“Pikiran adalah kera, yang melompat dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya, dari satu waktu ke waktu lainnya.”
Malam Pertama
Awan di belakang kepalaku berlapis-lapis tipis seperti sutera. Menjelang senja, langit masih terang di Scarborough. Rombongan penguin bermunculan dari laut lepas berombak pelan, berjalan bak parade di atas pasir putih, di atas dan di antara batu-batu karang halus, kembali ke tempat tinggalnya. Aku membandingkan dengan parade yang sama, koloni penguin di Phillip Island, di sisi dunia yang lain, Australia. Bagaimanapun ujung bawah di Afrika Selatan ini tetap lebih berkesan, walau ada sedikit kekecewaan karena gerbang Cape of Good Hope keburu tutup. Perjalanan darat menyusuri sepotong kecil tanjung, di antara deretan tebing menjulang dan Lautan Atlantik yang ombaknya mulai bergemuruh yang sebentar lagi bakal menelan matahari, “your tcountry are blessed with these beautiful landscapes”. Sesekali satu dua mobil melaju. Lalu lintas lengang, jalanan kesepian.
Di antara kendaraan-kendaraan yang melaju 60 mile per jam, aku berkonsentrasi-penuh, menjaga kecepatan yang sama. Diapit tebing di sisi kanan dan tembok batu pembatas jurang ke laut di sisi kiri, di atas jalan aspal mulus dua jalur berlajur tunggal, dengan sesekali melewati terowongan tembus tebing. Aku membayangkan adegan kejar-kejaran mobil dalam film James Bond, dalam perjalanan dari Southampton ke Cardiff, Wales. Mengendarai mobil di UK, adalah urusan tenang dan tegang. Tenang karena tanpa perlu takut kendaraan lain tiba-tiba muncul dan main serobot di mulut-mulut jalan persimpangan, tenang akibat kesabaran para pengemudi mengantre tanpa mengganggu, tenang tanpa perlu berpikir akan ada lubang menganga yang membahayakan, sepanjang ribuan miles; sekadar menyebut beberapa contoh. Tegang, atau tepatnya istilah tadi, berkonsentrasi-penuh, karena selalu harus memperhatikan speed-limit di toll, non-toll, dan pemukiman (kalau tidak mau dapat kiriman tiket-tilang), menjaga kecepatan agar tidak “mengganggu” laju kendaraan di belakang (kasihan kan kalau kita lelet banget), dan menjelang memasuki setiap bundaran memperhatikan “kesterilan” kendaraan di dalam bundaran sebelum melaju sambil memasang kuping dan menghitung first-exit, second-exit, third-exit. Juga sekadar menyebut beberapa contoh.
Berkendara di wilayah Jakarta Selatan selalu terasa lebih nyaman. Entah, bagiku, wilayah ini “paling mendekati” kedisiplinan luar negeri (maksudnya negara-negara Barat tentunya), dan “kebaikan hati” para pengemudinya untuk saling mengalah (kita bicara hanya kendaraan mobil, tapi tidak untuk motor tentunya). Coba bandingkan dengan suasana dan tata krama berkendara di wilayah lainnya di Jakarta. (Bagusnya beberapa teman sepakat denganku tuh.) Perkiraanku, mungkin, karena Selatan identik dengan daerah elit dan lebih berduit, keluarga-keluarga di sana liburannya di LN, anak-anaknya juga sekolah dan kuliah di “sono”, lantas sedikit banyak terbawa budaya baik itu, juga dalam hal berkendara. Mungkin. Ya, apa boleh buat. Entah. Duit menghasilkan manusia disiplin, atau sebenarnya kebalikannya, manusia disiplin menghasilkan duit. Tengok AS-Eropa-Singapura? Atau coba konfirmasi ke para investor-investor saham besar dan sejati, benar gak. Lantas kalau begitu, kemiskinan menyebabkan ketidakdisiplinan atau sebaliknya, ketidakdisiplinan menyebabkan kemiskinan?
Di lingkungan yang disiplin, kita akan terbawa dan “dipaksa” menjadi disiplin. Suka atau tidak suka. Di lingkungan yang bersih, kita akan turut menjaga kebersihan, malu sendiri pada pandangan hina dan heran semua mata kalau buang sampah sembarangan. Contoh kecil aja sih. Tetapi di tempat rekreasi jorok, rasanya “tidak berdosa” kalau kita ikut-ikutan jorok-jorokan. Hal sama berlaku juga untuk hidup di lingkungan orang-orang baik, di lingkungan orang-orang religius (entah lempeng entah sesat), di lingkungan orang-orang ambisius, di lingkungan koruptor dan penjahat, dan seterusnya dan seterusnya.
Frustrasiku mentok tapi tak berkesudahan, hanya bisa mengelus dada, hidup di “lorong gelap” jalan raya Jakarta yang seolah tanpa aturan, tanpa penegakan hukum, serta -parahnya dan sialnya- tanpa niat memperbaikinya, dari satu era pimpinan ke era pimpinan lainnya. (Silakan pikirkan sendiri pimpinan-pimpinan mana saja yang paling pantas dan seharusnya bertanggung jawab.) Aku selalu berpikir, kalau jutaan manusia tumpah ruah di jalan raya dan jalanan kecil Jakarta, melaju berseliweran setiap hari, pagi subuh hingga tengah malam, “tanpa kedisiplinan, mau ape lu, semau gue dong, bodo amat lu, nyawa gue ada tiga, lu langgar gue ikutan”, berulang-ulang, pada akhirnya jadilah kebiasaan. Dan kebiasaan yang berulang-ulang, apa jadinya? Karakter. Karakter tidak disiplin, karakter egois dan mau menang sendiri, karakter mengambil hak yang bukan haknya (benih-benih koruptor lahir dari jalanan kok, bahkan terang-terangan), dan segala karakter rusak busuk lainnya. Slogan -dan dua kata indah ini- Revolusi Mental, sudah seharusnya dimulai dari jalanan. (Semua revolusi dimulai dari jalanan, bukan?) Masa’ sesederhana dan di depan mata setiap hari gitu gak kelihatan sih? Hadeuh! Auk ah, gelap!
NH