna-warninya ke permukaan danau yang tenang. Perlahan, langit membiru.

Udara terus cerah, dan sejuk, pada lintasan jalan aspal, yang sebagian besar rata dengan sedikit saja naik turun tanjakan tipis. Melintasi warung-warung dan resto-resto pinggir danau yang masih tutup (tunggu saja, nanti sore kami akan kembali, untuk mencicip lobster air tawar dan perkedel ikan khasnya, nike). Masuk keluar pemukiman warga danau, dari satu desa ke desa berikutnya. Hingga KM 16, disambut pemandangan luas dan lapang dengan bentang pematang sawah tergenang dan hamparan padi-padi yang menghijau, berhias latar barisan gunung di kanan dan Tondano di kiri. Sejauh mata memandang, keindahan panorama sepanjang 3K lurus.

Kembali melintas pemukiman demi pemukiman. Panggilan lonceng Minggu pagi berdentang, anak-anak, remaja, orang dewasa, opa oma bertongkat berjalan kaki ke gereja, saling melempar sapa. Khotbah dan puji-pujian dari balik gedung-gedung ibadah, dari bangunan baru hingga yang berusia ratusan tahun, yang satu dan yang lainnya hanya berjarak ratusan meter.

“Pelan-pelan saja,” Oma di jalan tersenyum menyapa. Baik Oma, terima kasih. Ya ya, tidak ada yang perlu digegas, tidak ada yang perlu diburu-burui. Sejauh-jauhnya, selelah-lelahnya, perjalanan toh akan membawa kembali ke titik awal. Nikmati saja langit dan bumi, heaven and earth. Nikmati juga basahnya keringat, letihnya kaki, tarikan-hembusan dalam napas. Berlarilah, dan berjalanlah. (“We are all tired, but are carrying on by strength, aren’t we?”)

Warga telah selesai beribadah, anak-anak dalam gandengan ibunya berjalan kembali ke rumah. Perjalanan mengelilingi penuh, baron danau, mendekati ujungnya, tengah hari. Memasuki Kota Tondano, KM44, singgah di Alun-Alun (“God Bless Minahasa”), singgah di Benteng Moraya, dan finish di Waroenk, titik awal.

“Sometime life brings you full circle to a place you have been before, just to show you how much you have grown.”

(Catatan: Dan di akhir perjalanan, kadang kalau beruntung, kita akan mendapatkan bouquet bunga indah.)

NH

Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.