IJEN GEOPARKRUN 2021 (HUJAN ADALAH KAWAN)

“Bagaimana kamu memaknai hujan?” Ajeng menyodorkan sepasang sarung tangan wol berwarna cokelat yang dipakainya. Mungkin wanita dalam balutan seragam hijau muda lumut satpol pp itu memperhatikan aku menggigil. Kedua tanganku terus bergetar, sementara tumpahan kopi yang melompat keluar dari gelas plastik tidak lagi kurasakan panasnya. Aku tersenyum, “Terimakasih, tapi hujan masih turun, nanti sarung tangannya…

Read More

RUNVENTURE: DANAU LUT TAWAR

“Kemewahan” bisa hadir dalam berbagai bentuknya. Runventure adalah sebuah kemewahan dalam salah satu rupa lain. Bukan dalam pengertian fasilitas luar biasa sebelum dan sesudah lelarian, tentu saja, namun dalam cerita petualangan lari selama berjam-jam, menempuh puluhan kilometer. Seperti disampaikan oleh seorang pelari-hardcore kemarin saat lari, sembari mengunyah tempe tipis goreng renyah hangat yang dijajakan warung warga, dikelilingi sawah berlatar bukit hijau di satu sisi dan danau biru di sisi lainnya, di sepoi hembusan angin sejuk yang memainkan anak-anak rambut dan matahari yang teduh bersahabat, di bawah langit biru cerah dan awan-awan putih, “Kalau tau lari bisa kayak gini, nyesel juga gua selama ini ikut-ikutan race.”

Read More

SURGA SETIAP ORANG

Seorang teman pernah geram menasihati, “Lu gak perlulah sebegitunya hanya untuk mencari donasi. Lari aja di Monas, dan gua akan tetap donasi.” Mungkin ini bukan hanya sekadar soal donasi, ini juga soal larinya, kecintaan berlari, berlari jauh. Lagi-lagi, you can’t ask why about love, kan? Dan di antaranya, barangkali ini juga yang dicari; tetes-tetes air yang jatuh lepas dari ujung topi putih, kaki yang terus menjejaki aliran air deras di aspal mendaki, pohon-pohon bambu yang menunduk nyaris menyentuh tanah menghalangi, lumpur dan kerikil batu kecil yang runtuh perlahan menuruni tebing tanpa henti.

Read More

RUNVENTURE

BangLexi mengomandoi lima pelari dari Jawa, Mike-Anne-Renato-Carla-NH, plus support dari Babab, Tande, Mamio, dan dengan dukungan antusias dari pelari-pelari Batam, start pukul 05:39 pagi 19 Desember 2020 dari bibir jembatan pertama, jembatan terbesar dan terpanjang, Jembatan Tengku Fisabilillah yang masih menyisakan lampu-lampu indahnya. Tidak sampai sepuluh kilometer, rombongan telah melintasi tiga jembatan lainnya, Jembatan Nara Singa, Jembatan Raja Ali Haji, dan Jembatan Sultan Zainal Abidin, tiba di pulau kelima, Pulau Rempang, setelah Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, dan Pulau Setotok.

Read More