“Kepada Semesta, Kami Bercerita”

Kami, BliRudi dan aku. Sesekali waktu kami masih ber-contact, atau bertemu, walaupun untuk yang terakhir itu sangatlah jarang. Juga walaupun sebenarnya aku sering terbang ke Bali, minimal sebulan sekali. Tetapi perjalanan dinas tetaplah perjalanan dinas. Pesawat pagi, mengejar meeting reguler bulanan siang hari di Denpasar sekitar 2 hingga 3 jam, lalu bergegas kembali ke bandara -yang lalu lintasnya horror dan unpredictable- untuk terbang kembali ke Jakarta. Kami tidak sempat untuk bertemu, untuk nongkrong ngopi atau ngebir sejenak, atau duduk menunggu matahari tenggelam.

Tetapi mungkin juga memang sudah tidak banyak lagi tersedia cerita. Di buku itu kami berdua sudah cukup bercerita. BliRudi melalui jepretan kameranya, dan aku melalui rangkaian kata demi kata. Perjalanan panjang dan lelah buku “Hope and Freedom” sudah lebih dari “setengah jalan”. Tersisa hanya beberapa ratus buku, yang tersimpan berdebu dua tahun di sudut rumahku, sementara BliRudi masih sangat rajin “menjajakan” buku tentang ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) tersebut, sembari menyuarakan “para terpasung dan terbelenggu” yang tidak terperhatikan dan seolah dianggap tak pernah ada.

“Semesta tahu waktu terbaik untuk segalanya.”

Aku berpikir, barangkali kami -dan buku itu- sedang terseok di tengah jalan. Hanya mampu menunggu tumpukan itu menipis perlahan, satu demi satu buku. Yang hasil penjualannya dipakai untuk merawat dan membantu menghidupi para ODGJ. Ya, ODGJ yang sokongan dananya semakin menipis, yang harapan di-manusiawikan-nya semakin menipis, yang batasan hidup dan ajalnya semakin menipis.

Lalu seorang psikolog datang, membeli sisa ratusan buku itu, sekaligus. Bukan warga Bali atau Indonesia -daerah dan negara asal para ODGJ, daerah dan negara yang konon katanya ramah dan dermawan- melainkan seorang dari negeri nun jauh di sana, Belanda. Sebagai bentuk donasinya, dan terutama perhatiannya, untuk menyebarkan kisah nestapa para ODGJ yang tidak banyak berubah, pun hingga saat ini.

“Semesta akan membawamu ke mana-mana.”

Tumpukan buku menghilang, namun tidak dengan kisah sedih bertahun-tahun para ODGJ beserta keluarganya. Dan cerita tidak lantas berakhir. Lembaran baru dibuka. Photo-book “Hope and Freedom” diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, dan dicetak ribuan eksemplar. Yang akan tersebar ke lebih banyak tempat; tidak Bali, tidak Indonesia, namun Belanda, dan Eropa, dan belahan dunia lainnya. Menggapai lebih banyak orang, membuka lebih banyak mata, menggerakkan lebih banyak hati, mengisi lebih banyak ruang, menguak lebih banyak harapan.

“Karena semesta tercipta dari cerita-cerita.”

NH

Nicky Hogan's avatar
Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.