“Saya bahkan tidak tau hitam dan putih…”
Padahal Oki adalah pemain band -gitar, bass, drum, keyboard, biola-, pemain tenis meja, pemain futsal, pengajar komputer, dan investor saham. Pemuda berusia 29 tahun itu terlahir tujuh bulan, terlahir buta, seratus persen buta.
Kami berjalan bersama, bergandengan, dan bergamitan, menapak turun tajam jalan beton, menyusuri undakan tangga, menyusuri jalan setapak, jalanan empuk tanah gembur bercampur batu kerikil dan daun gugur, diapit belukar jurang ke arah danau dan sungai, dan dinding tumbuhan rapat lebat. Kadang Oki berjalan di belakang, menaruh kedua tangannya di bahuku, di jalan setapak sempit single-track, sesekali menunduk atau melangkahi pohon tumbang, mengetukkan tongkatnya ke tanah, menyiasati gundukan batu besar, dan tanah longsor.
Rombongan kecil tuna netra dan low vision beserta para “pendampingnya” tenggelam dalam senda gurau, canda tawa. Menyatu dalam simfoni air terjun, kicau burung, jerit owa, desir angin, sengal nafas, langkah kaki. Kesunyian permukaan tenang danau. Alunan tari aliran sungai. Pertunjukan semesta penuh warna.
Penuh warnakah hidupmu?
Ataukah hanya hitam dan putih?
Bagaimana kalau tanpa warna sama sekali?
Situ Gunung, 30112024
NH