SAPUQ

Aku ingat sekarang, cahaya tubuhnya itu yang menarik perhatianku. Juga sapuq yang melingkar di kepalanya. Sepotong wajah asing bagi suku kami, tetapi balutan sapuq telah membuatnya tampak istimewa. Karenanya aku mengikutinya sejak tadi. Sudah berapa kilometer kami berlari dan berjalan? Lebih dari tiga jam, selepas meninggalkan bangunan sekolah tempatku mengajar. Tadi aku sempat mencuri dengar, dia dan rombongan sudah berlari dua puluh kilometer, sejak subuh. Singgah di sekolahku, sebelum melanjutkan perjalanan, masih dua puluh kilometer ke pos peristirahatan berikutnya dan sisanya dua puluh kilometer lagi barulah tiba di garis akhir, sisi utara pulau. Jauh ternyata. Aku akan mengikuti semampuku saja, atau selama dia masih mengizinkanku.

Read More

Lombok Bangkit (3/3) – Heading Into The Unknown

Sementara aku masih terbaring. Belum banyak kemajuan berarti. Fisioterapis, Tita dan Reki bergantian membantu, dengan es batu, kompresan, pijatan dan tekukan. Setiap kali aku mengerang, Tita akan berkata, “Ekspresif ya, Om.” (Belakangan aku baru tahu kalau maksudnya, “Galak sekali, Om.) Lexi menghampiri, memberi isyarat waktu sekitar 15 menit lagi untuk meninggalkan check point, pukul 14:30 beranjak menuju garis finish.

Read More

Lombok Bangkit (2/3) – Do You Wanna See Me Crawl?

Sesekali aku harus mencari bidang tanah datar -dan rindang- di pinggir jalan aspal, untuk berhenti. Berdiri sejenak. Tidak mampu melangkah, hanya berharap dapat mengendurkan sedikit otot-otot paha dan betis yang terus mengeras. Lalu melanjutkan langkah dengan postur semakin membungkuk, kepala tertunduk dalam. Petugas fisio yang melintas, sempat menepi untuk memastikan kondisi baik-baik saja. Mungkin aku akan butuh bantuan mereka nanti di check point depan. Atau mungkin juga tidak. Aku sangat jarang atau nyaris tidak pernah berurusan serius dengan fisioterapis di setiap kegiatan lari jauh.

Read More

INVESTULATOR

Berkembangnya waktu, akibat peran media massa juga sih, satu istilah saja -lebih simple- yang umumnya digunakan, “investor”, untuk setiap pelaku; pokoknya yang jual dan yang beli tanpa peduli alasannya, produknya, dan pakai duitnya siapa. Di pasar saham dan crypto misalnya, yang kita dengar adalah jumlah investor sudah sekian juta orang, dan bukannya jumlah spekulator, atau misalnya ada seminar investasi pasti cuan, bukannya seminar spekulasi tanpa tekor. Tentu saja, dibanding kata “spekulasi dan spekulator”, “investasi dan investor” terdengar lebih keren, cool, tidak memalukan mertua dan jauh dari cibiran tetangga.

Read More