POMPOM SANG KAPITALIS

Menyandang status investor, kalah mentereng dibanding menenteng tas kulit biawak keluaran terbaru, kalah mutakhir dibanding menggenggam handphone berkamera tiga, kalah kekinian dibanding menghabiskan waktu berjamjam nongkrong ngopi di cafe happening. Belum lagi dongeng seribu satu malam tiada habis soal risiko, ketidakmenentuan, penantian panjang, dan cerita-cerita tidak sedap lainnya. Salah satunya, cerita rugi. Investasi kok rugi, buat apa.

Read More

SAHAM, BEGINI (SEHARUSNYA) CERITANYA

Jack Ma melintas, menitipkan ini. “Tolong jangan sebut diri kita investor jika menghasilkan uang saat pasar saham terlihat sehat, karena seorang wanita tua di jalan pun bisa melakukannya. Kita hanya benar-benar bisa disebut investor jika mampu membuat keuntungan saat pasar saham sedang bermasalah.” (Izin menambahkan, Jack, “Atau minimal mampu bertahan dengan kepala dan hati tetap tenang, menunggu badai berlalu.”) Si Kutu Buku kembali melintas, “Kita mungkin menderita hari ini dan besok, tapi lusa akan menjadi hari yang baik, jadi jangan menyerah hari ini.” (Izin lagi, Jack, “Atau kita bakal kehilangan hari esok dan lusa kita.”)

Read More

PUNYA UANG?

Saya suka dengan jawaban, “Waktu yang paling tepat untuk membeli saham adalah ketika kita punya uang.” The best time to invest is when we have money. Punya uang? Uang “dingin” untuk masa panjang dan masa depan? Beli! Titik. Salah, tanda seru. Saya akan selalu menjawab sama, entah lima tahun lalu, entah 2018, entah akhir tahun lalu, pun saat-saat ini di tengah krisis pandemi. Saya anaknya konsisten, untuk yang satu ini.

Read More

MATAHARI TERBENAM TERAKHIR DALAM HIDUPKU

Matahari yang nyaris terbenam di ujung garis laut sana terlalu indah untuk diusik. Kami memilih menikmatinya masing-masing, dalam diam. Kalian tahu? Kami berdua adalah pecinta lari di atas pasir, pecinta matahari senja. Kami pecinta gunung, pecinta alam. Kami pecinta keindahan, pecinta keheningan. Sekalipun pantai Kuta masih riuh menjelang sunset seperti ini, seperti biasanya. Tapi buatku, sore itu Kuta begitu hening, begitu sepi. Suara-suara manusia di sekeliling tidak mengusikku sama sekali, tidak lebih keras dari suara debur ombak dan suara alam magis yang tiba-tiba hadir. Ya, hanya ada suara-suara itu. Dan dia yang hadir, berjalan di sisi kiriku. Aku mau menikmati senikmat-nikmatnya sore ini, mengenangnya untuk jangka waktu yang panjang, dimanapun aku berada. Besok mungkin masih akan ada matahari terbenam yang lain, tetapi aku? Aku pastilah bukanlah aku yang sekarang. Dan dia juga mungkin tidak akan bersamaku lagi. Tidak berdua seperti ini. Besok siang kami akan kembali ke Jakarta, kembali ke rutinitas sehari-hari kami. Kembali ke sorotan kamera dan sekat-sekat news-room. Kembali ke kumpulan teman-teman kami. Teman-teman kami berdua.

Read More