Aku menutup wajahku dengan kain buff yang basah oleh keringat. Merasakan mataku panas, dan membasah, bercampur dengan keringat yang masih mengalir deras di wajahku.
Sabtu, 25 Oktober 2025, pukul 7 pagi, di Kantor Camat Golewa, di check point 3, KM81, Jelajah Timur 2025, antara Nagekeo dan Bajawa.
Terduduk lelah di kursi plastik warna hijau. Seolah seluruh energi di tubuhku telah terkuras habis, drained. Aku tertunduk dalam. Bukan membayangkan 25 kilometer ke depan yang masih harus ditempuh, bukan memikirkan waktu kurang dari 6 jam tersedia menuju garis finish, bukan menyayangkan istirahat singkat yang harus segera disudahi, bukan menyembunyikan gentar menghadapi matahari terik yang tengah menunggu di luar.
“People cry not because they’re weak, but because they’ve been strong for too long.” ~ Johnny Depp
Aku telah menempuh 81 kilometer, sejak mulai berlari dari Lapangan Berdikari, Mbay-Nagekeo. Aku telah dipanggang 3 matahari Nusa Tenggara Timur, sejak start pukul 3 kemarin sore. Aku bahkan telah “menyerah” di KM3, mengganti lariku dengan kombinasi berjalan dan berlari, sambil mendaki dan terus mendaki ribuan meter elevasi-gain menuju Bajawa. Aku yang tak mampu melawan beratnya kelopak mata, terkapar 20 menit tengah malam, di atas deretan empat kursi, di ruangan SDK Nageoga-Boawae, KM53. Aku yang masih terus melangkah dengan badan terhuyung dan mata tertutup, tidur tanpa mimpi. Aku yang mengarungi malam panjang menuju subuh, memanggil matahari pagi, menantikan sinar ramahnya mengusir gelap dan hangat lembutnya menggantikan dingin. Aku telah berusaha menjaga agar tetap sadar dan awas, menjaga kondisi dan stamina, menjaga mental dan semangat, menjaga kaki dan kepala, menempuh jarak dan menembus waktu, memasuki “the unknown zone” di depan sana dan di dalam sini, di balik tubuh ini.
Aku telah menyaksikan bulan sabit yang mengalah kepada langit saat memamerkan lukisan jutaan bintangnya, aku telah mendengar riuh nyaring bunyi serangga malam di balik barisan pohon bambu yang magis, aku mengawasi gonggong dan lolong anjing warga ketika bermanuver menjaga teritorinya, aku hanyut dalam kurungan samudra malam dan angin dingin yang berhembus mendekap tubuh basah, aku menari di atas aspal di antara irama derap langkah kaki dan helaan napas, aku bercerita kepada matahari tentang kerinduan warga menantikan hujan yang tak kunjung tiba, aku mengingat Angel dan Putra yang menitipkan cita-cita mereka di setiap langkah kakiku.
Argh ya, aku telah melewati usia 57 tahun.
NH