Tidak ada pilihan. Harus terus bergerak. Dari titik start di Kaliandra Resort, Pasuruan menuju Check Point (CP) 1 di Pondok Welirang. Sepuluh kilometer pertama dengan “elevasi-gain” 1.600 meter. CP sekaligus “horror” COP (cut-off point) yang harus ditempuh dalam waktu maksimal 5,5 jam, atau risiko “di-out-kan” kalau tidak bisa memenuhi waktu itu. Huft! Di jalur awal -jalur makadam, jalanan dengan batu pecah- berusaha melewati -dan juga tentunya dilewati- pelari-pelari (sebenarnya lebih tepat pejalan atau pendaki). Eh, don’t get me wrong, aku juga berjalan. Manalah mungkin -kecuali para pelari elit yang sudah melesat sejak awal- berlari di antara ratusan peserta, di jalanan bebatuan tidak rata, dan terutama mendaki. Hanya dan terus mendaki. Di antara deru langkah dan deru napas. Huft! Setelah jalur makadam, memasuki jalan setapak single track, dengan pandangan lepas ke sisi kanan lampu-lampu kota dan desa jauh di bawah sana. Tetap berusaha menjaga posisi, terus mengekor antrian, sambil mencuri napas saat antrian melambat. Melipir sejenak ke pinggir hanya akan berarti bersiap dilewati barisan antrian mengular di belakang, dan bakal tercecer, lalu horror COP kembali menghantui. Gak deh. Huft!

Namun sebenarnya ada hal lain yang tak kalah horrornya…

Bendera start dikibarkan untuk para peserta trail-race Mantra116 kategori 38K Gunung Welirang tepat pukul 00.00 Minggu, 5 Juli 2026. Jarak 38 kilometer yang harus ditempuh, dengan total elevasi 2.750 meter, dan waktu cut-off time (COT) 15 jam. Artinya, harus mencapai garis finish kembali di Kaliandra paling lambat pukul 3 sore. Sedangkan, jadwal penerbanganku pukul 7 malam. Hanya ada waktu empat jam untuk berjalan tertatih-tatih dari gapura finish ke penginapan, mandi sekenanya (kalau tidak, kasihan seisi pesawat dengan kombinasi bau keringat, bau matahari dan bau telur busuk belerang), makan bener (kalaupun masih mungkin), lalu perjalanan ke bandara Juanda-Surabaya, check-in, dan seterusnya. Itupun kalau masuk finish pukul 3 sore. Bagaimana kalau waktunya lebih dari itu? Bagaimana kalau cedera di puncak gunung atau di dalam hutan? Bagaimana kalau nyasar di antah berantah? Huft!


Tiba di CP 1, Suunto-ku menunjukkan pukul 03:52! Dapat “tabungan” waktu 1,5 jam. Lebih dari cukup nantinya di bawah untuk istirahat makan dan mandi maksimal. (“Selamat” sudah seisi pesawat!) Hal pertama yang dilakukan di ketinggian 2.321 mdpl ini adalah memakai wind-breaker dan sarung tangan, sembari memperhatikan seorang perempuan yang tangannya gemetaran menggenggam gelas saat minum. Dingin! Tidak salah kalau panitia mewajibkan peserta membawa jaket atau wind-breaker dan sarung tangan sebagai mandatory-gear.

Tidak ingin berlama-lama di lokasi yang penuh dengan manusia ini. (Introvert-person mudah drained, terkuras energinya di keramaian macam begini.) Cukup mengisi kembali air minum. Sempat mencicipi bubur kacang hijau, yang tersisa di dasar panci besar. Tidak matang benar, masih sedikit keras. Hidup memang kadang sedikit keras, Teman, selebihnya ya selalu keras! (Konon katanya kalau makan nasi putih yang masih keras akan menahan lapar lebih lama, semoga teori ini juga berlaku buat si kacang hijau.)

Makadam, again! Entahlah, makadam selepas CP ini terasa jauh lebih keras, untuk telapak kaki, lutut dan betis, dengan serakan acak batu-batu berbagai bentuk ukuran besar sedang kecil. Mungkin tenaga sudah terkuras di jalur-non-stop tadi, atau mungkin juga kerumunan manusia tadi telah menyedot energiku, huft! Mendaki. Bahkan lebih terjal dibanding awal pendakian. Berita baiknya -selalu ada berita baik-, jalur ini lebar, tanpa perlu antri, bisa melewati peserta lain, dan juga dilewati saat napas atau kaki butuh istirahat. Langit masih gelap. Angin dingin berhembus.

Aku merindukan matahari
Aku menanti matahari
Aku memanggil matahari

Dan ketika aku menengok ke kanan, sejajar dan sejauh mata memandang, semburat cahaya merah memanjang di langit abu-abu, berpendar di balik gulungan awan putih tebal di bawahnya, di antara batang pohon-pohon dan rimbun daun-daun yang masih basah. Aku menghentikan langkah, larut sejenak dalam kehangatan, kelembutan, keindahan, keagungan. Mengingat kembali potongan kalimat indah yang dibacakan MC saat melepas peserta di garis start, “… bukan untuk menaklukkan, tetapi untuk menemukan…”.

Pendakian panjang sejauh 5,5K hingga ke pucuk puncak Gunung Welirang, di ketinggian 3.156 mdpl, melewati jurang berkelok-kelok, kawah dan asap belerang (bahasa Jawanya: welirang) putih pekat yang menusuk hidung dan memerihkan mata. Area terbuka dengan pandangan ke segala penjuru angin, tampak “sahabat abadi”-nya Gunung Arjuno dan puncak-puncak gunung di sekeliling sana sini, termasuk nun jauh di sana, Gunung Semeru yang tengah menyemburkan asap vulkaniknya. Pukul 6 pagi. Mengenakan gelang hitam dari panitia, penanda telah tiba di puncak, melaporkan nomor BIB, 5096. Lalu bergegas turun.

DALAM KESENDIRIAN

Tidak seperti saat naik -bagian tersulit sudah terlewati-, perjalanan turun, menempuh beberapa jalur yang berbeda, bertolak belakang seratus delapan puluh derajat dengan keramaian di subuh tadi. Sebagian peserta sudah tercerai berai di lintasan yang panjang, ada yang masih di belakang dan ada yang sudah di depan, ada yang mungkin kena COP ataupun menyerah karena alasan tertentu, ada yang mungkin masih beristirahat di water-station atau di tengah perjalanan.

Tepat sejak KM17, praktis aku sendirian -sesekali saja berpapasan dengan peserta lain- berjalan cepat, diselingi sesekali berlari kecil, turun lebih dari 20 kilometer, di segala medan. Dari lintasan tanah bercampur abu gunung, kerikil dan bebatuan, jalan setapak tanah dan rumput, makadam, hingga nantinya aspal menjelang finish. Kuku jempol tangan kanan yang patah dan berdarah akibat hampir terjatuh, mata kaki kanan yang terkilir ringan, dan luka gesekan lutut kiri dengan batu cadas gunung, serta tarikan kencang otot paha kiri penanda lelah, cukup untuk memberikan peringatan agar selalu waspada. Kesalahan dan kelalaian kecil bisa berakibat fatal dan membuyarkan keseluruhan perjalanan.

Hei, Solitaire Adventurer, bukankah 20K ini adalah “kemewahan” yang tengah disodorkan semesta untuk dinikmati?

Hanya ada aku dan gunung, aku dan matahari, aku dan angin sepoi, aku dan pepohonan, aku dan tanaman liar, aku dan bebatuan, aku dan tanah, aku dan ibu bumi. Hanya ada aku dan napasku, aku dan keringatku, aku dan langkahku. Hanya ada aku dan apapun yang terlintas di kepalaku, aku dan pikiranku yang merambah kemanapun aku mau, saat itu. Hanya ada aku dan diriku.

Ya ya, kemewahan dan kenikmatan tiada tara, yang bahkan lebih berharga dibanding medali finisher yang dikalungkan kepadaku saat menapak karpet merah dan melintasi garis finish.

Welirang, 5 Juli 2026

NH

Nicky Hogan's avatar
Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.