16 Desember 2025, sore menjelang malam.

Gerimis mengguyur Jakarta. Beberapa pelari -Makece, Damba, Muncip, Nanda di antaranya- yang awalnya berencana berlari di kawasan GBK Jakarta, masih belum “berani” beranjak dari ruang kecil terbuka di depan Gudda Cafe di area Gedung Serba Guna, Senayan. Konon katanya pelari ultra tidak takut hujan -apalagi ini hanya gerimis- tetapi duduk-ngopi-ngeghibah rasanya jauh lebih menyenangkan. Pelari ultra juga manusia, ternyata.

“Ayo dong bikin apa gitu buat Aceh?”
Dan lahirlah “Kilometer for Aceh”.

Charity run. Dua kategori, 25K dengan rute Gudda-Sudirman-Thamrin-Istana-Gambir-Cikini-Kuningan-GatSu-Semanggi-AlAzhar-Gudda, dan 50K untuk 2 loop. Tanggal ditetapkan, 16 Januari 2026 (persis hanya satu bulan persiapan hingga pelaksanaan, artinya harus kerja cepat dan satset kalau tidak mau dihujat gegara kesemrawutan). Biaya pendaftaran disepakati Rp250.000, berharap setelah dikurangi biaya produksi, dapat disisihkan Rp100.000, dengan target 200 peserta, bakal terkumpul Rp20.000.000 untuk didonasikan.

(Bisa dapat apa dari donasi Rp20.000.000 itu? Berdasarkan informasi yang kemudian hari diterima dari CaptAdi dan Team PT Mifa Bersaudara-nya yang selama ini terjun langsung di lapangan, cukup untuk dibelikan alat-alat tulis untuk 45 anak-anak di TK Mutiara Poma, 120 anak-anak SDN 1, 85 anak-anak SDN 2, dan 104 anak-anak SMPN 1 di Beutong Ateuh, Banggalang, Aceh. Anak-anak yang kehilangan -literally- gedung sekolahnya tanpa sisa, beserta rumah-rumah pemukimannya yang lenyap, lahan yang berubah menjadi aliran sungai, hanyut akibat bencana banjir besar yang melanda.)


“Dapat harga special atau free, part of donasi dari Tante Juli?”
“ok free part of donasi trijee ya”
Syukurlah. Terima kasih banyak, Tan. Pos biaya produksi terbesar -jersey lari- berhasil di-nol-kan, artinya angka donasi akan bergerak naik. Lalu, platform pendaftaran dan campaign, juga tidak dikenakan biaya, terima kasih banyak ayobantu dan Agnes. Menyusul, race centre plus refreshment-nya difasilitasi Gudda, dan Coros menyediakan konsumsi. Tiga water station di sepanjang jalur, akan di-support oleh FastTrax, BIB, dan Plan International Indonesia. Yede Media dan Frame Sport meng-handle media sosial dan dokumentasi. Respond Team menyiapkan team medisnya. Bang Lexi, Tande, Kahfi “turun gunung”, beserta barisan marshall-nya. Dan teman-teman pelari yang siap hadir membantu di hari H. Semuanya volunteer, semuanya sukarela. Artinya, biaya produksi nihil! Artinya total biaya pendaftaran yang terkumpul seutuhnya bisa didonasikan! Artinya anak-anak nantinya tidak hanya mendapatkan alat tulis!

(Ada 148 pendaftar akhir, pelari maupun mereka yang tidak berniat berlari di hari H namun tetap ingin berdonasi melalui biaya pendaftaran. Di luar biaya pendaftaran, pelari bisa menambahkan “add-on” donasi, plus melakukan kampanye penggalangan dana. Angka-angka donasi bergerak naik. Angkanya tidak lagi sekadar hanya cukup untuk alat-alat tulis. Seragam untuk 182 anak lelaki dan 172 anak perempuan -lengkap dengan hijabnya- masing-masing 2 stel, kini terjangkau angka donasi. Biaya pendaftaran dan donasi yang masuk, lebih dari lima puluh juta rupiah, cukup untuk membekali anak-anak dengan kebutuhan alat tulis dan seragam, saat belajar bergiliran di tenda darurat.)


16 Januari 2026, malam menjelang tengah malam.

Mendung. Langit tanpa bintang. Aspal di area start masih basah, sisa hujan lebat sore tadi. Jakarta tetap ramai. Seratus dua puluh tujuh pelari, beserta puluhan personel pendukung acara, berbaur, bersatu menyanyikan lagu Indonesia Raya, lalu berdoa. Saat bendera start dikibarkan, semua yang hadir bersyukur -dari total donasi dua ratus juta rupiah lebih yang terkumpul- anak-anak Aceh nun jauh di sana, di sisi barat negeri ini, akan segera mendapatkan alat-alat tulis, akan segera mendapatkan seragam sekolah, dan akan segera mendapat sebuah bangunan sekolah!

NH

Nicky Hogan's avatar
Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.