“Pain is temporary, glory is forever”
Kalimat itu berputar di kepalaku
Di bawah sinar matahari pukul 12 siang
Aku mengerti kata-kata itu, sungguh
Namun, saat itu yang aku rasakan
“Pain is pain”
Sebuah persamaan tak terbantahkan
Kebenaran mutlak
Menggendong rasa sakit, nyeri menekan di bahu dan lengan kiri, sambil berlari dan power-walk, di jalan sepanjang lima puluh kilometer, dari satu desa ke desa berikutnya, di antara pemukiman-sawah-ladang dan wangi cengkeh yang tengah dijemur warga, di lintasan menurun dan menanjak rolling, yang lebih banyak menanjaknya dengan elevation gain 1.284 meter, sejak pukul 5:00 pagi, selama sembilan jam waktu tempuh, tentunya tidak sebentar, tidak lagi “temporary”.
Masih ada lima puluh kilometer berikutnya, dengan elevasi bahkan lebih tinggi, sekitar 2.000 meter, sementara sore dan malam -mungkin juga hingga subuh dini hari- mengintip siap mengadang. Hembusan angin dingin dan suhu rendah belasan derajat di ketinggian 1.800mdpl di area Cemoro Sewu siap menerkam, menggigilkan tubuh dan membekukan telapak tangan. Sisi ekstrem yang akan segera menggantikan siang panas terik di paruh pertama yang baru saja dilewati.
Masih ada waktu 16 jam, sebuah kondisi tidak “temporary” berikutnya, sebelum cut-off-time pukul 06.00 pagi, 28 Juli 2024, dari total 25 jam waktu yang diberikan. “Ring of Lawu”, sebuah lomba lari, perjalanan mengelilingi kaki-kaki Gunung Lawu, sejauh 100K. Enam belas jam sisa waktu, di satu sisi terasa nyaman untuk menyelesaikan “lingkaran penuh cincin”, pun dengan berjalan kaki. Namun di sisi lain juga berarti masih akan menggendong “pain” yang sama, atau bahkan mungkin rasa sakit yang lebih parah, dengan ditopang kaki yang lelah dan kekuatan tubuh yang masih tersisa, serta medan-dingin-gelap di depan mata.
“Glory” apa yang akan aku dapatkan dengan membayar “pengorbanan” semacam itu?
Saat menuliskan cerita ini, aku tengah dalam perjalanan pulang Solo-Jakarta, sedang “baik-baik saja”, tidak sedang “in pain”. Membayangkan kembali sambil berpikir bebas dan liar. Kenapa kemarin jam 2 siang di check point itu memutuskan DNF (do not finish)? Kenapa tidak memaksakan diri lanjut terus saja? Apa sih risikonya? Apapun risikonya! Tidakkah sekarang berasa menyesal? Hilang sudah kesempatan mendapatkan “glory is forever”-nya, bukan?
Di situasi berbeda, terkadang kita tidak “fair” terhadap diri kita sendiri. Diri aku yang saat ini apakah diri aku yang sama dengan yang kemarin menggendong rasa sakit itu? Kalimat “Pain is temporary, glory is forever” terdengar indah dan memotivasi, ya untuk saat ini, ketika aku tengah duduk nyaman menghirup kopi di bandara menunggu pesawatku berangkat. Namun “Pain is pain” bukanlah sekadar kata-kata, itu adalah kenyataan. Kenyataan yang telah mengantarku untuk mengambil keputusan. Keputusan terbaik di waktunya.
Note: Rabu, 24 Juli 2024, aku berkunjung ke fisioterapi, first time in my life, untuk memeriksa dan mendapatkan terapi atas gangguan di otot-otot lengan, bahu dan leher sisi kiriku, yang terasa nyeri sejak satu bulan terakhir.
NH
2 replies on “PAIN”