14 Oktober 2023

Lautan pasir hitam abuabu berkilauan, di bawah sinar matahari pagi yang bersahabat dan langit bersih bergradasi biru cerah, amblas saat dipijak, lantas berlalu meninggalkan jejak-jejak sepatu. Dan jalan setapak, di lereng dan lembah, berlapis abu gunung, tebal dan empuk, menciptakan kepulan terbang rendah, kotor namun indah, berpagar hamparan luas dan gundukan rerumputan kuning yang merindukan hujan. Bukit-bukit dan gunung menciptakan garis-garis vertikal yang meliuk-liuk, menari indah dengan latar hitam putih. Gemuruh kencang angin bertalu-talu di kejauhan di balik bukit, sepoinya menjemput membelai lembut hidung dan pipi, membisikkan alunan halus di telinga, berpadu dengan gesekan merdu ilalang kering, tarikan dan hembusan napas, serta hentakan langkah kaki. Sebuah simfoni alam yang luar biasa.

Bromo Desert 25K, for 55 old body and soul, a perfect gift.


10 Oktober 2023

“Umur berapa?”
“Lima lima, Om.”

Lintasan tanah liat dan pecahan halus batu bata -mengelilingi lapangan bola berumput sintetis dengan pagar kawat tinggi- dekat rumah kami itu, setiap pagi selalu disiram, membasahinya agar tidak terlalu berdebu, walaupun setiap kembali dari sana, sepatu pasti menguning. Tetapi tetap lumayan -dan aman- jadi tempat warga sekitar berolah raga, berjalan kaki dan berlari, dibanding jalanan aspal yang berseliweran motor.

“Om, berapa?”
“Sembilan puluh.”

Kami telah bertetangga lebih dari dua puluh tahun sejak aku menetap di “komplek” itu, sedangkan Si Om tentu lebih lama lagi tinggal di sana. Si Om setiap pagi rajin menyapu teras dan daun bunga rontok di aspal depan rumahnya, dilanjutkan menyiram tanaman. Kami selalu bertegur sapa ketika berpapasan, bersalaman, sering kali pas aku berangkat kantor. Juga sekali ini ketika kami bertemu di lapangan olah raga itu.

“Waow, bukan main, sehat gini, Om.”
“Biasanya saya jalan kaki berkeliling lapangan, dua kali saja.”

Satu putaran sekitar 400 meter, berarti sekitar 800 meter. Kami berjalan bersama, perlahan. Sesekali menghindar dari kotoran kucing yang entah kenapa suka sekali membuang hajatnya di lintasan. (Seingatku, hampir tidak pernah aku melintas worry-free dalam kondisi steril.) Sementara para pemain bola mulai melakukan pemanasan di lapangan, bergerak dan berlari kecil, dalam kaos bola dan sebagian lainnya berlapis rompi tipis kuning menyala.

“Yang penting, prinsipnya, tidak ngoyo dan tidak neko-neko. Jalani yang harus dan yang diperintahkan untuk dijalani, dan tidak melanggar yang dilarang. Tetangga punya apa, orang lain punya apa, tidak membuat kita terganggu. Ya itu, tidak usah neko-neko, dan tidak usah ngoyo. Nikmati saja.”

Dua putaran, dan kami berpisah.


Aku punya waktu tiga puluh lima tahun untuk bisa seperti Si Om. Anggap saja demikian. “Cukup” tidak perlu ngoyo dan neko-neko. Agar masih tetap sanggup berjalan -atau berlari- keliling lapangan itu, setiap pagi, beberapa putaran. Atau kembali ke Bromo menikmati 25K, atau ke tempat-tempat lainnya, yang simfoni alamnya selalu siap menyambut. Masih banyak sekali waktu, masih banyak sekali hal-hal yang bisa dilakukan…

NH

Nicky Hogan's avatar
Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.