Pelari perempuan di depanku membungkuk, muntah hebat. Berkali-kali. Seolah menguras habis isi perutnya. Wajahnya tampak menahan sakit. Aku mendekatinya, “Do you need water?” Dia hanya menunjuk ke botol air yang diselipkan di kantong belakang pinggangnya. Aku membantunya meraih botol itu, yang berisi cairan berwarna, bukan air mineral. Entah minuman apa itu.
Tak ada hal lebih yang bisa kubantu, atau kulakukan. Aku melanjutkan melangkah, mendaki. Perlahan. Kepayahan, sangat kepayahan. Pahaku, kanan dan terutama kiri, sudah mengeras, otot-ototnya menarik kencang. Ribuan anak tangga yang dilewati sejak start pukul 7.30 pagi tadi telah membuatnya sekeras batu. Sesekali aku harus mencari pijakan datar, menghentikan langkah, berdiri mematung, mengerang tertahan, atau terpaksa duduk sejenak di bebatuan, berharap setelahnya masih sanggup melangkah.
Aku berhitung, aku membatin, aku tak akan mampu mencapai garis finish “The 9 Dragons Ultra” Hong Kong, 16 Februari 2025. Dalam kondisi selemah itu, aku hanya berusaha untuk bisa mencapai check point terdekat. Berjuang mencapai titik itu, dengan susah payah, masih bertangga-tangga curam, jalan setapak tanah dan bebatuan, naik dan turun, hanya untuk kemudian menyampaikan sebuah pesan singkat kepada panitia, “I’m out!” Ironis.
Memaksakan diri “menyelesaikan” sebuah perjalanan, untuk di ujungnya “menjemput” kesia-siaan. Sebuah situasi yang aneh. Sekaligus menarik.
Aku sumringah. Belok ke kiri, mencapai check point pertama (CP1) di Fanling. Masih sekitar pukul 9 pagi lewat 17 menit, jauh di bawah cut-off-point (batas waktu untuk mencapai titik tertentu) di pukul 10:30, setelah menempuh 11K pertama, setelah melewati “gigi taring” pertama, Cloudy Hill, 400 meter elevation-gain pertama. Terengah-engah menaiki anak-anak tangga yang mengadang sejak awal race, lalu “terbang”menuruni turunan tajam. Ada “tabungan” waktu satu jam lebih, ada luapan optimisme saat melaju ke CP berikutnya di Kadoorie Farm, KM 19,4.
Jalur menuju deretan puncak-puncak barisan bukit di Hong Kong identik dengan deretan anak-anak tangga yang mendominasi, selain diwarnai dengan jalan setapak. Itulah yang kembali tampak di depan mata. “Gigi taring” kedua langsung mengadang. Melewati satu per satu peak, Wu Tip Shan 89mdpl (meter di atas permukaan laut), Kei Lak Shai 256mdpl, Pak Tai To Yan 480mdpl, Yuen Shek Kwu 479mdpl, San Toi Leng 506mdpl, Tai To Yan 566mdpl, Ma Tsai Tung North Peak 445mdpl. Kembali terengah-engah. Hanya berani sesekali mencuri pandang ke arah kota Hong Kong nun jauh di bawah sana. Berusaha menghemat waktu. Untuk kemudian turun kembali, curam dan tajam. Tidak seperkasa sebelumnya, berlari namun tidak selepas terbang seperti sebelumnya. Mencapai CP2 sebelum pukul 12 siang, 1 jam di bawah cut-off-point, masih punya “tabungan”. Tidak buruk. Namun, lelah mulai menyergap. Energi mulai menipis. Otot-otot paha mulai memberontak. Optimisme mulai menguap. Perlahan.
Seorang ibu yang berpapasan, sendirian berjalan turun, mengepalkan tangannya, memberikan semangat. Aku mengangguk. Bersiap memasuki pendakian berikutnya, arena ujian sesungguhnya, “gigi taring” tertinggi. “Hanya” 7,7K ke CP3 di Leadmine Pass, namun dengan elevasi sekitar 1.000 meter. Dan pendakian itu sudah langsung dimulai selepas keluar CP2. Kombinasi jalan aspal, anak-anak tangga, jalan setapak dan guguran daun-daun (aku teringat Gunung Gede), serta jalan bebatuan.
Pendakian tiada henti ke Sze Fong Shan di ketinggian 785mdpl menguras habis kekuatan di kedua pahaku. Sesekali aku bahkan tidak sanggup menekuk lutut, sesekali otot-otot mengencang dan menarik dari pangkal paha hingga ujung kaki. Menghentikan langkah, mengerang tertahan, duduk di bebatuan. Sambil berharap masih mampu melangkah. Sambil berharap masih mampu melanjutkan. Sambil berharap masih mampu mencapai CP terdekat.
Cukup itu saja.
Aku merasa race itu telah selesai buatku. Tidak lagi peduli dengan “tabungan” waktuku yang terkuras habis. Pukul 15.00 adalah cut-off-point di CP ketiga itu, KM27,1. Ketika tiba, aku melihat jam, masih ada 15 menit sebelum batas waktu. Beberapa petugas menyambut, menawarkan minuman dan snack, dan menyemangatiku untuk terus melanjutkan ke CP berikutnya, Shing Mun.
Hanya 6,5K.
Hanya.
6,5K.
Sebersit ragu, “Bukankah tadi waktu turun dari peak, sudah bisa berlari kembali walau pelan, bisa meloncat dari satu batu ke batu lainnya?”
Masih tersisa 25,3K untuk menggenapi total 52,4K, untuk bisa menggenggam pita finish. Masih tersisa 5 jam sebelum cut-off-time pukul 8 malam nanti. Tetapi ini, masih ada sekitar 1.300 meter elevasi -entah berapa ratus atau ribu anak tangga- lagi yang harus didaki. Dan terutama ini, “Kakimu sudah menangis, Nick!”
Baiklah, “I’m out!”
“But, you have to walk to find a car…” Aku, bersama seorang pelari tuan rumah -CF- yang juga memutuskan DNF (do not finish), meninggalkan CP, berjalan menuju ke tempat perhentian kendaraan umum. Sore yang teduh, menyusuri pinggiran reservoir, country park dan kera-kera besar di pinggir hutan, menikmati obrolan ringan tentang keluarga, pekerjaan, dan pelarian. Kami berjalan kaki, another 5K, strong enough, relax seolah lupa dengan segala kepayahan yang baru saja kami alami, sebelum akhirnya mendengar bunyi kendaraan. I’m not a dragon, tapi juga gak cacing-cacing amat ternyata. Syukurlah.
HK, my very first run.
Credit photos: The 9 Dragons Ultra
NH