Saya adalah investor saham. Karenanya saya orang yang optimis. Berharap kaya raya dari jalan ninja investasi, gak buru-buru maunya instan sih, tapi sabar menunggu. Makanya saya juga sabar anaknya. Yang penting nanti saatnya tua, tabungan saham saya tetap utuh, ini utamanya. Plus ada hasilnya dong (capital gain atau cuan, istilahnya). Syukur-syukur tiap tahun terima dividen. “Nikmat mana lagi yang kau dustakan?”
Saya tuh percaya, setiap saat adalah saat yang terbaik untuk berinvestasi. Kapanpun itu. Mau krisis keuangan kek, mau resesi ekonomi kek, mau pandemi kek, gak peduli. Yakin banget dengan “The best time to invest is when you have money”. Jadinya, saya rajin menimbun saham, menabung saham. Dengan catatan, “have money” tadi. Kalau lagi bokek, ya cari duit -halal- lebih giat dan keras lagi, sambil membayangkan hari tua nan sehat dan bahagia. Begitu selalu, bertahun-tahun.
Tapi itu dulu.
Atau setidaknya sampai sekitar akhir tahun lalu.
Hari-hari ini tetiba saya menjadi orang yang pesimis. Dalam hal, terhadap pasar saham. Saya merasa, dunia tidak baik-baik saja, diacak-acak, diombang-ambingkan, dibuat penuh ketidakpastian oleh “para pedagang di pusat kekuatan ekonomi”. (Kalau konon trader saham suka dengan ketidakpastian, saya percaya bukan jenis ketidakpastian ini yang disukai teman-teman trader.)
Itu global. Kalau domestik? Nyatanya tidak mengimbangi ketidakbaik-baikan dunia itu menjadi sedikit lebih baik. Tidak tampak sama sekali -ulang ya, sama sekali- keberpihakan para petinggi negara dan lembaga, yang sangat dinanti-nantikan pasar. Mereka bingung. Alhasil, pasar jauh lebih bingung, atas kebingungan mereka. Teman saya bertanya, “Trust issue?” Saya tidak sanggup menggeleng.
Baiknya, saya masih mampu memelihara optimisme, dalam hal untuk tetap giat bekerja dan cari duit. Dan kalau “have money”, saya sementara mengabaikan “the best time”, saya memilih “stay in cash”. Sambil menunggu penolong (tidak perlu dewa-dewa banget) muncul, menunggu pesimisme saya menguap perlahan. Entah kapan itu. Saya tidak tahu. Ndak papa, saya sabar anaknya.
18Maret2025
NH