Aku terkesima dengan keindahan di depan mata. Kawah Ratu. Kawah dengan aliran deras sungai air hangat berasap, berhias serakan bebatuan berwarna hitam, putih, dan kuning belerang. Dipagari rangkaian pepohonan di sana-sini, yang cabang-cabang batangnya menjulang tinggi tanpa dedaunan. Beratap kabut tebal dan tipis, yang datang dan pergi silih berganti ditiup angin. Lelahku menguap, bersama hujan yang mendadak berhenti; semesta menghentikan momentum, tengah menyodorkanku hadiah, sepotong lukisan alam.
Liburan kuliah identik dengan jalan-jalan. Dan untuk kaum pecinta alam, identik dengan menjelajah. Hanya saja perlu tahu-diri dengan ketebalan dompet. Seperti biasa, dalam hal apapun di dunia, uang pada akhirnya menentukan “kasta”. Kasta penjelajahanku adalah kawasan Jawa Barat, tetangga Jakarta, tempat kuliah dan tempat tinggalku. Berbeda dengan beberapa teman yang berkasta lebih tinggi, bisa merambah hingga ke timur Jawa atau bahkan menyeberang pulau.
The show must go on. Rombongan berkasta rendah menggunakan bis antar kota, Jakarta-Bogor, lanjut dengan omprengan ke arah lokasi perkemahan Sukamantri, di kaki Gunung Salak. Menggendong ransel sesak dan berat, menempuh jalan bebatuan, mendaki ke lokasi, tempat kami akan mendirikan tenda untuk bermalam, di antara pohon-pohon pinus. Tenda belum terbangun sempurna, ketika hujan mengguyur, deras. Dingin langsung menusuk ke dalam tubuh, membuat badan menggigil dan tangan yang gemetar ketika menarik tali tenda dan menancapkan pasak-pasak besi ke tanah yang basah. Tidak ada tempat berteduh, tidak ada waktu untuk berpikir nanti saja atau menyerah, tenda harus segera berdiri. Berganti pakaian kering, memasak makan malam, lalu beristirahat. Besok pagi adalah petualangan sesungguhnya, pendakian ke puncak Gunung Salak 2.
Hujan yang sama, dingin yang sama, mengiringi perjalanan kami bertujuh ketika menuruni setapak curam Salak. Tidak banyak waktu dihabiskan tadi di puncak, yang hanya ditandai dengan bongkahan batu trianggulasi, hutan rapat dan minim pemandangan. Tujuan berikutnya adalah Kawah Ratu. Lintasan tidak lagi hanya sekadar jalan bebatuan atau tanah licin. Hujan telah mengubahnya menjadi jalur air, dan itulah yang harus ditempuh ketika meninggalkan puncak dan berpindah punggungan untuk mendaki Kawah Ratu. Masih dalam guyuran hujan deras, tetap di atas jalur air, terus menguras tenaga.
“Penderitaan” yang pada akhirnya dibayar tuntas melalui sepotong lukisan alam. Itulah, mungkin, lambaian dari gunung yang selalu menarik para pendaki untuk datang kembali dan kembali. Namun tidak melulu hanya sekadar “hadiah” yang menanti di puncak gunung. Perjuangan -dan penderitaan- yang harus dilalui untuk mencapainya adalah bagian daripada rangkaian hadiah itu sendiri, tidak tertangkap oleh kamera, tetapi terekam lekat dalam kepala dan jiwa.
Namun tampaknya -sekali ini- penderitaan belum benar-benar selesai. Sore menjelang turun dari kawah, sekali lagi hujan mendera. Tidak kalah deras dengan sebelumnya. Atau bahkan lebih deras. Entahlah. Dingin. Terus bergerak, agar tidak semakin menggigil. Melalui jalur bebatuan yang berbeda dengan saat naik tadi. Perjalanan yang terasa sangat-sangat jauh. Lelah. Hutan dan ilalang di kiri kanan. Di balik tabir air yang terus mengguyur, mata tak henti mencari-cari warung atau rumah penduduk atau “tanda-kehidupan” apapun itu. Dingin dan lelah telah menyatu bersama lapar. Aku butuh segelas teh manis panas. Cukup itu. Ya Allah.
Sore sebentar lagi berganti malam. Sepotong cahaya tampak dari jauh. Dari sebuah rumah, yang berdiri sendiri, bagaikan muncul begitu saja di sana. Di sisi kiri jalan. Memasuki halaman tanah liatnya yang lapang, “Punteennn…” Sepasang suami istri paruh baya menyambut dengan hangat, dan seolah sudah mengerti, membuatkan dan menyajikan teh manis panas. Kehangatan yang masih dan terus memelukku di omprengan pulang, ketika aku lelap dalam bisikan nada-nada sayup: Diraksukan kabaya – Nambihan cahayana – Dangdosan sederhana – Mojang Priangan…
Hari ini aku kembali ke Kawah Ratu. Tidak lagi seperti cerita 38 tahun lalu itu. Tidak berpetualang “lewat” puncak Gunung Salak dulu, melainkan langsung trekking ke kawah. Tidak ada hujan deras, hanya gerimis tipis. Namun, hujan yang kembali berhenti ketika aku mencapai kawah. Lukisan alam itu masih tetap ada di sana. Dalam keindahan abadinya, dalam sunyi kesendiriannya, dalam kesetiaan penantiannya.
Kawah Ratu, 21 Februari 2026
NH