“When you have insomnia, you’re never really asleep… and you’re never really awake.” ~ Unknown

Malam Kedua

Aku suka naik kereta api (sekarang namanya kereta listrik). Entah itu kereta dari Amsterdam ke Berlin (aku pernah niatin sengaja tidak memilih penerbangan ke Jerman melainkan ke Belanda, hanya untuk mendapat kesempatan naik kereta lintas negara begitu mendarat.) Atau kereta jarak-super-jauh, nyaris 2.000KM melintas gurun selama 22 jam, termasuk bermalam di gerbongnya, dari Xining, Hainan ke Lhasa, Tibet. Tapi aku sudah sangat berbahagia juga kok ketika naik kereta Parahyangan, Jakarta-Bandung dan Jakarta-Cimahi. Guncangannya, pemandangannya, suasananya. Ruteku berkali-kali, pulang pergi, ketika masuk studio rekaman di Wyata Guna dan kunjungan ke Sentra Abiyoso dalam rangka menjadi “reader” audio book dan pencetakan buku investasi versi braille.

Berbuat baik, katanya, tidak boleh diungkit-ungkit dan diceritakan, karena nanti akan kehilangan pahalanya. Andai kita pernah berbuat baik, pun tanpa pamrih, namun si penerima perbuatan baik kita seolah tidak pernah mengingatnya, seolah tidak pernah menerimanya, seolah mengabaikannya, apa yang sebaiknya dilakukan? Mungkin kalau mengingatkannya akan menyadarkannya dan membawa dampak positif, ada baiknya juga kalau kita sekali-kali mengungkitnya dan menceritakannya kembali. Soal pahala yang hilang? Gak papa juga sih, ada kalanya perbuatan baik tidak perlu berbuah pahala, toh di sisi lain masih ada dampak positifnya.

Bus terus bergerak, sementara tour-guide tak hentinya berbicara, menerangkan ini dan itu. Mungkin tentang sejarah kota Chengdu atau taman nasional Jiuzhaigou atau menu makan malam nanti atau lelucon atau apapun itu. Mungkin, ya mungkin. Karena tidak satupun kata-kata yang diucapkan bisa dimengerti. Bahasa Mandarin. Tour lokal yang kami ikuti -bersama beberapa teman dari Jakarta yang melakukan extend gak-mau-rugi setelah perjalanan rombongan- ternyata tidak memberikan servis komunikasi “menu” bahasa Inggris. Jadilah roaming abis, totally pasrah. Beruntung perjalanan dan pemandangannya indah, potongan surga, can’t complain. Mungkin memang ada saatnya telinga dan otak istirahat tidak perlu bekerja, biarkan saja mata dan hati yang menikmati dan menari-nari.

Terkadang ada rasa kangen naik kendaraan umum. Yang aku maksudkan, naik Damri bandara, sehabis perjalanan dari luar kota. Kangen artinya pernah atau sering dilakukan, dulu, dan ada rasa ingin mengulang kembali, sekarang. Entahlah, ada suasana berbeda. Berjalan menuju pangkalannya di ujung jauh bangunan bandara, menunggu sembari memperhatikan kesibukan penumpang lainnya, memandang keluar jendela kaca -kendaraan lain, pagar toll, papan reklame, pohon dan gedung- dari badan besar bus yang bergoyang melaju melintas toll. Dan kalau sedang beruntung, mendapat hiburan lagu-lagu nostalgia dari pak supir, lirik-lirik indah Ebiet G Ade, atau suara seraknya Iwan Fals jadoel, sambil ikutan bersenandung dalam hati, ”… seperti udara, kasih yang engkau berikan, tak sanggup ku membalas, Ibu…”

Ibu memandangku, dalam ketenangan danau dan ketegaran karang yang terpancar dari bola mata indahnya. Bisikan pelan dan lembutnya mengirisku, “Kamu tahu pendengaranku sudah lemah, sulit untuk menangkap suaramu. Mulai sekarang…,”Ibu berhenti sejenak, “… ketika berbicara denganku, kamu boleh berteriak.”

NH

Nicky Hogan's avatar
Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.