Kabut Bulan Mei

Tak ada yang lebih tabah
dari kabut bulan Mei
Dititipkannya dingin rindunya
kepada langkah pendaki itu

Tak ada yang lebih bijak
dari kabut bulan Mei
Dibasuhnya hamparan rumput
yang pasrah di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
dari kabut bulan Mei
Dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar edelweis itu

(Inspirasi dari “Hujan Bulan Juni” ~ Sapardi Djoko Damono)

Read More

SURAT UNTUK ANAKKU (22)

Awal bulan ini seorang pemuda tunet pemijat berbagi cerita denganku. Baginya, hidup hanya ada gelap dan terang, siang dan malam. Ya, hanya itu, Nak. Namun hidup tidak terpaku di dua sisi itu. Di balik gelap dan terang itu, dia punya banyak cerita. Tentang rambutnya yang dibiarkan gondrong terikat rapih dan tentang otot-otot kekar kaku yang disentuhnya. Tentang tempat tinggal sekaligus tempat prakteknya yang melompong dari perabot-perabot, yang berguncang setiap kali bus dan truk besar melintas kencang, di Jalur Pantura, di Kota Kendal, Jawa Tengah. Juga cerita tentang kampung halamannya, rindangnya pohon, kicauan burung, sejuknya angin perbukitan yang tiupannya menggoyang pelan jembatan gantung yang sering dilaluinya.

Read More