Ultra (Trail) Man

Baru setengah perjalanan, sekitar kilometer 7, aku berhenti melangkah, berusaha menahan erangan sakit. Otot kedua pahaku menarik kencang, kram. Ingin duduk di tanah, hanya saja single-track tidak menyisakan ruang untuk itu, sementara beberapa peserta lain tidak jauh di belakang, terus bergerak maju. Jadilah berdiri, mematung, sambil -pura-pura- menikmati pemandangan, membiarkan peserta lain melewatiku. Bagusnya tidak ada yang bertanya, jadi tidak perlu berbohong.

Read More

THE PERFECT TEARS

Anne menangis. Gluteus, panggul dan pinggul, yang sakit memaksa pelari yang biasanya ceria itu tidak bisa berlari, atau bahkan untuk sekadar berjalan cepat (power walk). Hanya mampu berjalan. Masih sekitar 30 kilometer dari total 108K, dari Soe sampai Kupang, Nusa Tenggara Timur, Jelajah Timur 2023, charity-run untuk penyediaan fasilitas air bersih, yang harus ditempuh. Bersama terik matahari pagi-siang bulan Oktober, bersama lintasan datar-naik-turun, bersama jalanan aspal dan beton yang memanggang. Bersama lelah dan kantuk sejak start sore sebelumnya. Bersama air mata tabah…

Read More

BINTARO

I started talking to myself. Beneran, ngomong-sendiri. Kan sepi sendirian. Berbisik, pastinya tidak sampai berteriak, belum segila itu. (“There is something magical about running; after a certain distance, it transcends the body. Then a bit further, it transcends the mind. A bit further yet, and what you have before you, laid bare, is the soul.” ~ Kristin Armstrong). Kecuali, tentu saja, ketika melewati satu-dua pasangan yang masih belum selesai ber-Malam Minggu duduk-duduk di gundukan rumput dan di atas motor, atau kerumunan-kerumunan kecil anak-anak muda yang nongkrong di trotoar, aku membatin, “Lanjutin di depan aja nanti Nick, pas gak ada orang, tahan sedikit ketidakwarasannya”.
Ketidakwarasan?

Read More