Surat Untuk Anakku (12)

Kalau sebuah keteledoran kecil, sebuah ketidakpedulian kecil, sebuah keegoisan kecil, dapat membawa efek berantai demikian buruk dan besar, tidakkah sebuah senyum kecil, sebuah keramahan kecil, sebuah kemurahanhati kecil, juga seharusnya dapat membawa efek berantai baik dan besar?

Read More

Surat Untuk Anakku (11)

People should train their minds so that they would not disturbed by whatever kinds of words they might hear, whatever kinds of acts they might see. They should train their minds and keep them broad as the earth, unlimited as the sky, deep as a big river and soft as a well-tanned leather.

Read More

Surat Untuk Anakku (10)

Aku selalu ingat salah satu mentor marketing panutanku. Setiap kali briefing teamnya, dia selalu mengingatkan dan menekankan bahwa dalam dunia pemasaran (dan bisnis), tidak ada yang namanya juara kedua. Either juara satu (baca: dapat order, dapat proyek), atau tidak sama sekali. Tidak berlaku medali perak atau perunggu karena nyaris dapat order atau proyek. Hal sama berlaku juga untuk, misalnya, urusan tender-tender yang hanya memilih satu pemenangnya. Sisanya? Yang kalah, gigit jari. Kejam kan?

Read More

SURAT UNTUK ANAKKU (9)

Sebuah kehadiran. Kontak mata, kontak fisik. Kita sering sekali mengabaikan itu. Mungkin tidak bermaksud tidak menganggap penting yang menunggu kehadiran kita (kecuali memang sebaliknya?), sebenarnya ketidakhadiran kita di sisi lain bukankah menunjukkan bahwa kita sendiri tidak menganggap diri kita penting? Aku ulang ya, Nak. Ketidakhadiran kita bukankah sebenarnya menunjukkan bahwa kita sendiri tidak menganggap diri kita penting? Bukan begitu? (Bukan sok penting, bedakan ya Nak.) Sebuah kehadiran akan mampu menciptakan banyak hal yang tadinya tak ada. Buruk menjadi baik. Negatif menjadi positif. Pesimis menjadi optimis.

Read More