“The scary thing about having insomnia is not the hours lost for sleeping but the re-run of thoughts you’ve been trying to forget.”
~ Unknown

Malam Ketiga

“Maaf!” Mungkin itu adalah “permintaan maaf” pertamaku seumur-umur dalam nada datar tanpa makna atas kata itu. Pengendara motor, yang tadi sempat oleng dan terjatuh di sisi kiri mobilku, tampak puas. Padahal dia oleng dan terjatuh karena memaksakan melaju di sela sempit antara mobilku -yang tengah diam menunggu lampu merah- dengan trotoar. Dan kebetulan -sialnya dia- ada lubang di sela itu. Dia mengumpat, entah marah atau sekadar kesal. Aku menurunkan kaca jendela, “Lha, mobilnya kan lagi berenti!” Debat kecil. Tampak dia tetap tidak bisa terima, “Ya minta maaf aja gitu!” Sejenak aku bingung, ragu. Bisa tetap bersikeras -memangnya gua salah?- dan urusan bisa saja jadi panjang, atau sudahi percik kecil keributan dan muntahkan saja kata itu. Setelah kata itu terucap, entah apa yang ada di kepalanya, wajahnya berangsur normal, seperti tidak pernah terjadi apapun. Aku menaikkan kembali kaca jendela, lampu hijau menyala, mobilku melaju.

Dari balik selimut, dingin masih menusuk. Di antara sela-sela tirai kain jendela kamar penginapan, terang langit terus menerobos masuk. Aku bangun dari ranjang dan menyibak perlahan tirai, memandang keluar. Ketika mendongakkan kepala, mataku terkesiap, hatiku bersorak, mimpiku nyata. “Akhirnya!” Dari balik jendela kaca, pemandangan deretan gunung dengan salju-salju berkilauan di puncaknya. Lukla di Nepal, memberikan pengalaman pertama langsung untuk mata ini, sesuatu yang selama ini, sejak bocah, hanya mampu menikmati dan membayangkannya melalui gambar-gambar post-card dan kalender dinding.

Lautan awan putih tebal bergelombang sejauh mata memandang, dengan lampu-lampu penginapan yang masih menyala, tampak mungil, jauh di bawah sana. Di antaranya, terbentang hamparan putih salju. Dan di atas seluruh kecantikan itu, mahkota langit jingga megah menaungi, penanda datangnya sang penguasa, matahari. Puncak Gunung Fuji, Japan, pukul empat pagi, ramai oleh para pendaki, yang sebelumnya bermalam di penginapan-penginapan terakhir, sebelum summit attack. Penginapan-penginapan berupa balai besar dengan alas tidur saling berdampingan, dengan toilet di bangunan kecil terpisah, yang semakin tinggi letaknya semakin banyak koin yen yang dibutuhkan untuk dimasukkan ke pintu masuknya.

Golden moment” adalah saat bangun tidur bukan karena teriakan alarm, melainkan akibat paduan suara burung dan serangga, ditambah sesekali kokok panjang ayam jantan. Di bukit Rangkung sana, Gianyar, dalam kepungan tenang hamparan sawah dan ladang, hijau dan kuning, jauh dari kebisingan teknologi yang membungkus kepalsuan di sisi Bali lainnya. Atau di penginapan sederhana enam kamar di Pekutatan sana, asri dikelilingi tanaman-tanaman aneka warna, “saya tidak mau hijau saja, saya mau banyak warna”, aku akan buru-buru keluar kamar, rebah menutup mata di atas hammock di teras, menikmati simfoni alam. “Golden moment” adalah saat membuka mata, matahari baru saja memancarkan sinar pertamanya di perairan tenang Komodo, semburat jingga dalam rangkaian langit dan awan warna-warni, di atas laut nyaris tanpa gelombang, bersama kelelawar yang terbang pulang. Aku selalu memilih tidur, setiap malam, di geladak kapal sederhana yang terbuka, tidak di bilik kecil kapal, aku tidak rela melewatkan lukisan sempurna alam yang setiap hari berubah-ubah itu. “Golden moment” adalah saat kabut tipis membelaiku, harum rumput di sampingku, edelweis berbaris mengelilingiku, tetes embun membangunkanku, di atas hamparan tanah basah pada langit terbuka, di atas sana, di alun-alun Surya Kencana, Gunung Gede. “Golden moment” adalah…

Terkadang aku rindu menulis, ada hasrat untuk selalu menulis, “harus” menulis, kebutuhan akan outlet; hanya saja bingung untuk memulai dari mana, dan terutama, apa yang tepatnya hendak ditulis. Kehilangan, tersesat, ruang kosong. Dunia menulis adalah dunia dengan alamnya sendiri. Ide-ide dan kata-kata mengapung dan beterbangan, tersedia dan siap dipetik setiap saat. Easily. Apapun yang ditangkap indera bisa menjadi tulisan, dengan kalimat dan gaya bahasa yang secara mudah -dan mengasikkan- bisa dirangkai dan dijungkirbalikkan, indah. Yang bahkan setelahnya membuat kita -aku sih tepatnya- terheran-heran, “kok bisa ya nulis kayak gitu?”, kadang macam menulis dalam kondisi kesambet, in trance, dan tidak percaya bakal bisa mengulanginya serupa. Sebuah buku berjudul simpel, “First You Write a Sentence.”, menarik perhatianku. Baiklah, aku akan menulis kalimat pertamaku, lantas berharap, “Alakazam, buka pintu!”

NH

Nicky Hogan's avatar
Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.