API UNGGUN 24082020, EMPAT EMPATI

Saya suka istilah mentor saya, Dr. Tito Sulistio, “Negara harus hadir!” Di setiap provinsi -dalam hal investasi dan pasar modal- OJK dan BEI harus hadir, physically. (Kalau saya kepala daerah yang daerahnya tidak “dihadiri”, saya akan sangat tersinggung, kecuali itu adalah sinyal bahwa daerah saya direlakan merdeka.) Atau kalau masih berhitung angka-angka, otoritas harusnya sadar bahwa kebodohan dan tipu-tipuan itu jauh lebih besar biayanya, dibanding sekadar bayar sewa gedung, bayar listrik, dan gaji beberapa gelintir manusia. Rian dan Nasir baru saja mengajarkan kita bagaimana agar setidaknya 10% penduduk Indonesia menjadi investor pasar modal. Datangilah warga, “rumah demi rumah”. Seperti mereka, berempatilah.

Read More

PUNYA UANG?

Saya suka dengan jawaban, “Waktu yang paling tepat untuk membeli saham adalah ketika kita punya uang.” The best time to invest is when we have money. Punya uang? Uang “dingin” untuk masa panjang dan masa depan? Beli! Titik. Salah, tanda seru. Saya akan selalu menjawab sama, entah lima tahun lalu, entah 2018, entah akhir tahun lalu, pun saat-saat ini di tengah krisis pandemi. Saya anaknya konsisten, untuk yang satu ini.

Read More

SAYA MESTI GIMANA COBA?

Ponakanku (karena saya dipanggil Om) terkasih, jangan main saham! Dia bukan untuk mainan, karena dia bisa membuat kita lebih kaya sejahtera bahagia. Kalau yang namanya mainan, biasanya hanya sekadar memberi rasa senang, plus bayar, tapi tidak menjadikan kita kaya sejahtera. (“Makanya para pemain saham banyak yang kehilangan uangnya, karena mereka harus membayar untuk bermain.”)

Read More

IF

“Jika kamu mampu menjaga akal sehatmu, saat yang lain kehilangannya…
 Jika kamu mampu menunggu dan tidak menjadi lelah karenanya…
 Jika kamu mampu berpikir – dan tidak mempertanyakan tujuanmu…
 Jika kamu mampu percaya diri ketika semua orang meragukanmu…
 Dunia, dan segala isinya adalah milikmu”

Read More