Se-kewl-kewl-nya seorang investor (sejati), tetep aja masih manusia, yang terdiri dari darah, daging, dan perasaan. Yang pada titik nadirnya, ketika saham-saham tabungan masa tuanya berguguran, sesekali tetep masih sempet membatin dan ngedumel, “Gini amat yak jadi investor, sialan!” *eh
Temen gua di seberang HP tertawa lepas dan lega (mungkin sambil mengepalkan tinju ke udara), bukan karena merasa menang, tetapi karena merasa ada temennya, temen sesusah sependeritaan. (Memang enak kalau kita lagi susah, terus ketemu temen yang susah juga, apalagi kalau si temen lebih susah lagi, yummy nyamnyam banget dah!) Sial..! *eh
Hari-hari ini sungguh gak mengenakkan. Tiga bulan sudah perasaan ini diaduk-aduk, sejak pertengahan Maret saat IHSG di rekor 7.454-nya. Turun lalu turun setelahnya, lantas-April-Lebaran-deg-deg-an, masuk Mei siap dengan kutukannya yang terkenal itu (“Sell in May and Go Away”) dan -sekali lagi cilakanya- kejadian. Kirain Juni bakalan tenang, ternyata dapet bonus perpanjangan, si kutukan itu. Si….! *eh
Serius ah!
Once upon a time, gua cuma ikut-ikutan aja ngeliatin – dan akhirnya membeli- saham. Pertama kali ketika tengah terjadi krisis multidimensi ekosospolhankam tahun 1998, saat indeks saham terjun dari 700-an ke 200-an, saat total transaksi bursa cuma hitungan puluhan miliar rupiah saja. Niatnya sembari berharap dapat tambahan uang jajan mingguan. Nyatanya kerap gagal. Gua menyaksikan bubble saham-saham dotcom dan juga akibat letusannya di awal abad yang baru, abad 21. Bonyok. Lebih banyak ruginya dibanding untungnya. Kapok dan insaf, untuk tidak lagi salah memperlakukan saham.
Gua lalu mulai berinvestasi. Kecil-kecilan, bata demi bata. Melalui masa-masa di mana pergerakan saham membosankan, dengan riak-riak kecil di antaranya. Ikut merasakan krisis sub-prime Amerika Serikat 2008 yang efeknya sampai -bahkan lebih parah- ke pasar modal kita, menyeret IHSG dari 2.700-an ke 1.100-an. Masa-masa di mana jam dagang pasar saham diberlakukan sistem buka tutup -saking horrornya penurunan saham-saham- yang mirip seperti Pak Polisi saat mengatur arus macet lalu lintas di Puncak, Bogor.
Terakhir 2020, pandemi covid itu. Kita semua mengalaminya, jadi gak perlu panjang lebar gua menuliskannya. Yang pasti, “dahsyatnya” dampak ke indeks, dari angka 6.300-an terjun tanpa perlawanan ke 3.900-an hanya dalam waktu tiga bulan.
Singkatnya, gua memulai saat IHSG masih di level 200-an, hingga saat ini di angka 7.000-an. (Tapi please jangan tuduh gua sudah kaya raya, aset saham gua ber-30-an kali lipat keuntungannya sejak awal cerita. Tidak seindah itu, Juleha.)
Singkatnya lagi, gua hadir. Tidak hanya tahu cerita dan sejarah, tetapi gua mengalami dan melaluinya. Dengan segala kecambuk rasa dan emosi sepanjang kurun waktu itu. Secara pribadi. (Dengan keringat, darah, airmata. Sedikit dilebaykan, Prameswari.)
Dear Juleha dan Prameswari, kalian bisa betah membaca dan mendengar dongeng gua, perjalanan angka 200 hingga 7.000. Kalian bisa mencatat setiap detailnya. Kalian bisa membandingkannya dengan hasil guglingan. Kalian bisa menghafalkannya di luar kepala. Namun bagaimana cara gua memindahkan semua rasa dan emosi pribadi itu ke kalian? Bagaimana cara kalian bisa ikut merasakan yang gua rasakan? Tidak. Tidak bisa. (Gua dan kalian hanya akan frustrasi berat kalau memaksakan itu.)
Jadi, ketika temen kita di awal tulisan tadi (dan titipan ratapan banyak investor lain) bertanya, apa yang harus dilakukan hari-hari ini ketika saham-saham berguguran -untuk kesekian kalinya, padahal bukan dan semoga bukan krisis macam yang sudah-sudah- jawabannya adalah “ya, lalui saja, waktu sudah membuktikan walaupun kamu tidak mengalaminya, sama halnya seperti Juleha dan Prameswari”. Tidak ada jawaban lebih ampuh dari itu, atau gua gak mampu menjawab lebih canggih dari itu. Dengan catatan, tentu saja, saham kita bagus. Lalu definisi “bagus”? Argh, gua selalu suka kalimat ini, “Kita tidak pernah tahu perusahaan mana yang bakal bangkrut, tetapi kita pasti tahu perusahaan mana yang tidak bakal bangkrut”.
“Hari-hari ini adalah masa terbaik untuk seorang investor belajar. Inilah Kawah Candradimuka yang akan menempa mereka. Layaknya kawah yang menempa jabang bayi Tutuka, untuk saatnya nanti menjadi seorang Gatotkaca, anak Bima yang bahkan bisa menaklukkan musuh para dewa. Setiap investor memang sebaiknya dan seharusnya menjalani masa-masa ini, sebelum meraih gelar master investornya.” ~ Surat Untuk Anakku (3)
NH