JENDELA DAN MATAHARI

Jendela besar itu terpasang di depan teras, di tengah-tengah bangunan dua lantai mirip kastil, menggusur dua pintu kayu berat ke sisi kiri dan kanannya. List kayu membelah jendela menjadi sembilan kotak kaca, dengan hiasan setengah lingkaran kaca di atasnya; sebuah setengah lingkaran kecil lainnya dan empat list kayu membentuk sinar matahari.

Pukul 07:00. Suhu 12 derajat celcius. Aku berdiri di balik jendela. Menyapu perlahan pandanganku.

Jalan kecil berkerikil hitam, hamparan luas rumput hijau pendek rapih, laut biru yang tenang, bukit-bukit hijau dataran tinggi Isle of Skye, sedikit diselimuti awan putih, dan langit biru yang terbentang luas dan tinggi.

Sebatang pohon kecil di sisi kiri dan sebatang lainnya tanpa daun di sisi kanan, dan feri kecil putih -yang kemarin sore mengantarku menyeberang- tersandar di dermaga.

(Terima kasih kepada jendela, dan kepada matahari yang telah memberi warna-warna indah ini. “To praise the sun is to praise your own eyes.” ~ Rumi)

Read More

Kabut Bulan Mei

Tak ada yang lebih tabah
dari kabut bulan Mei
Dititipkannya dingin rindunya
kepada langkah pendaki itu

Tak ada yang lebih bijak
dari kabut bulan Mei
Dibasuhnya hamparan rumput
yang pasrah di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
dari kabut bulan Mei
Dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar edelweis itu

(Inspirasi dari “Hujan Bulan Juni” ~ Sapardi Djoko Damono)

Read More